Hari ini saya ketemu karyawan baru.
Di tengah obrolan, dia nanya satu pertanyaan yang sederhana, tapi “nempel” di kepala saya:
“Mas, apa yang bikin perusahaan ini bisa sampai tahun ke-9?”
Dia cerita dulu pernah coba bikin usaha juga, tapi nggak lanjut. Jadi pertanyaannya bukan cuma rasa ingin tahu—ada semacam pencarian jawaban: gimana caranya sesuatu bisa bertahan?
Dan lucunya, saya merasa pertanyaan itu juga relevan untuk proyek kecil saya yang baru dimulai: menulis tiap hari di blog ini. Karena kalau saya gagal lagi di tulisan ke-20, mungkin saya perlu balik lagi ke pertanyaan yang sama: apa yang bikin saya bisa bertahan?
Saya jawab dengan tiga hal.
1) Karena Saya Menyukai Pekerjaannya
Ada banyak nasihat soal “kerja keras”, “disiplin”, “grind”, dan sejenisnya. Tapi buat saya, fondasi yang paling awal justru sederhana: saya senang mengerjakannya.
Di dunia kewirausahaan, saya dapat hal-hal yang bikin saya hidup:
- pengalaman baru,
- ketemu orang-orang baru,
- ngerjain hal-hal yang sebelumnya nggak pernah saya sentuh,
- dan ya… tiap hari itu penuh kejutan.
Rasa “menyenangi” ini bukan berarti semuanya selalu enak. Tetap capek, tetap ada tekanan, tetap banyak masalah. Tapi ada sesuatu yang bikin saya mau balik lagi besoknya.
Harapannya, energi yang sama bisa kebawa ke tulisan.
Saya mau belajar menyenangi proses nulis ini bukan karena harus, bukan karena tuntutan orang, tapi karena saya ingin punya:
- karya,
- catatan,
- jejak pikiran,
- dan arsip hidup yang bisa saya rujuk lagi di masa depan.
Saya pengen suatu hari bisa buka blog ini dan bilang: “Oh, di fase itu saya kepikiran ini.”
Bukan buat menggurui orang lain, tapi buat merawat memori dan pemahaman saya sendiri.
2) Karena Ada Kesabaran
Hal yang sering bikin orang berhenti itu bukan karena “nggak bisa”, tapi karena ekspektasinya keburu tinggi.
Kalau dari awal kita mengejar sesuatu yang besar—hasil yang cepat, angka yang tinggi, validasi yang ramai—lalu kenyataannya belum ada yang kelihatan, kita gampang banget putus asa. Pikiran jadi: “Mending ngerjain yang lain aja.”
Di perjalanan membangun perusahaan, saya belajar bahwa banyak hal itu bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling sanggup bertahan cukup lama sampai momentumnya ketemu.
Kadang ada yang mendukung, ada yang mengapresiasi, ada yang bilang idenya bagus. Tapi tetap aja: momentum itu nggak selalu muncul cepat.
Dan saya rasa, tulisan pun sama.
Blog ini dari awal bukan targetnya viral. Bukan untuk jadi “top voice”. Bukan untuk jadi tokoh inspiratif.
Saya cuma pengen menulis apa yang ingin saya baca.
Kesabaran yang saya maksud adalah keyakinan pelan-pelan: ini hal yang baik, ini hal yang benar, dan saya mau jalan dulu meski hasilnya belum kelihatan.
3) Karena Konsisten, Lalu Adaptif
Poin ketiga ini mungkin yang paling sering dibahas orang: konsistensi.
Tapi buat saya, konsistensi itu bukan tentang perfeksionisme. Bukan tentang “harus keren tiap hari”. Lebih ke: kerjain dulu yang bisa dikerjain.
Hari demi hari.
Dikerjakan.
Dievaluasi.
Diperbaiki.
Di perusahaan, saya merasa yang bikin bertahan bukan cuma konsisten, tapi juga adaptif—punya daya penyesuaian terhadap kondisi. Dunia berubah, kebutuhan berubah, tim berubah, strategi harus upgrade.
Kalau kaku, patah.
Kalau adaptif, kita bisa tetap jalan.
Dan saya pengen menulis dengan prinsip yang sama: yang penting konsisten dulu, lalu cari formula yang makin relevan. Makin enak dibaca. Makin punya manfaat. Tapi urutannya jangan kebalik: jangan nunggu sempurna baru mulai.
Jadi kalau saya rangkum jawaban untuk karyawan baru itu—dan sekaligus saya tulis ulang untuk diri saya sendiri:
- Senang melakukannya
- Sabar menunggu prosesnya
- Konsisten, lalu adaptif (upgrade, menyesuaikan diri)
Semoga perusahaan ini bisa lebih panjang dari 9 tahun.
Dan semoga blog ini juga nggak berhenti di tulisan ke-20 lagi.
Bismillah, lanjut ke hari berikutnya.
Leave a Reply