Hari ini saya ingin melanjutkan pertanyaan tentang bagaimana mengevaluasi sebuah inisiatif baru.
Saya cukup sering mendengar pertanyaan, keluhan, rasa frustrasi, bahkan rasa putus asa dari teman-teman tim tentang inisiatif yang sedang kita coba tahun ini.
“Menurut Mas Ben, ini berhasil nggak?”
“Ini masih layak dilanjutkan nggak?”
“Kok hasilnya belum kelihatan ya?”
Pertanyaan seperti ini wajar. Apalagi ketika orang sudah bekerja, sudah mencoba, sudah mengeluarkan energi, tapi hasilnya belum terasa jelas.
Tapi menurut saya, inisiatif baru perlu dinilai dengan cara yang lebih adil. Jangan sampai sesuatu yang baru berjalan sebentar langsung dihakimi seolah-olah sudah diberi kesempatan yang cukup panjang.
Karena kadang masalahnya bukan inisiatifnya gagal.
Bisa jadi kita terlalu cepat memberi vonis.
1. Jangan Hakimi Terlalu Cepat
Hal pertama yang perlu diingat: inisiatif baru tidak bisa dihakimi dalam waktu yang terlalu singkat.
Sesuatu yang hari ini terlihat berhasil biasanya tidak tiba-tiba jadi berhasil.
Ia melewati proses panjang. Ada percobaan. Ada kegagalan. Ada penyesuaian. Ada orang-orang yang belajar. Ada strategi yang berubah. Ada momentum yang akhirnya ketemu.
Jadi tidak fair kalau inisiatif baru baru berjalan dua atau tiga bulan, dengan orang baru, strategi baru, posisi baru, lalu langsung dinilai seolah-olah sudah final.
Apalagi kalau dibandingkan dengan sesuatu yang sudah matang hari ini.
Yang sudah matang itu juga dulu pernah mentah.
Yang hari ini stabil itu juga dulu pernah trial.
Yang sekarang terlihat berhasil itu mungkin dulu juga pernah membingungkan.
Maka daripada buru-buru menghakimi, lebih baik kita gunakan minggu dan bulan awal untuk mengumpulkan variabel.
Apa yang terjadi?
Apa yang sudah dicoba?
Apa yang belum berjalan?
Apa yang responsnya bagus?
Apa yang ternyata tidak sesuai asumsi?
Apa hambatannya?
Apa data awal yang bisa dibaca?
Dengan begitu, evaluasi tidak hanya berisi perasaan frustrasi. Tapi mulai punya bahan untuk membaca arah.
2. Pahami Tujuan Awalnya
Hal kedua, sebelum menilai inisiatif baru, kita perlu kembali ke tujuan awalnya.
Inisiatif ini dibuat untuk apa?
Apakah tujuannya hasil instan?
Apakah tujuannya validasi pasar?
Apakah tujuannya membangun pondasi jangka panjang?
Apakah tujuannya mencari pembelajaran?
Apakah tujuannya membuka jalur baru yang impact-nya baru terlihat nanti?
Ini penting, karena sesuatu yang dibuat untuk hasil instan dan sesuatu yang dibuat untuk long run tidak bisa dinilai dengan cara yang sama.
Kalau sejak awal tujuannya instan, mungkin kita bisa menilai lebih cepat. Apakah menghasilkan dalam waktu tertentu? Apakah target pendeknya tercapai? Apakah responnya langsung terlihat?
Tapi kalau sejak awal tujuannya jangka panjang, kita tidak bisa marah hanya karena hasil besarnya belum muncul di bulan kedua.
Apalagi kalau inisiatif itu tidak punya ukuran dampak yang direct.
Makin jauh dampaknya, makin perlu kejelasan cara membaca progresnya.
Di sinilah pentingnya komunikasi dari awal.
Orang yang memberi tugas harus jelas menyampaikan kenapa inisiatif ini dibuat. Orang yang menjalankan juga harus paham apa yang sebenarnya sedang dicoba.
Karena kalau tujuan awalnya kabur, evaluasinya pasti mudah berubah jadi panik.
3. Bedakan Eksekusi dan Impact
Hal ketiga, kita perlu membedakan antara tanggung jawab eksekusi dan tanggung jawab impact.
Ownership itu bagus.
Saya senang kalau ada orang yang merasa memiliki pekerjaannya. Tapi dalam beberapa situasi, ownership bisa berubah jadi overthinking ketika seseorang merasa harus menanggung seluruh impact dari sebuah inisiatif baru.
Padahal ketika inisiatif baru dibuat, biasanya ada assessment awal, hipotesis awal, dan keputusan dari decision maker untuk mencoba sesuatu.
Artinya, memang ada unsur percobaan.
Tugas eksekutor adalah menjalankan percobaan itu sebaik mungkin.
Mengusahakan prosesnya.
Mengumpulkan datanya.
Melaporkan hasilnya.
Memberi feedback.
Menyampaikan apa yang berhasil dan apa yang tidak.
Kalau tujuan awalnya adalah mencoba, maka output pentingnya adalah hasil percobaan itu sendiri.
Bukan berarti eksekutor tidak peduli impact. Tapi jangan sampai orang yang menjalankan merasa semua keberhasilan atau kegagalan strategis harus ditanggung sendiri.
Yang juga berbahaya adalah ketika decision maker punya ekspektasi terlalu tinggi pada inisiatif baru.
Baru dimulai, tapi berharap hasilnya langsung besar.
Baru dicoba, tapi push-nya sudah seperti mesin yang sudah proven.
Akhirnya setiap minggu atau setiap bulan strateginya berubah terus karena panik melihat hasil yang belum terlihat.
Padahal inisiatif baru sering butuh waktu.
Butuh orang yang belajar.
Butuh momentum.
Butuh iterasi.
Butuh variabel yang pelan-pelan dikumpulkan.
Kalau terlalu sering diganti sebelum cukup dipahami, kita bukan sedang mengevaluasi.
Kita hanya sedang gelisah.
Evaluasi dengan Lebih Adil
Menurut saya, mengevaluasi inisiatif baru itu perlu lebih sabar dan lebih jernih.
Bukan berarti semua inisiatif harus dipertahankan terus. Bukan berarti kita tidak boleh kritis. Bukan juga berarti semua kegagalan harus dimaklumi.
Tapi cara menilainya harus sesuai dengan usia, tujuan, dan konteksnya.
Kalau baru dua bulan, jangan dipaksa terlihat seperti program yang sudah berjalan dua tahun.
Kalau tujuannya long run, jangan dinilai hanya dari hasil instan.
Kalau sifatnya percobaan, jangan buat eksekutornya merasa seperti menanggung seluruh nasib organisasi.
Kita tetap perlu evaluasi. Tapi evaluasinya harus mengumpulkan pembelajaran, bukan hanya mencari kambing hitam.
Karena inisiatif baru memang belum tentu berhasil.
Tapi kalau kita terlalu cepat menghakimi, mungkin yang gagal bukan inisiatifnya.
Mungkin yang gagal adalah cara kita memberi waktu untuk ia tumbuh.
Leave a Reply