Hari ini telat nulis karena ketiduran. Tapi ada beberapa momen yang rasanya sayang kalau tidak dicatat. Tiga catatan ini mungkin sederhana, tapi buat saya penting sebagai pengingat—terutama soal cara mengambil keputusan dan cara membawa perubahan di tim.
1) Fleksibel dalam keputusan: kasus bisa sama, orangnya berbeda
Saya makin yakin, keputusan yang baik itu tidak selalu berarti “semua diperlakukan sama rata”. Keputusan yang baik justru seringnya berarti disesuaikan supaya manfaatnya bisa maksimal—baik untuk tim, untuk orang yang terlibat, dan untuk tujuan yang mau dicapai.
Karena dua orang bisa datang dengan kasus yang kelihatannya sama, tapi:
- konteksnya beda,
- kapasitasnya beda,
- tanggung jawabnya beda,
- bahkan risikonya beda.
Kalau kita memutuskan hanya berdasarkan “kasusnya sama”, tanpa melihat “siapa orangnya”, keputusan bisa meleset dari tujuan. Bukannya jadi adil, malah jadi tidak tepat.
Jadi prinsip kecil yang saya pegang hari ini:
saat mengambil keputusan, lihat juga siapa yang meminta keputusan itu.
Bukan untuk pilih kasih, tapi untuk memastikan keputusan benar-benar mencapai maksudnya.
2) Keputusan yang lebih baik sering lahir dari telinga yang mau dipakai
Catatan kedua: pentingnya mendengarkan feedback.
Saya menyadari, keputusan sering terasa “cukup” di kepala kita. Rasanya sudah matang. Tapi ketika hal yang sama kita perdengarkan ke orang lain, responnya bisa beda-beda:
- ada yang setuju,
- ada yang memberi catatan,
- ada yang kontra,
- ada yang mengangkat risiko yang sebelumnya tidak terlihat.
Kalau kita mau pasang telinga dan mencerna dengan baik, feedback itu bisa jadi bahan untuk memperbaiki keputusan. Bahkan kadang satu komentar kecil dari satu orang bisa mengoreksi kesimpulan yang sudah kita anggap final.
Di sini saya belajar membedakan dua cara melihat pendapat:
- siapa yang ngomong dan berapa orang (mayoritas–minoritas), vs
- apa isi yang diomongin (substansi)
Karena minoritas bisa saja benar. Dan kalau kita menutup telinga cuma karena “yang ngomong cuma satu orang”, kita berisiko mengulang kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.
3) Transparansi saat mau menerapkan sesuatu ke semua orang
Catatan ketiga: tentang transparansi ketika membawa perubahan.
Saya orang yang lumayan sering bikin inovasi—dapat ide dari refleksi, dari masalah yang terlihat, lalu jadi aktivitas atau kebijakan baru. Kadang perubahannya cepat. Bahkan signifikan.
Tapi hari ini saya sadar, kalau sesuatu mau diterapkan untuk semua orang, maka cara penyampaiannya juga harus terbuka.
Saya baru saja membaca buku dan mencoba merangkum serta mempresentasikan selengkap mungkin apa yang saya pahami, karena saya ingin mengadopsinya untuk tim. Kenapa saya lakukan terbuka?
Karena kalau saya hanya ngomong intens ke satu-dua orang, atau hanya ke para pemimpin saja, lalu yang lain nggak dapet konteks, yang terjadi bukan “perubahan” tapi “kebingungan”.
Orang jadi bertanya:
“Ini sebenarnya mau ngapain sih?”
“Kenapa tiba-tiba berubah?”
“Ini aturan baru atau cuma ide lewat?”
Maka pengingatnya jelas:
kalau kebijakan/pendekatan akan berlaku untuk semua, komunikasikan untuk semua.
Jangan diam-diam. Jangan setengah-setengah. Jangan bikin sebagian orang merasa ditinggal.
Tiga hal hari ini saya tulis sebagai reminder:
- keputusan yang baik itu fleksibel dan mempertimbangkan orangnya,
- keputusan yang lebih baik lahir dari kemauan mendengar, bahkan dari minoritas,
- perubahan yang menyangkut semua orang wajib dibarengi transparansi.
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply