Dalam salah satu sesi one on one, saya bertemu dengan tim yang punya mimpi kecil.
Mimpi yang ingin diwujudkan. Cita-cita yang ingin dikejar. Sesuatu yang bukan hanya ingin dibayangkan, tapi benar-benar ingin dibuat jadi kejadian.
Saya suka melihat orang punya mimpi seperti ini.
Karena itu berarti masih ada sesuatu yang menyala. Masih ada keinginan untuk bertumbuh. Masih ada hal yang membuat seseorang tidak hanya menjalani hari sebagai rutinitas.
Tapi di sisi lain, orang ini juga masih punya pekerjaan. Masih punya tanggung jawab. Masih ada tugas yang harus di-deliver.
Jadi pertanyaannya: bagaimana mengejar mimpi tanpa menabrak tanggung jawab pekerjaan?
Menurut saya, ini perlu dilihat dengan jujur. Karena mimpi memang layak dikejar, tapi tanggung jawab juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
1. Istirahat Akan Berkurang
Konsekuensi logis dari punya mimpi sambil tetap bekerja adalah berkurangnya waktu istirahat.
Sebelumnya mungkin hidup kita hanya berisi kerja dan istirahat.
Kerja, lalu istirahat.
Kerja, lalu istirahat.
Tapi ketika ada mimpi yang ingin dikejar, polanya berubah.
Kerja, kejar mimpi, baru istirahat.
Atau kerja, istirahat sebentar, lalu kejar mimpi.
Artinya, ada bagian dari waktu nyaman yang harus dikurangi.
Ini bukan untuk mengagungkan capek atau romantisasi kurang tidur. Tapi kita perlu sadar bahwa tambahan tujuan biasanya membawa tambahan beban.
Kalau kita ingin tetap bekerja karena punya tanggung jawab, dan di saat yang sama ingin mengejar mimpi, maka waktu yang dikorbankan biasanya bukan jam kerja, tapi waktu istirahat.
Karena jam kerja sudah punya pemiliknya.
Dan kalau mimpi itu benar-benar penting, kita perlu menyediakan ruang untuknya, meskipun ruang itu tidak selalu datang dari waktu yang enak.
2. Waktu Harus Diatur
Hal kedua adalah manajemen waktu.
Menurut saya, tidak fair kalau atas nama mengejar mimpi, tanggung jawab pekerjaan jadi terganggu.
Kalau kita punya jam kerja, ya jam kerja itu tetap harus dihormati.
Misalnya kita bekerja dari jam sembilan sampai jam lima, maka waktu untuk mengejar mimpi perlu dicari di luar itu.
Bisa pagi hari.
Bisa malam hari.
Bisa setelah pekerjaan selesai.
Bisa akhir pekan.
Bisa juga dengan izin yang jelas kalau memang ada kebutuhan tertentu yang harus dilakukan di jam kerja.
Tapi prinsipnya, jangan sampai mimpi yang kita kejar membuat kita lalai pada pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab kita.
Karena kalau itu terjadi, mimpi yang harusnya menjadi motivasi malah berubah jadi alasan untuk tidak profesional.
Di sinilah disiplin menjadi penting.
Bukan hanya disiplin mengejar mimpi, tapi juga disiplin menjaga pekerjaan yang sedang kita jalani.
Mimpi perlu dikejar dengan strategi, bukan dengan menabrak semua hal di sekitarnya.
3. Kerja Bisa Jadi Bahan Bakar
Hal ketiga, jangan selalu memisahkan mimpi dan pekerjaan seolah-olah keduanya musuh.
Kadang pekerjaan justru bisa menjadi bagian dari jalan menuju mimpi itu.
Misalnya dari sisi finansial. Pekerjaan memberi gaji. Gaji itu bisa menjadi modal untuk membiayai mimpi.
Atau dari sisi pengalaman. Pekerjaan memberi skill, jejaring, disiplin, dan cara berpikir yang mungkin suatu hari akan berguna untuk mimpi yang sedang kita bangun.
Kalau kita bisa melihat pekerjaan sebagai bahan bakar, maka kerja tidak terasa hanya sebagai transaksi.
Kerja tidak lagi hanya soal “saya mengerjakan tugas lalu menerima gaji.”
Kerja juga bisa menjadi cara untuk mengumpulkan energi, modal, dan kemampuan agar mimpi kita punya peluang lebih besar untuk terwujud.
Ini penting, karena kadang ketika seseorang sudah menemukan mimpinya, ia jadi terlalu ingin mengejar itu sampai melupakan pekerjaan yang sedang menopang hidupnya sekarang.
Padahal kalau dilihat lebih jernih, pekerjaan bisa menjadi kendaraan sementara.
Bukan tujuan akhir, tapi juga bukan sesuatu yang boleh disepelekan.
Jalan Bareng, Jangan Tubrukan
Mimpi itu layak dikejar.
Mimpi itu layak diwujudkan.
Tapi kita juga perlu sadar posisi hari ini.
Kalau hari ini kita masih punya pekerjaan, masih punya tanggung jawab, dan masih ada orang yang bergantung pada delivery kita, maka itu juga harus dijaga.
Karena tanggung jawab itu bukan tiba-tiba datang sendiri. Kita juga yang memilih untuk mengambilnya.
Jadi menurut saya, jangan terlalu cepat memilih salah satu dengan cara yang ekstrem.
Jangan karena punya mimpi, pekerjaan ditinggalkan sembarangan.
Jangan juga karena punya pekerjaan, mimpi dimatikan begitu saja.
Yang perlu dilakukan adalah mengatur waktu, mengatur energi, dan mengatur ekspektasi.
Mungkin istirahat berkurang. Mungkin jadwal jadi lebih padat. Mungkin perlu lebih disiplin. Tapi kalau dua-duanya penting, maka dua-duanya perlu diberi tempat.
Mimpi dan pekerjaan bisa berjalan bareng.
Asal jangan saling tubruk.
Leave a Reply