Masih menjawab pertanyaan dari sesi one on one karyawan.
Ada yang merasa overthinking tentang pekerjaannya. Apalagi ketika pekerjaan itu terasa berdampak besar pada keberlangsungan perusahaan, tapi hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Ini situasi yang cukup berat.
Karena di satu sisi, kita ingin bertanggung jawab. Kita ingin pekerjaan berhasil. Kita ingin apa yang kita kerjakan membawa dampak baik.
Tapi di sisi lain, ada banyak hal di luar kendali kita. Ada respons orang lain. Ada kondisi pasar. Ada keputusan klien. Ada momentum. Ada faktor eksternal yang tidak bisa dipaksa hanya karena kita ingin hasilnya baik.
Kalau tidak diurai, rasa tanggung jawab ini bisa berubah menjadi overthinking, stres, dan rasa bersalah yang tidak produktif.
Maka menurut saya, ada tiga hal yang perlu diperjelas.
1. Tahu Batas Peran
Ketika bekerja dalam tim, kita perlu tahu bahwa setiap orang punya tanggung jawab dan perannya masing-masing.
Makanya penting untuk memahami batas peran kita.
Apa sebenarnya tanggung jawab kita?
Apa yang tertulis di job description?
Apa yang disepakati dalam kontrak kerja?
Apa ekspektasi atasan terhadap pekerjaan kita?
Kalau belum jelas, tanyakan.
Karena tanggung jawab yang tidak jelas mudah sekali berubah menjadi beban mental yang terlalu luas. Kita merasa harus menanggung semuanya, padahal mungkin yang menjadi bagian kita hanya beberapa hal tertentu.
Menurut saya, tanggung jawab kita tidak masuk akal kalau ditarik sampai semua faktor eksternal.
Kalau tugas kita adalah A, B, C, dan D, maka fokus kita adalah mengerjakan A, B, C, dan D sebaik mungkin.
Kalau mau lebih, silakan. Tapi jangan sampai semua hal yang tidak bisa dikontrol ikut kita anggap sebagai kesalahan pribadi.
Bekerja dengan ownership itu baik. Tapi ownership bukan berarti memikul seluruh dunia sendirian.
2. Jalankan Prosesnya
Hal kedua, pastikan semua hal yang ada dalam kendali kita sudah dijalankan dengan benar.
Ikuti SOP.
Kerjakan checklist.
Bangun komunikasi.
Lakukan follow up.
Catat progres.
Evaluasi hasil.
Coba cara lain kalau cara sebelumnya belum berhasil.
Di sinilah rasa memiliki perlu muncul.
Bukan hanya merasa bertanggung jawab secara emosional, tapi juga menunjukkan tanggung jawab lewat proses yang benar.
Kalau pekerjaan belum membuahkan hasil, kita perlu punya kesadaran untuk mengevaluasi. Apa yang bisa diperbaiki? Apa yang belum optimal? Apa yang bisa dicoba lagi? Apa yang perlu dikomunikasikan ke tim?
Masalahnya bukan ketika hasil belum tercapai.
Masalahnya adalah ketika proses yang seharusnya dilakukan ternyata tidak dijalankan, tapi kita sudah tenggelam duluan dalam rasa bersalah.
Jadi sebelum terlalu overthinking, cek dulu prosesnya.
Apakah bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita sudah dikerjakan sebaik-baiknya?
Kalau belum, perbaiki.
Kalau sudah, lanjutkan evaluasi dengan kepala yang lebih jernih.
3. Tim Harus Satu Sisi
Hal ketiga, ketika faktor eksternal belum memberikan hasil yang diinginkan, perusahaan harus berdiri di sisi yang sama.
Bukan langsung mencari siapa yang bisa disalahkan.
Karena banyak sekali faktor yang tidak bisa dipaksakan. Ada hal-hal yang sudah kita usahakan dengan baik, tapi hasilnya tetap belum sesuai harapan karena dunia luar tidak bergerak sesuai rencana kita.
Kalau internal sudah bekerja dengan benar, SOP sudah dijalankan, evaluasi sudah dilakukan, dan upaya perbaikan sudah dicoba, maka respons yang sehat adalah mencari solusi bersama.
Bukan menumpuk beban ke satu orang.
Karena ketika kita terlalu memaksakan hal yang tidak bisa dikontrol, yang muncul sering kali bukan solusi, tapi stres.
Kita jadi merasa tidak berdaya. Lalu karena merasa tidak berdaya, kita malah tidak melakukan apa-apa.
Padahal masih banyak pekerjaan lain yang bisa kita lakukan. Masih banyak area yang bisa diperbaiki. Masih banyak langkah yang ada dalam kendali kita.
Tim yang sehat harus bisa membedakan mana yang tanggung jawab internal, mana yang faktor eksternal, dan mana yang harus diselesaikan bersama.
Jangan Overthinking Sendirian
Menurut saya, overthinking dalam pekerjaan sering muncul karena batasnya kabur.
Batas peran kabur.
Batas tanggung jawab kabur.
Batas kontrol kabur.
Akhirnya semua terasa seperti salah kita.
Padahal bekerja dalam tim artinya kita punya bagian, bukan menanggung semuanya sendirian.
Yang bisa kita lakukan adalah memahami peran, menjalankan proses sebaik mungkin, mengikuti SOP, mengevaluasi, dan terus memperbaiki bagian yang ada dalam kendali kita.
Di luar itu, kita perlu berdiri bersama sebagai tim.
Bukan saling menyalahkan.
Bukan saling melepas tangan.
Tapi saling memahami bahwa tidak semua hasil bisa dipaksa oleh satu orang.
Ownership yang sehat bukan berarti memikul semua kegagalan.
Ownership yang sehat adalah tetap bergerak, tetap evaluasi, dan tetap memperbaiki hal yang memang bisa kita kendalikan.
Leave a Reply