Hari 157: Empat Tahun Menjadi Orang Tua

Hari ini tanggal 6 Juni 2026.

Tanggal 6-6-26. Tanggal cantik yang mungkin banyak dipakai pasangan untuk menikah. Tapi bagi saya, tanggal ini punya arti yang lebih personal.

Empat tahun lalu, anak perempuan saya lahir di tanggal 6 bulan 6.

Hari ini adalah ulang tahunnya yang keempat.

Ada rasa syukur yang besar sekali bisa sampai di titik ini. Tidak selalu mudah. Banyak perjuangan, banyak adaptasi, banyak hari yang rasanya panjang. Tapi juga banyak bahagia yang mungkin tidak bisa selalu dijelaskan dengan kalimat yang rapi.

Membesarkan anak ternyata bukan cuma tentang momen lucu, foto bagus, atau video pendek yang bisa diunggah. Ada 24 jam kehidupan yang naik turun, berubah-ubah, dan kadang tidak bisa ditebak.

Di usia empat tahun ini, saya jadi banyak belajar tentang menjadi orang tua.

1. Anak Sendiri Rasanya Berbeda

Sebelum punya anak, kita sering melihat anak orang lain.

Lewat konten. Lewat cerita teman. Lewat potongan video lucu, potongan anak tantrum, atau potongan momen manis yang kelihatannya menggemaskan sekali.

Tapi ketika punya anak sendiri, rasanya berbeda.

Karena yang kita lihat bukan lagi potongan.

Kita menjalani semuanya.

Kita melihat senangnya, capeknya, lucunya, rewelnya, pintarnya, bingungnya, aktifnya, dan semua perubahan kecil yang terjadi setiap hari.

Hidup bersama anak tidak pernah flat.

Ada hari yang menyenangkan sekali. Ada hari yang melelahkan sekali. Ada hari yang penuh tawa. Ada juga hari ketika kita belajar sabar berkali-kali dalam waktu yang sangat pendek.

Dari luar, orang bisa melihat anak sebagai momen. Tapi sebagai orang tua, anak adalah kehidupan yang berjalan penuh, bukan sekadar cuplikan.

2. Usia Empat Tahun Butuh Hadir

Di usia empat tahun, anak sedang aktif-aktifnya.

Suka lari ke sana-sini. Suka bertanya. Suka bicara. Suka mencoba hal baru. Suka punya energi yang kadang rasanya tidak habis-habis.

Dan di usia seperti ini, perhatian orang tua jadi sangat penting.

Bukan cuma hadir secara fisik, tapi juga hadir secara rasa.

Anak perlu merasa didengar. Perlu merasa dilihat. Perlu merasa didukung. Perlu merasa bahwa orang tuanya ada, bukan hanya lewat di sela-sela pekerjaan.

Ini menjadi tantangan tersendiri untuk orang tua yang setiap hari juga punya pekerjaan.

Ada tanggung jawab profesional. Ada target. Ada meeting. Ada masalah yang harus diselesaikan. Tapi di rumah, ada anak yang juga butuh perhatian penuh.

Dan mungkin di situlah sulitnya.

Bukan memilih antara kerja atau anak. Tapi bagaimana tetap menjadi orang tua yang hadir, meskipun hidup juga punya banyak tuntutan lain.

Karena bagi anak, perhatian kecil bisa terasa besar.

Didengar sebentar, diajak bicara, ditemani bermain, dilihat gambarnya, dijawab pertanyaannya, kadang sesederhana itu bentuk support yang dia butuhkan.

3. Ini Baru Awalnya

Empat tahun terasa cepat kalau dilihat dari angka.

Tapi kalau dijalani, ternyata panjang sekali.

Ada banyak malam, banyak pagi, banyak tangis, banyak tawa, banyak foto, banyak momen kecil yang mungkin tidak semuanya bisa saya ingat satu per satu.

Untungnya, galeri handphone membantu menyimpan sebagian.

Foto-foto itu seperti pengingat bahwa waktu benar-benar berjalan. Anak yang dulu kecil sekali, sekarang sudah bisa berlari, bicara, memilih, bertanya, dan punya dunianya sendiri.

Tapi empat tahun juga baru awal.

Masih ada perjalanan panjang setelah ini. Sekolah, bertumbuh, berteman, belajar, mungkin nanti kuliah, bekerja, menikah, dan apapun jalan hidup yang akan dia pilih.

Sebagai orang tua, rasanya tidak mungkin semua masa depan itu dikontrol. Tapi yang bisa dilakukan adalah menikmati momen demi momen.

Hadir di waktu yang sekarang. Menghargai proses yang sedang terjadi. Tidak terlalu cepat ingin anak besar, tapi juga tidak lupa bahwa waktu akan terus bergerak.

Karena kadang kita baru sadar sebuah momen berharga setelah momennya lewat.

Menjadi Orang Tua Berarti Bertanggung Jawab

Bagi siapapun yang sedang berencana punya anak, saya rasa ada satu hal yang perlu benar-benar disadari.

Konsekuensi dari punya anak adalah menjadi orang tua.

Bukan hanya punya bayi lucu. Bukan hanya punya momen keluarga. Bukan hanya punya foto ulang tahun.

Tapi menjadi orang tua dalam semua perannya.

Peran yang menyenangkan. Peran yang melelahkan. Peran yang membanggakan. Peran yang menguji sabar. Peran yang kadang membuat bingung. Peran yang menuntut kita terus belajar.

Anak tidak hanya butuh kita ketika mereka lucu.

Anak juga butuh kita ketika mereka menangis, marah, bingung, aktif, bertanya tanpa henti, atau membutuhkan perhatian saat kita sedang lelah.

Dan mungkin itulah bagian paling serius dari menjadi orang tua.

Kita tidak bisa hanya mengambil bagian yang indah. Kita perlu bertanggung jawab atas semuanya.

Hari ini, di ulang tahun putri saya yang keempat, saya bersyukur bisa melewati sejauh ini.

Semoga saya bisa terus belajar menjadi orang tua yang lebih hadir, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab.

Karena anak bertumbuh setiap hari.

Dan orang tua juga seharusnya ikut bertumbuh bersamanya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *