Hari 136: Checklist Sebelum Serius

Dalam beberapa sesi one on one, saya menyadari satu hal yang cukup menarik.

Beberapa karyawan saya ternyata sudah tumbuh dewasa. Dulu mungkin obrolannya masih banyak tentang kerja, adaptasi, bingung menghadapi tugas, atau pengembangan diri.

Sekarang obrolannya mulai bergeser.

Ada yang sudah punya pasangan. Ada yang mulai masuk fase hubungan lebih serius. Ada yang mulai berpikir tentang jenjang berikutnya.

Sebagai orang yang beberapa kali diajak ngobrol soal ini, saya biasanya punya pesan yang cukup sederhana: kalau ingin memilih pasangan, jangan hanya pakai perasaan.

Perasaan tentu penting. Tapi kalau hanya mengandalkan rasa suka, kadang kita jadi lupa bertanya: orang ini benar-benar cocok tidak untuk hidup yang ingin kita jalani?

Karena hubungan bukan hanya soal hari ini nyaman ngobrol. Tapi juga soal apakah kita bisa berjalan bersama ke arah yang sama.

1. Tahu Kriteria Terpenting

Hal pertama yang menurut saya penting adalah tahu kriteria terpenting kita.

Daripada memakai kacamata cinta buta, atau malah tidak memakai kacamata sama sekali, lebih baik punya checklist yang jelas.

Apa yang paling penting dari pasangan?

Apakah latar belakangnya?

Apakah pekerjaannya?

Apakah cara dia melihat karier?

Apakah kondisi finansialnya?

Apakah agamanya?

Apakah keluarganya?

Apakah cara berpikirnya?

Apakah value hidupnya?

Setiap orang boleh punya kriteria yang berbeda. Tidak harus sama. Karena yang menjalani hubungan juga kita sendiri.

Yang penting kriterianya disadari.

Dengan punya kriteria, kita jadi lebih mudah melakukan screening. Ketika ada seseorang datang, kita tidak hanya bertanya, “Saya suka tidak?”

Tapi juga, “Apakah orang ini sesuai dengan hal-hal penting yang saya butuhkan dalam hidup?”

Ini bukan berarti hubungan jadi seperti rekrutmen kerja. Tapi kalau untuk memilih pekerjaan saja kita bisa punya pertimbangan, masa untuk memilih pasangan hidup kita benar-benar hanya mengandalkan deg-degan?

2. Kenali Red Flag Pribadi

Selain punya kriteria yang dicari, kita juga perlu tahu red flag yang tidak bisa kita toleransi.

Ini penting.

Karena kadang kita terlalu sibuk mencari hal yang kita suka, tapi lupa mendefinisikan hal yang tidak bisa kita terima.

Red flag ini bisa macam-macam.

Bisa hal yang melekat, bisa juga sikap dan kebiasaan.

Misalnya kita tidak bisa menerima pasangan yang sangat boros. Atau tidak bisa dengan orang yang hidupnya terlalu berantakan. Atau tidak cocok dengan orang yang cara komunikasinya kasar. Atau tidak bisa dengan orang yang value hidupnya terlalu kontras dengan yang kita yakini.

Yang penting, jangan membuat red flag yang mengada-ada.

Buatlah daftar yang benar-benar penting. Hal-hal yang kalau ada di pasangan, kita tahu itu akan menjadi masalah besar untuk hubungan ke depan.

Karena dalam hubungan, tidak semua kekurangan harus langsung jadi alasan pergi.

Tapi ada beberapa hal yang memang sejak awal perlu kita akui: ini saya tidak bisa toleransi.

Mengetahui red flag pribadi membantu kita tidak terlalu lama bertahan di hubungan yang sebenarnya dari awal sudah terasa tidak cocok.

3. Uji Komitmennya

Hal ketiga adalah memperjelas komitmen.

Apa yang sebenarnya diharapkan dari hubungan ini?

Apakah hanya ingin dekat dulu?

Apakah memang sedang mencari pasangan untuk menikah?

Apakah ingin menikah dalam waktu dekat?

Apakah masih ingin menunggu mapan?

Apakah punya target usia tertentu?

Apakah ingin menjalani hubungan pelan-pelan dulu?

Hal-hal seperti ini perlu dibicarakan.

Karena banyak kekecewaan dalam hubungan muncul bukan karena tidak sayang, tapi karena ekspektasi tidak pernah disampaikan.

Satu orang merasa hubungan ini sudah sangat serius. Satu orang lainnya merasa masih tahap mengenal.

Satu orang ingin menikah segera. Satu orang lainnya masih ingin menunda lama.

Satu orang butuh kepastian. Satu orang lainnya masih ingin mengalir.

Kalau dari awal tidak dibicarakan, hubungan bisa berjalan dengan asumsi masing-masing. Dan asumsi yang tidak pernah dikonfirmasi biasanya gampang berubah jadi sakit hati.

Jadi lebih baik dari awal jujur.

Kalau memang usianya sudah masuk fase serius, sampaikan. Kalau memang sedang mencari hubungan yang arahnya jelas, bicarakan. Kalau memang belum siap, juga perlu diakui.

Komitmen tidak harus dipaksakan. Tapi harus diperjelas.

Jangan Hanya Mengalir

Saya rasa ini pesan yang penting untuk teman-teman yang mulai masuk fase hubungan serius.

Apa pun nama hubungannya, apa pun statusnya, pada akhirnya berhubungan adalah proses mencari pasangan yang tepat.

Dan pasangan yang tepat bukan hanya orang yang kita suka.

Tapi orang yang sesuai dengan kriteria penting kita, tidak menabrak red flag utama kita, dan punya arah komitmen yang bisa dibicarakan bersama.

Cinta memang bisa membuat awal hubungan terasa menyenangkan.

Tapi untuk berjalan jauh, kita butuh lebih dari sekadar rasa.

Kita butuh kejelasan.

Kita butuh kesadaran.

Kita butuh keberanian untuk bertanya: orang ini cocok tidak dengan hidup yang ingin saya bangun?

Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan orang yang membuat kita nyaman hari ini.

Tapi juga orang yang bisa diajak berjalan bersama ke masa depan yang sama-sama kita pahami.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *