Hari 166: Tidak Semua Langsung Revenue

Masih dalam rangka menjawab problem-problem yang sering terjadi.

Kali ini problemnya adalah: banyak plan terlihat bagus, tapi tidak terasa nyambung ke revenue.

Ini masalah klasik ketika membuat plan untuk perusahaan. Apalagi perusahaan yang memang didirikan untuk menghasilkan revenue. Pada akhirnya, semua orang akan bertanya: ini dampaknya ke bisnis apa? Ini nyambung ke revenue atau tidak? Ini membantu perusahaan tumbuh atau hanya aktivitas yang terlihat bagus?

Pertanyaan itu valid.

Karena perusahaan memang perlu menghasilkan pendapatan. Tidak bisa semua hal hanya terlihat menarik di atas kertas, tapi tidak memberi kontribusi apa pun ke tujuan besar perusahaan.

Tapi di sisi lain, kita juga perlu hati-hati.

Karena tidak semua pekerjaan di perusahaan bisa ditarik secara langsung ke revenue dalam satu garis lurus.

Ada pekerjaan yang memang direct. Ada juga pekerjaan yang indirect. Keduanya tetap penting, asal kontribusinya bisa dijelaskan.

1. Tidak Semua Divisi Direct ke Revenue

Hal pertama yang perlu dipahami adalah ketika perusahaan sudah punya banyak unit, banyak divisi, dan banyak tim, revenue tidak mungkin menjadi pekerjaan direct semua orang.

Ada divisi yang memang berada di garis depan revenue. Misalnya sales, business development, partnership, atau tim yang langsung berhubungan dengan klien dan transaksi.

Tapi ada juga divisi yang tugasnya tidak langsung menghasilkan revenue.

Ada tim yang mengurus operasional.
Ada yang memastikan produk siap.
Ada yang menjaga kualitas delivery.
Ada yang membangun brand.
Ada yang mengelola administrasi.
Ada yang menjaga sistem.
Ada yang membuat perusahaan tetap berjalan dengan rapi.

Kalau strategi datang dari divisi yang memang tidak direct ke revenue, bukan berarti strateginya otomatis salah.

Masalahnya bukan apakah semua divisi bisa menghasilkan revenue langsung.

Masalahnya adalah apakah setiap divisi memahami kontribusinya terhadap perusahaan.

Karena kalau semua divisi dipaksa punya ukuran revenue langsung, bisa jadi kita malah mengabaikan pekerjaan-pekerjaan penting yang membuat revenue itu mungkin terjadi.

Tidak semua orang harus menjual.

Tapi semua orang perlu tahu bagaimana pekerjaannya membantu perusahaan tetap bisa menjual, melayani, dan bertumbuh.

2. Yang Tidak Direct Harus Punya Koneksi Indirect

Hal kedua, walaupun sebuah strategi tidak direct ke revenue, koneksi indirect-nya tetap harus jelas.

Kita perlu bisa menjawab: kenapa tugas ini penting?

Apakah untuk menyiapkan produk agar lebih siap dijual?
Apakah untuk meningkatkan trust calon klien?
Apakah untuk memperluas pesan perusahaan?
Apakah untuk memperbaiki pengalaman pelanggan?
Apakah untuk membuat delivery lebih konsisten?
Apakah untuk menurunkan risiko komplain?
Apakah untuk mempercepat proses kerja tim lain?

Mungkin semua itu tidak langsung menjadi revenue hari ini.

Tapi tetap bisa menjadi penopang revenue.

Misalnya, konten tidak selalu langsung menghasilkan transaksi. Tapi konten bisa membangun awareness dan trust. Produk baru tidak langsung menghasilkan uang. Tapi produk yang siap bisa memperbesar peluang deal. Operasional yang rapi tidak selalu terlihat di depan. Tapi delivery yang baik bisa membantu retensi dan repeat order.

Jadi pertanyaannya bukan hanya: apakah ini menghasilkan revenue langsung?

Tapi juga: apakah ini membuat revenue lebih mungkin terjadi?

Kalau kontribusi tidak langsungnya bisa dijelaskan, maka strategi itu masih punya tempat.

Namun kalau tidak direct, tidak indirect, dan tidak bisa dijelaskan hubungannya dengan tujuan perusahaan, baru itu perlu dipertanyakan.

3. Gunakan Ukuran Selain Revenue

Hal ketiga, kalau sebuah strategi bagus tapi tidak langsung direct ke revenue, kita bisa memakai ukuran lain.

Revenue penting. Tapi revenue bukan satu-satunya ukuran untuk menilai semua inisiatif.

Ada hal-hal yang bisa diukur dari reach.
Ada yang bisa diukur dari view.
Ada yang bisa diukur dari follower.
Ada yang bisa diukur dari engagement.
Ada yang bisa diukur dari partnership.
Ada yang bisa diukur dari trust.
Ada yang bisa diukur dari akses ke tokoh, komunitas, media, atau stakeholder tertentu.

Ukuran-ukuran seperti ini tetap bisa relevan, selama kita tahu kenapa angka itu penting.

Follower yang naik tidak otomatis bagus kalau tidak ada hubungannya dengan audiens yang kita butuhkan. Partnership yang besar juga tidak otomatis penting kalau tidak membuka peluang apa pun. Reach tinggi juga bisa sia-sia kalau pesannya tidak tepat.

Jadi ukuran selain revenue tetap boleh dipakai, tapi harus tetap punya logika kontribusi.

Kalau tujuannya awareness, ukur awareness.
Kalau tujuannya trust, ukur indikator trust.
Kalau tujuannya partnership, ukur kualitas hubungan dan peluang lanjutannya.
Kalau tujuannya kesiapan produk, ukur progres produk dan dampaknya ke proses jual atau delivery.

Dengan begitu, strategi yang tidak direct ke revenue tetap bisa dievaluasi secara adil.

Bukan dipaksa jadi revenue, tapi juga tidak dibiarkan tanpa ukuran.

Yang Penting Tetap Ada Kontribusi

Recap-nya begini.

Kalau ada strategi yang tidak direct ke revenue, bukan berarti strategi itu otomatis salah. Perusahaan tetap membutuhkan banyak pekerjaan paralel yang mendukung revenue dari sisi lain.

Tapi kita juga tidak boleh menutup mata dan telinga.

Harus tetap ada strategi yang memang menghasilkan revenue secara langsung. Harus tetap ada tim yang bertanggung jawab atas penjualan, deal, retensi, dan pertumbuhan pendapatan.

Di sisi lain, inisiatif lain tetap perlu berjalan untuk menopang itu semua.

Karena revenue jarang lahir dari satu strategi saja.

Revenue bisa datang dari sales yang kuat, produk yang siap, brand yang dipercaya, operasional yang rapi, relasi yang luas, dan pengalaman pelanggan yang baik.

Yang penting, setiap strategi tahu kontribusinya.

Kalau direct, tunjukkan jalurnya ke revenue.

Kalau indirect, jelaskan bagaimana ia mendukung revenue.

Kalau tidak direct dan tidak indirect, mungkin memang perlu dipikirkan ulang.

Karena plan yang bagus bukan hanya yang terlihat menarik.

Plan yang bagus adalah yang tahu perannya dalam menggerakkan perusahaan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *