Akhirnya saya menyelesaikan buku ke-19 dari target membaca 52 buku tahun ini.
Target awalnya satu minggu satu buku. Namun, buku ini baru selesai setelah lebih dari satu bulan, mungkin sekitar lima minggu.
Kalau melihat targetnya, tentu pencapaian ini sangat buruk.
Sama seperti beberapa postingan yang sempat terlewat, rutinitas membaca juga ikut terhenti. Namun, saya tidak ingin keterlambatan ini menjadi alasan untuk mengakhiri semuanya.
Justru ini bisa menjadi arena untuk comeback.
Mulai membaca lagi, mencari ilmu lagi, dan melanjutkan resolusi yang sempat kehilangan ritme.
Menariknya, buku yang memakan waktu cukup lama ini justru merupakan salah satu buku terbaik versi saya. Buku yang sebenarnya sudah pernah saya selesaikan, lalu saya baca ulang dan ternyata masih terasa sangat kuat seperti sebelumnya.
Buku itu adalah Barking Up the Wrong Tree atau versi Indonesianya, Mendaki Tangga yang Salah, karya Eric Barker.
Buku ini membahas kesuksesan, tetapi tidak memaksakan satu sudut pandang sebagai jawaban untuk semuanya. Banyak teori dipertemukan, dipertentangkan, lalu dijelaskan dalam situasi seperti apa masing-masing bisa bekerja.
Itulah yang membuat buku ini terasa sangat menyenangkan.
1. Kesuksesan Tidak Punya Faktor Tunggal
Banyak buku tentang kesuksesan biasanya menawarkan satu resep.
Kita diminta menjadi lebih disiplin, lebih gigih, lebih percaya diri, lebih pintar membangun relasi, atau lebih keras bekerja.
Buku ini justru menunjukkan bahwa hampir semua faktor bisa dipertentangkan.
Apakah orang yang pintar secara akademik lebih mudah sukses, atau orang yang lebih lihai menghadapi dunia nyata?
Apakah introvert atau ekstrovert yang lebih unggul?
Apakah yang penting adalah apa yang kita tahu, atau siapa yang kita kenal?
Apakah kita harus selalu pantang menyerah, atau justru harus tahu kapan waktunya berhenti?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih salah satu.
Semua karakteristik tersebut bisa membawa seseorang menuju keberhasilan, tergantung konteks, tujuan, lingkungan, dan cara orang tersebut menggunakannya.
Orang yang gigih bisa berhasil karena tidak mudah menyerah. Namun, orang yang tahu kapan harus berhenti juga bisa berhasil karena tidak terus menghabiskan energi pada sesuatu yang sudah tidak bekerja.
Orang introvert bisa unggul dalam fokus dan kedalaman. Orang ekstrovert bisa unggul dalam membangun jejaring dan membuka peluang.
Kesuksesan bukan single factor.
Hal yang bekerja pada satu orang belum tentu bekerja pada orang lain. Dan teori yang terlihat bertentangan bisa sama-sama benar dalam kondisi yang berbeda.
2. Jangan Menunda Mengucapkan Terima Kasih
Salah satu bagian yang paling menempel di kepala saya adalah cerita tentang seseorang yang mengunjungi orang-orang yang pernah memberi kesan besar dalam hidupnya.
Jumlahnya mungkin hanya sekitar 40 orang.
Ia menemui mereka satu per satu, mengucapkan terima kasih, lalu melihat bagaimana respons mereka.
Cerita itu membuat saya berpikir bahwa dalam perjalanan hidup, ada banyak orang yang sebenarnya berjasa kepada kita.
Ada yang memberi kesempatan. Ada yang percaya ketika kita belum percaya kepada diri sendiri. Ada yang membantu dalam diam. Ada juga yang mungkin hanya hadir pada satu momen, tetapi pengaruhnya terus terbawa sampai bertahun-tahun kemudian.
Masalahnya, kita sering merasa masih punya banyak waktu untuk berterima kasih.
Kita menunggu momen yang tepat. Menunggu bertemu lagi. Menunggu punya pencapaian yang lebih besar. Atau merasa orang tersebut pasti sudah tahu bahwa kita menghargainya.
Padahal, belum tentu.
Saya merasa ini bisa menjadi salah satu target selanjutnya dalam hidup: mengucapkan terima kasih secara langsung kepada orang-orang yang pernah berjasa.
Bukan hanya menyimpannya dalam ingatan.
Karena rasa terima kasih yang tidak pernah disampaikan hanya menjadi percakapan yang selesai di dalam kepala sendiri.
3. Kesuksesan Bisa Memakan Kebahagiaan
Bagian lain yang kuat membahas tentang work-life balance.
Kadang-kadang, kesuksesan memang meminta pengorbanan. Kita bekerja lebih lama, mengurangi waktu istirahat, menunda kesenangan, dan mendorong diri sendiri untuk mencapai sesuatu.
Namun, pengorbanan itu bisa berjalan terlalu jauh.
Kita bekerja mati-matian untuk mencari kebahagiaan, tetapi dalam prosesnya justru kehilangan waktu bersama orang-orang yang kita cintai.
Kita mengejar pencapaian, jabatan, pengakuan, atau keamanan finansial. Namun, ketika semuanya didapatkan, belum tentu perasaan bahagia ikut datang.
Sukses bukan berarti bahagia.
Kebahagiaan juga tidak hanya ditentukan oleh kesuksesan, apalagi kalau kesuksesan hanya diukur dari finansial atau pekerjaan.
Ada hubungan yang harus dirawat. Ada kesehatan yang tidak bisa terus ditukar. Ada waktu yang kalau sudah lewat tidak dapat dibeli kembali.
Karena itu, kita perlu jujur pada harga yang sedang dibayar.
Tidak semua pencapaian layak dikejar kalau akhirnya menghabiskan hal-hal yang justru membuat hidup terasa berarti.
Buku yang Layak Dibaca Ulang
Saya menempatkan buku ini sebagai salah satu buku terbaik versi saya karena ia tidak menjual satu teori lalu memaksanya untuk menjawab semua persoalan.
Teori yang satu dipertemukan dengan teori yang lain. Cerita, penelitian, dan pengalaman dirangkai untuk menunjukkan bahwa hidup memang jauh lebih kompleks daripada satu kalimat motivasi.
Daftar pustakanya saja hampir 40 halaman.
Itu cukup menunjukkan betapa banyak sumber yang dirangkum dan diolah menjadi satu buku. Mau dibuka dari bagian mana pun, rasanya selalu ada fakta, cerita, atau perspektif yang menarik.
Respect untuk Eric Barker.
Buku ini bukan hanya membantu saya memikirkan cara mencapai kesuksesan. Ia juga mengingatkan saya untuk mempertanyakan definisi sukses itu sendiri.
Apakah kita sedang menaiki tangga yang benar?
Apakah pencapaian yang dikejar benar-benar membuat hidup lebih baik?
Apakah kita masih punya waktu untuk berterima kasih dan menikmati orang-orang yang menemani perjalanan?
Semoga selesainya buku ke-19 ini bukan hanya menjadi angka tambahan.
Semoga ini menjadi awal untuk menggulirkan kembali kebiasaan membaca, mengejar target satu minggu satu buku, dan terus mencari perspektif yang membuat cara berpikir saya tidak berhenti di satu jawaban.
Karena mungkin keterlambatan memang perlu diakui.
Namun, selama kita masih bersedia membuka halaman berikutnya, perjalanannya belum selesai.
Leave a Reply