Masih melanjutkan bahasan dari one on one.
Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah tentang karier pertama.
Kalau baru memulai karier, lebih baik mulai dari pekerjaan yang idealis atau yang oportunis?
Maksudnya, apakah harus sesuai jurusan? Harus sesuai keinginan? Harus sesuai cita-cita? Atau ambil saja kesempatan yang ada, yang penting bisa mulai bekerja dulu?
Saya rasa ini pertanyaan yang sering muncul di kepala anak muda, terutama yang baru lulus atau baru mau masuk dunia kerja.
Di satu sisi, kita ingin pekerjaan pertama terasa sesuai dengan diri kita. Sesuai jurusan, sesuai minat, sesuai bayangan ideal.
Tapi di sisi lain, realita tidak selalu menyediakan pilihan yang rapi. Kadang yang tersedia bukan pekerjaan impian. Kadang yang datang justru kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Jadi, harus bagaimana?
Menurut saya, jawabannya tidak bisa tunggal.
1. Semua Tergantung Kondisi
Hal pertama yang perlu dipahami: semuanya tergantung kondisi masing-masing.
Tidak semua orang memulai karier dari titik yang sama.
Ada orang yang masih punya ruang untuk menunggu pekerjaan ideal. Ada yang punya dukungan finansial cukup. Ada yang bisa eksplorasi lebih lama. Ada yang punya waktu untuk memilih.
Tapi ada juga yang harus cepat bekerja.
Ada yang punya kebutuhan keluarga. Ada yang harus segera punya penghasilan. Ada yang tidak bisa terlalu lama menunggu pekerjaan yang sesuai jurusan atau sesuai keinginan.
Maka kalau kondisinya memang menuntut kita untuk cepat bekerja, lalu kesempatan yang datang ternyata tidak sepenuhnya sesuai jurusan atau keinginan, ya tidak apa-apa diambil.
Selama kita sadar risikonya.
Karena kondisi yang berbeda akan menghasilkan jawaban yang berbeda juga.
Tidak adil kalau kita memaksakan satu standar untuk semua orang. Ada yang bisa idealis karena punya ruang. Ada yang harus oportunis karena keadaan.
Yang penting bukan terlihat paling ideal.
Yang penting adalah keputusan itu masuk akal untuk situasi hidup kita saat ini.
2. Eksplorasi Juga Ada Untungnya
Hal kedua, mengambil kesempatan yang tidak sepenuhnya sesuai rencana juga tidak selalu buruk.
Kadang karier pertama justru menjadi ruang eksplorasi.
Kita bisa mengenali diri dari sisi yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Bisa jadi kita ternyata punya kemampuan di bidang yang dulu tidak pernah kita pertimbangkan. Bisa jadi kita menemukan minat baru. Bisa jadi kita sadar bahwa jurusan kita dulu bukan satu-satunya jalan.
Karena sering kali, bayangan kita tentang dunia kerja dibentuk dari pengalaman yang terbatas.
Kita merasa cocoknya hanya di bidang tertentu karena itu yang kita pelajari. Kita merasa harus masuk jalur tertentu karena itu yang orang sekitar kita tahu. Kita merasa pilihan kita sempit karena referensi kita juga belum banyak.
Padahal dunia kerja jauh lebih luas dari apa yang kita lihat saat kuliah.
Maka eksplorasi di awal karier bisa menjadi pengalaman yang berguna.
Bukan karena semua kesempatan harus diambil. Tapi karena kadang kesempatan yang tidak ideal justru membuka pemahaman baru tentang diri kita sendiri.
Kita jadi tahu apa yang cocok.
Apa yang tidak cocok.
Apa yang ternyata bisa kita pelajari.
Apa yang ternyata tidak ingin kita ulangi.
Dan itu semua penting untuk membentuk arah karier berikutnya.
3. Pahami Konsekuensinya
Hal ketiga yang paling penting adalah memahami konsekuensi dari pilihan kita.
Karena masalahnya sering bukan pada idealis atau oportunis.
Masalahnya adalah ketika kita memilih sesuatu tanpa sadar konsekuensinya.
Kalau kita memilih oportunis, mengambil kesempatan apa pun yang datang, konsekuensinya bisa jadi jalur karier kita lebih berbelok-belok. Hari ini di bidang A, besok di bidang B, tahun depan pindah lagi ke bidang C.
Itu tidak selalu salah.
Tapi kita perlu sadar bahwa setiap perpindahan bisa membuat kita harus belajar dari awal lagi. Harus membangun ulang portofolio. Harus menyesuaikan lagi dengan standar baru. Harus menjelaskan lagi arah karier kita.
Sebaliknya, kalau kita memilih idealis dan fokus di satu bidang sejak awal, mungkin pertumbuhannya bisa lebih dalam dan lebih cepat di bidang itu.
Tapi konsekuensinya, mungkin kesempatan datang lebih lambat. Mungkin penghasilan awal tidak langsung besar. Mungkin kita harus menunggu lebih lama untuk masuk ke tempat yang sesuai.
Jadi semuanya punya harga.
Eksplorasi ada manfaatnya, tapi juga ada risiko arah yang melebar.
Fokus ada manfaatnya, tapi juga ada risiko menunggu lebih lama.
Yang sering membuat anak muda kecewa adalah bukan karena pilihannya salah, tapi karena tidak siap dengan harga dari pilihannya sendiri.
Pilih, Lalu Tanggung Jawab
Menurut saya, dalam karier pertama tidak ada jawaban yang benar-benar salah.
Mau mulai dari yang idealis, silakan.
Mau mulai dari yang oportunis, juga tidak apa-apa.
Yang penting kita tahu kenapa memilih itu dan sadar konsekuensinya.
Kalau memilih pekerjaan yang tidak sesuai jurusan karena butuh cepat bekerja, jalani dengan sadar. Ambil pelajarannya. Bangun skill-nya. Lihat apakah ada jalan baru yang bisa dibuka dari sana.
Kalau memilih menunggu pekerjaan yang sesuai minat, jalani juga dengan sadar. Siapkan portofolio. Belajar lebih dalam. Terima konsekuensi bahwa mungkin prosesnya lebih lama.
Karier pertama bukan penjara seumur hidup.
Tapi karier pertama bisa menjadi batu pijakan penting.
Maka jangan terlalu sibuk mencari jawaban paling benar menurut orang lain.
Lebih penting bertanya ke diri sendiri:
Saya sedang berada di kondisi apa?
Saya sanggup mengambil risiko yang mana?
Saya ingin belajar apa dari pilihan ini?
Setelah itu, pilih. Jalani. Evaluasi.
Karena yang menentukan bukan hanya pilihan pertama kita, tapi bagaimana kita bertanggung jawab setelah memilihnya.
Leave a Reply