Hari 196: Tracker Bukan Tempat Setor

Saya mencoba menyusun OKR tracker agar semua upaya untuk mencapai tujuan bisa terlihat dan diperiksa secara berkala.

Harapannya sederhana. Kita tidak hanya tahu target akhirnya, tetapi juga bisa melihat apakah langkah-langkah yang dilakukan benar-benar membawa kita mendekati tujuan tersebut.

Namun, tracker sering kali hanya dimaknai sebagai tempat setor data.

Tim mengisi angka karena diminta. Setelah itu, angkanya dibaca sekilas, dilaporkan, lalu ditinggalkan sampai periode berikutnya.

Padahal, nilai utama sebuah tracker bukan pada seberapa lengkap kolomnya terisi.

Nilainya ada pada keputusan apa yang berubah setelah kita membaca datanya.

1. Jangan Menunggu Akhir

Tanpa pengukuran berkala, kita mungkin baru sadar tidak mencapai target ketika periodenya sudah selesai.

Pada akhir kuartal atau akhir tahun, angkanya dibuka. Ternyata hasilnya jauh dari harapan. Masalahnya, pada titik itu, ruang untuk memperbaiki sudah sangat kecil.

Tracker membantu kita mengetahui posisi saat perjalanan masih berlangsung.

Kita bisa melihat progres mana yang berjalan sesuai rencana, bagian mana yang mulai tertinggal, dan target mana yang membutuhkan perhatian lebih cepat.

Dengan begitu, evaluasi tidak hanya dilakukan setelah semuanya selesai.

Evaluasi menjadi bagian dari proses berjalan.

Sedikit penyimpangan pada satu minggu mungkin terlihat kecil. Namun, kalau dibiarkan berulang selama berbulan-bulan, jaraknya bisa menjadi sangat jauh.

Karena itu, tracker bukan alarm yang baru berbunyi ketika semuanya terlambat.

Ia seharusnya menjadi kompas yang terus membantu kita memastikan arah.

2. Angka Baik Perlu Dibesarkan

Tracker tidak hanya membantu kita melihat masalah.

Angka yang baik juga memberikan petunjuk tentang apa yang layak diteruskan dan dibesarkan.

Misalnya, kita melakukan satu intervensi tertentu pada minggu ini. Setelah itu, ada indikator yang naik. Kalau pola yang sama terlihat beberapa kali, kita mulai punya dasar bahwa intervensi tersebut mungkin memang efektif.

Dari sana, kita bisa mengambil keputusan yang lebih percaya diri.

Apakah pendekatan ini perlu diulang? Apakah resource-nya perlu ditambah? Apakah praktiknya bisa diterapkan oleh divisi lain? Apakah skalanya bisa diperbesar?

Tanpa catatan historis, kita hanya mengandalkan ingatan dan perasaan.

Kita merasa sesuatu pernah berhasil, tetapi tidak benar-benar tahu apa yang dilakukan, kapan dilakukan, dan seberapa besar pengaruhnya.

Tracker membuat keberhasilan tidak berhenti sebagai cerita.

Ia membantu kita mengenali pola yang bisa direplikasi.

3. Angka Buruk Bukan Vonis

Sebaliknya, angka yang turun sering langsung dianggap sebagai kegagalan.

Tim merasa dinilai tidak mampu. Manajer mulai mencari siapa yang salah. Akhirnya, orang takut mengisi data dengan jujur karena angka buruk dianggap sebagai ancaman.

Padahal, angka yang jelek seharusnya menjadi awal pertanyaan, bukan akhir penilaian.

Apa yang sudah dilakukan minggu ini? Intervensi mana yang ternyata tidak bekerja? Apakah resource-nya kurang? Apakah asumsinya salah? Apakah ada perubahan situasi yang belum kita perhitungkan?

Dari sana, kita bisa mencari alternatif.

Mungkin caranya perlu diganti. Mungkin target antara perlu disesuaikan. Mungkin ada proses yang harus dihentikan karena tidak menghasilkan apa-apa.

Angka rendah memang menunjukkan ada sesuatu yang kurang.

Namun, fungsinya bukan sekadar mempermalukan kekurangan tersebut. Fungsinya adalah membantu kita menemukan bagian mana yang harus diperbaiki.

Kalau tracker hanya digunakan untuk menghakimi, orang akan belajar menyembunyikan masalah.

Kalau tracker digunakan untuk belajar, orang akan lebih berani menunjukkan kenyataan.

Ukur untuk Mengubah Arah

Mau menggunakan OKR tracker, scoreboard, dashboard, atau alat bantu apa pun, tujuannya seharusnya bukan hanya mengumpulkan angka.

Kita mengukur untuk melakukan kalibrasi.

Apakah kita masih berada di jalan yang benar? Apakah kecepatannya cukup? Apakah ada pendekatan yang perlu dibesarkan? Apakah ada strategi yang perlu dihentikan atau diganti?

Tujuan besar memang penting. Namun, menatap tujuan terus-menerus tidak otomatis membuat kita sampai ke sana.

Kita tetap harus memeriksa posisi, membaca perubahan, dan mengoreksi arah selama perjalanan.

Karena penyimpangan besar jarang terjadi dalam satu hari.

Biasanya ia dimulai dari penyimpangan kecil yang tidak pernah diperiksa.

Tracker seharusnya membuat kita tidak takut pada angka.

Namun, tracker juga tidak boleh berhenti pada kegiatan mengukur.

Angka harus menghasilkan pembelajaran. Pembelajaran harus menghasilkan keputusan. Dan keputusan harus membuat cara kerja berikutnya menjadi lebih baik.

Kalau tidak, tracker hanya menjadi tempat setor data yang lebih rapi.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *