Hari 141: Siapkan Masa Sulit

Pertanyaan lanjutan dari pembahasan tentang COVID muncul lagi.

Apakah ada solusi untuk melewati wabah seperti COVID di perusahaan, selain merumahkan karyawan?

Menurut saya, ini pertanyaan yang menarik. Karena waktu COVID dulu, kami juga pernah mengambil keputusan berat. Ada efisiensi. Ada evaluasi. Ada keputusan yang tidak mudah.

Tapi kalau dipikirkan lagi, pertanyaan ini penting untuk dijawab bukan hanya ketika krisis sudah datang.

Justru harusnya dipikirkan ketika kondisi sedang baik-baik saja.

Karena kalau krisis sudah datang, pilihan kita biasanya lebih sempit. Kita jadi terburu-buru. Kita jadi reaktif. Kita jadi mengambil keputusan dalam kondisi panik.

Padahal masa sulit lebih mungkin dihadapi dengan baik kalau dipersiapkan sejak masa senang.

1. Siapkan Tabungan

Hal pertama yang menurut saya penting adalah perusahaan harus punya tabungan yang cukup.

Minimal untuk memenuhi kewajiban kepada karyawan sesuai kontrak.

Ini menjadi salah satu learning besar yang saya dapatkan setelah melewati masa-masa sulit. Bahwa ketika perusahaan memutuskan mempekerjakan seseorang, harusnya perusahaan juga punya kesiapan untuk membayar hak orang tersebut sesuai kesepakatan.

Gaji, kompensasi, atau kewajiban lain yang memang harus diterima karyawan tidak boleh hanya dipikirkan saat kondisi normal.

Karena krisis bisa datang.

Pasar bisa berubah.

Pemasukan bisa menurun.

Klien bisa menunda keputusan.

Hal-hal yang sebelumnya terasa aman bisa tiba-tiba tidak aman.

Maka perusahaan perlu punya bantalan.

Bukan karena kita berharap hal buruk terjadi. Tapi karena kita tahu hal buruk mungkin terjadi.

Tabungan perusahaan bukan sekadar angka di rekening. Ia adalah ruang napas. Ia memberi waktu. Ia memberi pilihan. Ia membuat perusahaan tidak langsung mengambil keputusan paling ekstrem di hari pertama krisis datang.

2. Kalau Harus Merumahkan, Harus Fair

Hal kedua, kalau pun pada akhirnya ada keputusan merumahkan atau mengakhiri hubungan kerja, itu harus dilakukan dengan cara yang fair untuk kedua belah pihak.

Jangan hanya menyalahkan keadaan.

Jangan hanya berkata, “Ya ini karena krisis.”

Memang krisis bisa menjadi penyebab. Tapi cara kita menghadapi krisis tetap menjadi tanggung jawab kita.

Kalau sejak awal perusahaan punya mitigasi, punya tabungan, punya perhitungan risiko, maka keputusan sulit bisa dilakukan dengan lebih tertib dan manusiawi.

Misalnya, hak karyawan tetap dipenuhi. Komunikasi dilakukan dengan jelas. Alasan disampaikan dengan jujur. Prosesnya tidak mendadak dan menyakitkan secara tidak perlu.

Karena merumahkan karyawan bukan sekadar keputusan operasional.

Ada manusia di dalamnya.

Ada keluarga.

Ada rasa kecewa.

Ada masa depan yang ikut terdampak.

Maka kalau keputusan itu harus diambil, lakukan dengan cara yang tetap menjaga martabat kedua belah pihak.

Krisis mungkin membuat pilihan kita sulit, tapi tidak seharusnya membuat kita kehilangan cara yang adil.

3. Satukan Energi untuk Recovery

Hal ketiga, ketika resource terbatas, perusahaan harus menyatukan kekuatan untuk hal yang paling mungkin membawa recovery.

Misalnya perusahaan hanya punya napas tiga bulan atau enam bulan.

Dalam kondisi seperti itu, fokusnya harus sangat jelas.

Apa yang paling mungkin menghasilkan pemasukan?

Produk atau layanan apa yang paling relevan?

Klien mana yang paling mungkin dikonversi?

Pengeluaran mana yang harus dihentikan?

Aktivitas apa yang tidak boleh lagi membuang energi?

Ini bukan waktunya semua orang bergerak ke arah yang berbeda.

Bukan waktunya menakut-nakuti.

Bukan waktunya menyalahkan keadaan.

Justru pada saat seperti itu, perusahaan perlu mengajak semua orang melihat kenyataan yang sama, lalu menyatukan tenaga pada prioritas yang paling masuk akal.

Kalau hanya punya waktu terbatas, waktu itu harus dipakai untuk recovery.

Bukan untuk panik bersama.

Bukan untuk saling menyalahkan.

Bukan untuk pura-pura semuanya baik-baik saja.

Krisis butuh kejujuran, tapi juga butuh arah.

Masa Senang untuk Bersiap

Saya tahu obrolan seperti ini bisa terasa menakutkan.

Membahas wabah, krisis, merumahkan karyawan, tabungan perusahaan, dan survival mungkin membuat orang tidak nyaman.

Tapi hal-hal seperti ini bukan sesuatu yang mustahil.

Kita pernah mengalaminya.

COVID pernah terjadi.

Ketidakpastian pernah datang.

Dan kalau sesuatu pernah terjadi, rasanya aneh kalau kita tidak menyiapkan mitigasinya.

Bagi saya, masa senang harus dipakai untuk mempersiapkan masa sulit.

Lalu ketika masa sulit datang, kita bertahan sebaik mungkin agar bisa kembali ke masa senang.

Semoga kita tidak perlu menghadapi wabah besar seperti COVID lagi. Tapi kalau suatu hari krisis datang dalam bentuk apa pun, perusahaan harus punya bekal yang lebih baik.

Tabungan yang cukup.

Prosedur yang fair.

Dan fokus bersama untuk recovery.

Karena bertahan bukan hanya soal kuat ketika badai datang.

Bertahan juga soal menyiapkan payung ketika langit masih cerah.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *