Hari 151: Pendek Tapi Berbobot

Saatnya menutup minggu dengan sebuah buku.

Kali ini saya membaca buku fiksi, kumpulan cerpen berjudul Bakat Menggonggong dari Dea Anugrah.

Buku ini saya pilih karena saya ingin mengembalikan minat baca saya. Setelah bulan Mei yang terasa cukup sulit untuk konsisten, saya butuh buku yang tidak terlalu tebal, tidak terlalu mengintimidasi, dan bisa selesai dalam hitungan jam.

Kadang untuk kembali ke kebiasaan yang sempat hilang, kita tidak perlu langsung mengambil tantangan besar.

Cukup mulai dari sesuatu yang memungkinkan untuk diselesaikan.

Buku tipis, tapi selesai.

Bacaan pendek, tapi masuk.

Mungkin itu cara saya menutup bulan yang berat ini. Semoga bisa ditebus di bulan-bulan berikutnya.

Dari membaca kumpulan cerpen ini, ada tiga hal yang saya sadari tentang cerpen.

1. Cerpen Itu Kuat

Hal pertama yang saya sadari: cerpen punya kekuatan yang hebat sekali.

Berbeda dengan novel, apalagi novel tebal, cerpen tidak punya banyak ruang untuk menjelaskan semuanya panjang-panjang.

Kadang satu cerita hanya dua halaman, lima halaman, atau tujuh halaman. Sangat singkat.

Tapi justru karena terbatas, cerpen dipaksa untuk padat. Ia harus menaruh cerita, tokoh, suasana, masalah, dan rasa dalam ruang yang kecil.

Dan menariknya, ketika dibaca, isinya tetap terasa luas.

Bahkan beberapa kali saya merasa, “Ini sebenarnya bisa jadi satu novel sendiri.”

Tapi ternyata tidak harus.

Cerita itu tetap bisa dipotong pendek, tapi pembaca tetap mendapatkan sesuatu. Tetap ada dunia yang terbuka. Tetap ada rasa yang tertinggal. Tetap ada pikiran yang ikut berjalan setelah ceritanya selesai.

Menurut saya, di situ kekuatan cerpen.

Ia tidak perlu panjang untuk terasa dalam.

2. Singkat Tapi Lengkap

Hal kedua, cerpen yang baik ternyata tetap bisa terasa lengkap.

Ada tokoh.

Ada masalah.

Ada suasana.

Ada arah cerita.

Bahkan ada plot twist yang muncul di akhir.

Padahal ruangnya pendek sekali.

Di cerita panjang, kita mungkin punya banyak waktu untuk mengenalkan tokoh, membangun konflik, memberi konteks, lalu membawa pembaca ke titik akhir.

Tapi di cerpen, semua itu harus dilakukan dengan jauh lebih hemat.

Dan yang menarik, dalam buku ini, beberapa cerita tetap bisa memberi efek “oh ternyata begitu” hanya lewat satu paragraf terakhir.

Itu menurut saya keren.

Karena awalnya saya mengira, kalau ceritanya pendek, pasti ada bagian yang hilang. Entah karakternya kurang kuat, konflik kurang terasa, atau akhirannya terlalu cepat.

Ternyata tidak selalu.

Cerpen bisa tetap komplit, hanya saja bentuk komplitnya tidak sama seperti novel.

Ia tidak menjelaskan semua hal.

Tapi cukup memberi ruang agar pembaca merasakan dan mengisi bagian yang tidak diucapkan.

3. Menguras Kosakata

Hal ketiga, membaca cerpen seperti ini cukup menguras kosakata.

Mungkin karena penulisnya memang jago. Mungkin juga karena saya yang masih kurang akrab dengan banyak istilah dalam bahasa Indonesia.

Ada beberapa kata yang terasa tidak sering saya temui.

Bukan istilah asing. Bukan bahasa Inggris. Tapi bahasa Indonesia yang jarang saya pakai atau jarang saya baca.

Dan itu menarik.

Karena cerpen yang pendek tidak punya banyak ruang untuk bertele-tele. Maka pilihan katanya harus lebih padat, lebih presisi, dan lebih punya rasa.

Dalam cerita panjang, penulis bisa menjelaskan satu hal dengan beberapa kalimat. Tapi dalam cerpen, mungkin satu kata harus bisa membawa suasana, emosi, dan konteks sekaligus.

Membaca buku ini jadi terasa bukan hanya mengikuti cerita, tapi juga diajak mengingat bahwa bahasa Indonesia punya banyak sekali pilihan kata yang sering tidak saya gunakan.

Ada kekayaan bahasa yang ternyata masih jauh dari kepala saya sehari-hari.

Dan itu menyenangkan.

Karena membaca bukan cuma menambah cerita, tapi juga menambah cara untuk menyebut dunia.

Semoga Bukan Cerpen Terakhir

Saya berharap ini bukan cerpen terakhir yang saya baca.

Karena ternyata menarik sekali melihat bagaimana satu buku tipis bisa memuat banyak gaya cerita, banyak suasana, banyak karakter, dan banyak cara bertutur.

Dalam kumpulan cerpen, kita seperti diajak pindah ruangan berkali-kali.

Setiap cerita punya dunianya sendiri.

Ada yang aneh. Ada yang getir. Ada yang lucu. Ada yang membuat bingung sebentar. Ada yang meninggalkan rasa setelah selesai dibaca.

Dan semua itu bisa dilakukan dalam halaman yang tidak banyak.

Menurut saya, itu menunjukkan kemampuan penulis untuk membuat sesuatu yang pendek, tapi tetap berarti dan berbobot.

Semoga buku ini bisa membuka lagi keinginan saya untuk membaca lebih konsisten.

Target satu minggu satu buku mungkin sempat melambat. Tapi tidak apa-apa.

Yang penting jalannya tidak berhenti.

Kadang untuk kembali membaca, kita hanya perlu satu buku tipis yang cukup kuat untuk membuat kita ingat lagi: membaca itu menyenangkan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *