Saya mendapat pertanyaan tentang bagaimana kalau karyawan harus memikirkan strategi bisnis, tapi di saat yang sama juga harus mengerjakan BAU.
BAU ini maksudnya pekerjaan rutin harian. Pekerjaan yang harus tetap berjalan. Pekerjaan yang kalau tidak dikerjakan, operasional bisa terganggu.
Pertanyaannya jadi cukup realistis: kalau waktunya terbatas, energinya terbatas, dan kerjaan rutinnya banyak, bagaimana orang bisa tetap berpikir strategis?
Menurut saya, ini pertanyaan yang sering muncul di organisasi yang mulai punya banyak rutinitas.
Di satu sisi, pekerjaan harian harus tetap diselesaikan. Tapi di sisi lain, organisasi juga perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi, merancang, dan mencari cara baru.
Kalau tidak, kita bisa sibuk terus, tapi tidak benar-benar bergerak maju.
1. Skill Set-nya Berbeda
Hal pertama yang perlu disadari adalah kerja strategis dan BAU punya skill set yang berbeda.
BAU biasanya menuntut disiplin.
Ada ritme. Ada checklist. Ada proses yang berulang. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan pada waktu tertentu, dengan alur tertentu, dan standar tertentu.
Sementara kerja strategis menuntut hal yang berbeda.
Ia butuh ruang untuk melihat dari atas. Butuh waktu untuk mengevaluasi. Butuh kreativitas untuk menemukan opsi. Butuh keberanian untuk mempertanyakan cara lama. Butuh energi untuk berpikir lebih panjang.
Satu pekerjaan menuntut keteraturan.
Satu pekerjaan menuntut eksplorasi.
Karena jangkar keduanya berbeda, wajar kalau orang yang sedang tenggelam dalam BAU merasa sulit tiba-tiba diminta berpikir strategis.
Bayangkan sedang dikejar deadline rutin, lalu diminta berhenti dan memikirkan arah bisnis enam bulan ke depan. Secara teori bisa. Tapi secara mental, tidak selalu mudah.
Karena otak yang sedang mode eksekusi harian sering tidak langsung siap masuk ke mode evaluasi besar.
2. Jadikan Strategi Sebagai Rutinitas
Hal kedua, kalau orang yang mengerjakan strategi masih kerepotan dengan BAU, maka cara paling memungkinkan adalah menjadikan strategi sebagai bagian dari BAU.
Maksudnya, strategi juga perlu dijadwalkan.
Bukan menunggu ada waktu kosong.
Karena biasanya, waktu kosong itu tidak datang. Kalau pun datang, seringnya energi kita sudah habis duluan.
Jadi perlu ada waktu tertentu untuk berpikir strategis.
Misalnya seminggu sekali ada slot evaluasi. Atau setiap bulan ada waktu khusus untuk membaca data, melihat tren, menyusun opsi, dan memikirkan perbaikan. Atau setiap pagi tertentu ada satu jam yang memang tidak dipakai untuk pekerjaan rutin, tapi untuk berpikir dan merancang.
Kalau BAU bisa punya ritme, strategi juga harus punya ritme.
Karena strategi yang tidak dijadwalkan biasanya kalah oleh pekerjaan yang lebih berisik.
Pekerjaan rutin itu kelihatan mendesak. Ada notifikasi. Ada orang menunggu. Ada deadline harian. Sementara kerja strategis sering tidak berisik, tapi dampaknya besar kalau terus diabaikan.
Maka kalau kita ingin strategi benar-benar dikerjakan, jangan hanya bilang, “Coba pikirkan strateginya.”
Buat ruangnya.
Jadwalkan waktunya.
Tetapkan output-nya.
Dengan begitu, strategi tidak hanya menjadi harapan tambahan di tengah rutinitas yang sudah penuh.
3. Kurangi BAU Jika Butuh Strategi
Hal ketiga, kalau perusahaan benar-benar membutuhkan orang untuk berpikir strategis, maka pekerjaan BAU orang itu mungkin memang harus dikurangi.
Ini perlu disadari.
Kita tidak bisa menuntut orang untuk kreatif, inovatif, evaluatif, dan berpikir panjang, tapi di saat yang sama memenuhi kepalanya dengan pekerjaan rutin tanpa jeda.
Kalau BAU terus menjadi pikiran utama, kerja strategis biasanya hanya jadi sisa-sisa energi.
Akhirnya strategi tidak benar-benar matang. Evaluasi tidak dalam. Inovasi tidak muncul. Yang terjadi hanya mengulang cara lama, meskipun hasilnya sudah terbukti kurang.
Padahal kadang yang dibutuhkan organisasi bukan bekerja lebih banyak.
Tapi berhenti sejenak untuk membaca apa yang sudah terjadi.
Apa yang berhasil?
Apa yang tidak?
Apa yang perlu dihentikan?
Apa yang perlu dicoba?
Formula apa yang mungkin lebih cocok?
Cara apa yang selama ini salah tapi terus diulang karena tidak pernah ada waktu untuk mengevaluasi?
Kalau kita ingin hasil yang berbeda, kita perlu memberi ruang untuk cara berpikir yang berbeda.
Dan ruang itu sering kali tidak muncul kalau semua waktu habis untuk rutinitas.
Berhenti Sejenak untuk Bergerak
Menurut saya, organisasi yang mulai penuh dengan BAU perlu punya keberanian untuk berhenti sejenak.
Bukan berhenti bekerja.
Tapi berhenti dari autopilot.
Karena rutinitas memang penting. Tanpa BAU yang rapi, pekerjaan harian bisa berantakan.
Tapi kalau semua orang hanya tenggelam dalam rutinitas, organisasi bisa kehilangan kemampuan untuk melihat arah.
Akhirnya sibuk, tapi tidak belajar.
Capek, tapi tidak berubah.
Bekerja terus, tapi hasilnya berulang.
Maka strategi butuh ruang.
Ruang waktu.
Ruang energi.
Ruang kepala.
Ruang untuk mengevaluasi dan menyusun cara baru.
Kalau ingin orang berpikir strategis, jangan hanya menambahkan kata “strategi” ke dalam jobdesc-nya.
Bantu mereka punya waktu untuk benar-benar berpikir.
Karena strategi yang baik jarang lahir dari kepala yang sedang penuh notifikasi BAU.
Leave a Reply