Hari 18: [Buku 2] Leadership and the One Minute Manager — Memimpin Itu Situasional

Hari Minggu seperti biasa saya pakai untuk checkpoint resolusi 2026: 1 minggu selesai 1 buku.

Buku kedua yang saya tamatkan tahun ini adalah Leadership and the One Minute Manager karya Ken Blanchard.

Kenapa saya baca buku ini?
Karena saya makin sering dengar istilah Situational Leadership, dan ketika pertama kali ngulik, saya langsung merasa: “oh ini masuk akal.”

Selama ini banyak orang membayangkan leader itu cuma dua tipe:

  • yang supportive (menguatkan, hadir, mendukung), atau
  • yang directive (mengarahin, mendorong, menuntut standar).

Tapi setelah dipikir, kita nggak mungkin pakai satu gaya yang sama untuk semua orang, semua situasi, semua pekerjaan. Dan buku ini menyusun itu dengan cara yang sangat ringan dan praktis.

Ada tiga takeaway yang paling saya bawa pulang.


1) Ini buku tipis, tapi cara menulisnya “ngena”

Pertama yang bikin saya suka: bentuk penuturannya.

Buku ini tidak tebal. Halamannya juga tidak “padat” seperti buku yang isinya paparan teori dan jurnal. Cara bercerita lebih seperti kisah + dialog.

Plotnya begini: ada seorang entrepreneur yang datang ke seorang “One Minute Manager”. Lalu mereka ngobrol, si entrepreneur ketemu beberapa staf, dan dari situ terjadi tanya-jawab yang terasa seperti sesi mentoring.

Yang menarik, pertanyaan si entrepreneur itu sering mewakili pertanyaan saya sebagai pembaca:
kontekstual, realistis, dan “itu banget yang pengen saya tanya”.

Buat saya, ini salah satu contoh buku leadership yang nggak terasa menggurui, tapi terasa kayak diajak konsul.


2) Intinya: gaya memimpin harus berubah sesuai situasi

Ini inti bukunya: leader perlu fleksibel—kadang harus lebih direktif, kadang harus lebih suportif—tergantung situasi dan kondisi orangnya (dan tugasnya).

Di buku ini ada empat kondisi (S1 sampai S4):

S1 — Directing

Fase awal. Orang belum percaya diri dan belum punya kemampuan yang cukup untuk tugas itu.
Maka leader perlu mengarahkan dengan jelas: apa yang harus dilakukan, langkahnya apa, standar suksesnya apa.

S2 — Coaching

Orang mulai punya kemampuan, tapi masih butuh banyak arahan + dukungan.
Di sini leader perlu mengarahkan sekaligus menyemangati. Banyak tanya-jawab terjadi di fase ini karena orang mulai “mudeng” dan mulai punya opini.

S3 — Supporting

Kompetensi makin naik, tapi kepercayaan diri kadang belum stabil.
Di sini leader lebih banyak support: memberi dorongan, validasi, membantu orang mengambil keputusan, bukan mengarahkan dari nol.

S4 — Delegating

Fase matang. Orang kompeten dan percaya diri.
Leader bisa mendelegasikan penuh. Tinggal cek progress, hasil, dan memberi arahan baru—bukan mengulang hal yang sudah bisa.

Buat saya, pembeda terbesarnya adalah: kita jadi lebih paham kapan harus hands-on dan kapan harus hands-off.


3) Insight yang paling saya suka: orang yang sama bisa beda fase di tugas yang berbeda

Ini bagian yang paling “ngebuka mata” buat saya.

Selama ini saya sempat punya asumsi: orang yang sama ya gaya memimpinnya sama. Kalau dia jago ya dilepas, kalau dia belum jago ya diarahkan.

Ternyata nggak sesederhana itu.

Orang yang sama bisa:

  • S4 di tugas A (sudah matang),
  • tapi masih S1 di tugas B (baru mulai),
  • S2 di tugas C,
  • S3 di tugas D.

Karena yang dinilai itu bukan “orangnya” saja, tapi kombinasi orang + tugas.

Begitu paham ini, kita bisa:

  • lebih adil dalam memberi arahan,
  • lebih tepat dalam memberi support,
  • dan lebih cepat menemukan “power” seseorang ada di mana, serta “PR”-nya ada di mana.

Dan ini juga realistis buat perusahaan yang terus berkembang: jobdesc terus berubah, tantangan baru muncul, selalu akan ada “tugas S1” yang lahir lagi. Maka skill leader adalah menggeser orang dari S1 → S4 seefisien mungkin, supaya tim bertumbuh dan leader punya ruang untuk mengerjakan hal lain.


Penutup: buku ringan yang bisa langsung dipakai

Saya tamat buku ini sekitar 2 jam. Memang ringan. Tapi justru karena ringan dan dialognya natural, ide-idenya gampang nempel dan gampang dipakai.

Kalau saya rangkum satu kalimat:

Memimpin itu bukan soal kamu “tipe supportive” atau “tipe directive”. Tapi soal kamu bisa jadi keduanya—di orang yang tepat, tugas yang tepat, waktu yang tepat.

Sampai jumpa Minggu depan untuk buku ketiga.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *