Alhamdulillah, tulisan harian ini sudah tembus tiga minggu. Dan hari ini, saya ingin mendokumentasikan satu kebiasaan yang saya lakukan di kantor: one-on-one kuartalan.
Setiap kuartal saya menyempatkan ngobrol satu per satu dengan tim sekitar 30 menit. Dan ada satu hal yang mungkin terdengar “aneh” buat sebagian orang: di sesi itu, saya sering membuka topik di luar kerjaan—termasuk soal keluarga.
Kalau ngomongin kerjaan, sebenarnya nggak perlu menunggu one-on-one. Kerjaan bisa dibahas kapan pun. Bahkan harusnya memang bisa di-request kapan pun.
Justru karena one-on-one ini jarang (satu kuartal sekali), saya pengennya sesi ini jadi ruang untuk membahas hal lain yang sering tidak kebagian tempat—hal-hal yang ternyata punya pengaruh besar terhadap cara orang bekerja, cara orang mengambil keputusan, dan cara orang bertahan.
Saya paham: tidak semua orang nyaman membahas ranah personal. Dan itu wajar. Kalau mau skip, boleh. Tidak ada kewajiban untuk terbuka.
Tapi ada tiga alasan kenapa saya sering mengangkat topik keluarga.
1) Karena tanggung jawab adalah “magnet” terbesar dalam kerja
Saya percaya salah satu pendorong kerja paling kuat adalah tanggung jawab.
Dan dalam banyak kasus, orang yang sudah berkeluarga memang punya dorongan tanggung jawab yang berbeda dibanding orang yang masih lajang—kecuali dia sedang berada di posisi sandwich generation atau punya tanggung jawab keluarga lain.
Bukan berarti yang lajang kurang serius. Bukan itu. Tapi bentuk dan bobot dorongannya sering berbeda.
Dengan memahami:
- dia sedang memikul tanggung jawab apa,
- fase hidupnya seperti apa,
- dan prioritasnya apa,
saya jadi lebih mudah memberi arahan dan masukan yang realistis. Lebih mudah membantu dia menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan karier.
Karena yang saya hindari adalah memberi saran “ideal” yang tidak relevan dengan realita hidupnya.
2) Karena itu membantu saya berempati pada pilihan yang kadang terlihat “aneh”
Ada keputusan yang kalau dilihat dari kacamata kantor saja, kelihatannya ekstrem atau tidak rasional.
Kenapa seseorang sangat ingin melakukan A?
Kenapa seseorang sama sekali tidak mau melakukan B?
Kalau kita hanya melihat dari sisi profesional, kita mudah menyimpulkan: “kok gitu sih?”
Tapi setelah kita paham konteksnya, keputusan itu jadi lebih masuk akal.
Misalnya:
- posisi dia dalam keluarga,
- kondisi finansial atau tanggungan,
- situasi orang tua,
- pola hidup,
- atau tekanan yang tidak terlihat.
Bukan untuk membenarkan semua hal. Tapi untuk memudahkan kita menerjemahkan: mana yang bisa dinegosiasikan, mana yang tidak, dan bagaimana perusahaan bisa membuat pendekatan yang lebih manusiawi.
Dengan konteks itu, saya bisa lebih adil—bukan berarti sama rata, tapi lebih tepat.
3) Karena trust tidak lahir dari tugas, tapi dari hubungan
Alasan ketiga adalah yang paling penting: engagement dan rasa percaya.
Saya ingin one-on-one ini bukan hanya relasi “bos dan karyawan”, tapi relasi manusia yang saling percaya.
Saya percaya: ketika orang mau berbagi informasi yang bahkan kadang dia sendiri malas membahasnya, itu tanda trust. Dan trust itu berharga.
Karena dengan trust:
- komunikasi jadi lebih jujur,
- konflik lebih cepat dibereskan,
- ekspektasi lebih jelas,
- dan hubungan kerja lebih sehat.
Saya menyebutnya sebagai “transaksi informasi”—dalam arti yang baik: saling berbagi supaya saling mengerti. Bukan untuk dikorek-korek. Tapi supaya ada ruang untuk membela kepentingan yang barengan.
Misalnya:
“Mas, keluarga saya sedang begini. Saya butuh dimengerti di bagian ini.”
Itu bukan drama. Itu konteks. Dan konteks itu membuat kita bisa bekerja lebih matang.
Tentu tetap ada batasnya. One-on-one bukan ruang untuk memaksa orang membuka hal yang dia tidak siap buka. Kalau mau cerita, silakan. Kalau mau skip, aman.
Yang saya harapkan cuma satu: delapan jam sehari dihabiskan di tempat kerja. Rasanya sayang kalau kita hanya jadi orang asing yang kebetulan kerja bareng.
Dan saya percaya: perusahaan yang sehat bukan cuma yang gajinya jalan, tapi juga yang relasinya manusiawi.
Makasih buat teman-teman yang sudah percaya, sudah cerita, dan sudah mau mendengar. Buat saya, itu bukan sekadar obrolan. Itu tanda bahwa kita sedang membangun sesuatu yang lebih kuat dari sekadar target: kepercayaan.
Leave a Reply