Ketika perusahaan membuka ruang bagi tim untuk menyampaikan ide, gagasan, dan inisiatif, ada satu pola yang cukup sering terjadi.
Semua ide terasa penting. Semua inisiatif dianggap mendesak. Semua keputusan ingin dinaikkan sampai ke level CEO.
Dari sisi kehati-hatian, mungkin ini terasa aman. Tim merasa sudah mendapat persetujuan dari level tertinggi sehingga lebih percaya diri untuk menjalankannya.
Namun, kalau semua hal harus sampai ke CEO, organisasi justru akan kehilangan kemandirian.
CEO menjadi titik persetujuan untuk terlalu banyak hal. Manajer tidak benar-benar berfungsi sebagai pengambil keputusan. Tim juga tidak terbiasa menilai seberapa besar tanggung jawab yang sebenarnya masih bisa mereka pegang sendiri.
Karena itu, bukan hanya ide yang perlu dinilai. Level pengambilan keputusannya juga perlu ditentukan.
1. CEO Menangani Hal Besar
Tidak semua inisiatif perlu melibatkan CEO.
Hal-hal yang naik ke CEO seharusnya memang punya konsekuensi yang besar. Misalnya membutuhkan budget besar, melibatkan banyak divisi, memengaruhi arah strategis perusahaan, membawa risiko reputasi, atau merupakan sesuatu yang benar-benar baru.
Pada kondisi seperti itu, keputusan tidak hanya menyangkut bagaimana program dijalankan.
Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh organisasi secara keseluruhan. Ada sumber daya yang perlu dialokasikan. Ada prioritas lain yang mungkin harus dikurangi. Ada pula risiko yang harus disadari sejak awal.
Di sinilah keterlibatan CEO menjadi relevan.
Bukan karena CEO harus mengatur seluruh detailnya, tetapi karena ada keputusan besar yang memang membutuhkan pandangan lintas organisasi dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab akhirnya.
Kalau semua hal kecil ikut dinaikkan, perhatian CEO justru habis sebelum sampai ke keputusan yang benar-benar penting.
2. Manajer Harus Bisa Memutuskan
Di dalam organisasi, setiap level seharusnya punya ruang keputusan.
Kalau sebuah inisiatif sifatnya rutin, hanya melibatkan satu divisi, menggunakan budget kecil, dan risikonya masih dapat dikendalikan, manajer seharusnya bisa memutuskan.
Itulah salah satu alasan posisi manajer ada.
Manajer bukan hanya meneruskan informasi dari staf ke CEO, lalu meneruskan keputusan CEO kembali kepada staf. Manajer juga harus mampu menilai, memprioritaskan, dan mengambil tanggung jawab pada level divisinya.
Kalau semua keputusan tetap naik, birokrasi menjadi lebih panjang.
Tim menunggu. Manajer menunggu. CEO menerima terlalu banyak permintaan. Padahal, sebagian besar persoalan sebenarnya bisa selesai lebih cepat di level terdekat.
Delegasi bukan hanya membagi pekerjaan.
Delegasi juga berarti membagi kewenangan untuk mengambil keputusan.
Kalau seseorang diberi tanggung jawab tetapi tidak diberi ruang memutuskan, yang diberikan sebenarnya hanya beban, bukan kepercayaan.
3. Eskalasi Adalah Soal Tanggung Jawab
Keputusan perlu dinaikkan bukan semata-mata karena masalahnya sulit.
Ada masalah yang rumit tetapi masih bisa diselesaikan di level divisi. Sebaliknya, ada keputusan yang terlihat sederhana tetapi punya risiko besar bagi perusahaan.
Karena itu, alasan utama eskalasi seharusnya adalah besarnya tanggung jawab yang harus diambil.
Kalau staf belum memiliki kewenangan untuk menanggung risikonya, keputusan bisa dinaikkan ke manajer. Kalau manajer juga tidak dapat menanggung konsekuensi lintas divisi, finansial, legal, atau reputasinya, keputusan perlu dibawa ke CEO.
Dengan begitu, CEO tidak hanya berfungsi sebagai pemberi izin.
CEO menjadi pihak yang secara sadar menerima konsekuensi dari keputusan tersebut.
Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, risiko itu sudah dibahas sejak awal. Bukan baru dicari siapa yang bersalah setelah semuanya terjadi.
Eskalasi yang sehat bukan cara melepaskan tanggung jawab.
Ia adalah cara memastikan tanggung jawab berada pada level yang memang memiliki kewenangan untuk menanggungnya.
Naik Bersama Tanggung Jawab
Organisasi yang sehat perlu mengetahui keputusan apa yang bisa diambil oleh staf, mana yang perlu melibatkan manajer, dan mana yang harus sampai ke CEO.
Tidak semua persoalan penting. Tidak semua hal mendesak. Dan tidak semua ide membutuhkan persetujuan tertinggi.
Semakin banyak keputusan yang bisa diselesaikan pada level terdekat, semakin cepat organisasi bergerak.
Namun, kemandirian juga harus tumbuh bersama tanggung jawab.
Tim perlu belajar bahwa mengambil keputusan berarti siap menjelaskan pertimbangannya, menjaga pelaksanaannya, dan menerima evaluasi atas hasilnya.
Kapasitas seseorang tidak hanya meningkat ketika ia mendapat pekerjaan yang lebih besar.
Kapasitas juga meningkat ketika ia mulai berani mengambil keputusan dan menanggung konsekuensi yang lebih besar.
Jadi, tujuan akhirnya bukan memastikan semua hal sampai ke CEO.
Tujuannya adalah memastikan setiap keputusan berhenti pada level paling rendah yang sudah cukup mampu dan berwenang untuk mempertanggungjawabkannya.
Leave a Reply