Masih dalam rangkaian one on one.
Dalam salah satu sesi, muncul cerita tentang rasa bersalah ketika kita tidak bisa menjalankan tanggung jawab yang biasanya hanya bisa kita lakukan sendiri.
Situasinya cukup manusiawi.
Ada pekerjaan yang seharusnya kita pegang. Ada tanggung jawab yang biasanya ada di pundak kita. Tapi karena ada kondisi lain yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya pekerjaan itu harus didelegasikan ke orang lain.
Lalu muncul rasa tidak enak.
“Harusnya saya yang melakukan.”
“Kenapa harus saya wakilkan?”
“Apakah saya jadi merepotkan orang lain?”
Saya rasa perasaan seperti ini cukup sering muncul, terutama pada orang yang punya rasa tanggung jawab tinggi. Tapi kalau tidak dikelola, rasa tanggung jawab bisa berubah jadi rasa bersalah yang melelahkan.
Padahal kita memang tidak bisa jadi dua orang di dua tempat yang berbeda.
1. Pisahkan yang Wajib dan Bisa
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami dengan jernih mana pekerjaan yang memang harus kita kerjakan sendiri, dan mana pekerjaan yang bisa didelegasikan.
Ini penting, karena dalam bekerja pasti ada momen kita tidak bisa selalu standby.
Kadang kita harus izin. Kadang kita harus cuti. Kadang kita harus libur. Kadang ada urusan keluarga, kesehatan, atau kondisi insidental lain yang memang lebih penting untuk diurus saat itu.
Kalau sejak awal kita sudah tahu pekerjaan mana yang hanya bisa kita lakukan sendiri, kita bisa mengantisipasinya dengan lebih baik.
Misalnya, kalau memang ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa diwakilkan, maka kita perlu izin atau mengomunikasikannya kepada pihak yang memberi pekerjaan. Supaya ekspektasinya jelas.
Tapi kalau ada pekerjaan yang bisa didelegasikan, maka kita juga perlu menyiapkan alurnya. Siapa yang bisa menggantikan. Apa yang harus disampaikan. Dokumen apa yang perlu diberikan. Bagian mana yang butuh perhatian.
Dengan begitu, izin atau cuti tidak berubah jadi kepanikan bersama.
Karena masalahnya sering bukan pada kita tidak hadir, tapi pada tidak jelasnya mana yang bisa ditinggal dan mana yang tidak.
2. Kalau Sudah Didelegasikan, Ikhlaskan
Hal kedua, kalau memang pekerjaan itu bisa didelegasikan dan kita sudah melakukan prosedurnya dengan benar, ya sudah, ikhlaskan.
Ini mungkin terdengar sederhana, tapi praktiknya tidak mudah.
Karena kadang kita sudah izin dengan benar, cuti dengan benar, mengabari dengan benar, bahkan mengondisikan orang yang menggantikan dengan cukup baik. Tapi tetap saja, hati masih tidak tenang.
Padahal begitu kita meninggalkan pekerjaan, biasanya ada alasan yang lebih penting.
Kalau kita sudah berani izin atau cuti, artinya ada sesuatu yang memang perlu menjadi prioritas. Maka fokuslah ke hal itu.
Karena agak tidak masuk akal kalau kita memilih mengurus sesuatu yang lebih penting, tapi sepanjang waktu pikiran kita tetap tertinggal di pekerjaan.
Akhirnya yang penting tidak selesai dengan tenang, pekerjaan juga tidak benar-benar kita pegang.
Kita tidak bisa selalu menyambi semuanya. Tidak semua hal bisa dijalankan bersamaan. Tidak semua kondisi memungkinkan kita tetap hadir dalam dua peran sekaligus.
Jadi kalau sudah didelegasikan dengan baik, belajar untuk percaya.
Percaya pada orang yang membantu. Percaya pada prosedur yang sudah disiapkan. Dan percaya bahwa tidak semua tanggung jawab harus selesai lewat tangan kita sendiri.
3. Kalau Masih Mengganjal, Perjuangkan
Hal ketiga, kalau ternyata rasa tidak enak itu masih sangat mengganjal, dan kita memang masih punya ruang untuk melakukan sesuatu, ya lakukan secukupnya.
Bukan untuk membatalkan cuti. Bukan untuk tetap bekerja penuh. Tapi untuk membuat hati lebih tenang.
Misalnya, kita sedang izin atau libur, tapi masih punya waktu satu jam untuk mengecek hal penting, memberi arahan singkat, atau memastikan transisi berjalan baik. Kalau itu realistis dan tidak mengganggu prioritas utama, ya tidak apa-apa dilakukan.
Karena kadang masalahnya bukan kita tidak bisa membantu sama sekali. Tapi kita tidak memberi bentuk tanggung jawab yang membuat diri kita merasa tenang.
Namun ini juga perlu hati-hati.
Jangan sampai semua izin berubah jadi kerja remote terselubung. Jangan sampai semua cuti tetap terasa seperti shift tambahan. Jangan sampai rasa tidak enak membuat kita tidak pernah benar-benar selesai dari pekerjaan.
Kalau memang masih bisa membantu sedikit, lakukan dengan batas yang jelas.
Kalau memang tidak bisa, ya kembali ke poin sebelumnya: ikhlaskan.
Yang penting jangan hanya dipenuhi rasa bersalah, tapi tidak mengambil keputusan apa pun.
Tanggung Jawab Bukan Selalu Mengerjakan Semua
Sesi ini mengingatkan saya bahwa tanggung jawab bukan berarti semua hal harus kita kerjakan sendiri.
Tanggung jawab juga bukan berarti semua hal harus selesai hari itu juga melalui tangan kita.
Kadang tanggung jawab berarti mengomunikasikan bahwa kita tidak bisa hadir. Kadang berarti menyiapkan delegasi. Kadang berarti mengembalikan ekspektasi kepada orang yang memberi pekerjaan, lalu menyepakati kapan hal itu bisa diselesaikan lagi.
Karena izin dan cuti memang ada untuk situasi ketika kita punya kepentingan lain yang perlu didahulukan.
Maka yang perlu kita latih bukan hanya menjadi orang yang tidak enakan. Bukan juga menjadi orang yang memaksa diri untuk tetap mengerjakan semuanya.
Yang perlu kita latih adalah menjadi orang yang bertanggung jawab dengan jernih.
Tahu kapan harus mengerjakan sendiri. Tahu kapan harus mendelegasikan. Tahu kapan harus fokus ke hal yang lebih penting. Dan tahu kapan cukup berkata, “Saya belum bisa hari ini, tapi saya akan selesaikan di waktu yang tepat.”
Karena kita tidak bisa jadi dua orang.
Dan menerima itu juga bagian dari menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Leave a Reply