Hari ini saya ingin membahas one on one.
Lucunya, ini saya tulis saat kami juga sedang ada di tengah proses one on one. Jadi, sambil melakukan one on one, saya juga merefleksikan bagaimana seharusnya one on one berjalan.
Bagi saya, one on one adalah sesi empat mata untuk ngobrol lebih dalam. Bukan hanya soal kerjaan, bukan hanya soal update tugas, dan bukan juga sekadar formalitas karena kalender bilang harus ketemu.
Di LindungiHutan, saya mencoba membuat sesi one on one dengan seluruh karyawan setiap satu kuartal. Frekuensinya memang tidak sering. Durasinya juga tidak panjang. Tapi justru karena itu, saya merasa sesi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Dari pengalaman saya, ada beberapa hal yang perlu dipahami supaya one on one tidak berubah menjadi meeting biasa.
1. Jangan Menunggu One on One
Menurut saya, hal-hal yang sifatnya pekerjaan urgent tidak seharusnya ditahan untuk dibahas di one on one rutin.
Apalagi kalau one on one itu hanya dilakukan satu kuartal sekali.
Kalau ada masalah penting, butuh keputusan cepat, atau ada hal yang harus segera disampaikan ke atasan, manajer, atau CEO, ya jangan tunggu jadwal one on one.
Karena kalau hal urgent ditunda sampai momen kuartalan, kemungkinan besar masalahnya sudah keburu membesar. Yang awalnya bisa diselesaikan cepat, akhirnya jadi kusut karena terlalu lama disimpan.
One on one bukan tempat menumpuk semua hal yang tidak sempat dibicarakan.
Kalau urgent, minta waktu secepatnya. Kalau tidak bisa meeting, kirim teks. Kalau perlu klarifikasi, langsung sampaikan.
Jangan sampai one on one yang niatnya membangun kedekatan malah berubah menjadi tempat bongkar muatan masalah yang sudah kadaluarsa.
2. Personal Itu Tidak Salah
Sering kali orang terlalu kaku membedakan personal dan profesional.
Seolah-olah kalau sedang di kantor, yang boleh dibahas hanya pekerjaan. Padahal dalam konteks one on one, menurut saya, membahas hal personal itu tidak apa-apa.
Tentu bukan berarti semua hal pribadi harus dibuka. Tapi kalau ada hal personal yang memengaruhi cara kerja, perasaan, motivasi, atau hubungan dengan perusahaan, kenapa tidak dibicarakan?
Karena salah satu tujuan one on one adalah membangun kepercayaan.
Kalau obrolannya hanya soal pekerjaan, target, progres, dan masalah teknis, jadinya tidak jauh berbeda dari meeting biasa. Ada informasi yang tersampaikan, tapi belum tentu ada kedekatan yang terbangun.
Padahal kalau one on one dilakukan dengan benar, sesi ini bisa membuat hubungan antara perusahaan dan karyawan terasa lebih dekat.
Karyawan merasa didengar. Perusahaan bisa memahami konteks manusia di balik pekerjaan. Dan hubungan kerja jadi tidak cuma terasa seperti transaksi tugas dan gaji.
Kadang yang membuat orang bertahan bukan hanya pekerjaannya, tapi karena merasa ada orang yang mau mendengarkan.
3. Sesuaikan dengan Orangnya
Saya tidak merasa ada satu format one on one yang bisa dipakai untuk semua orang.
Karena setiap orang berbeda.
Ada yang datang dengan banyak pertanyaan. Ada yang datang dengan banyak cerita. Ada yang sebenarnya hanya ingin didengarkan. Ada juga yang ingin mendapat nasihat, arahan, atau sudut pandang dari orang yang lebih dulu mengalami.
Makanya sesi one on one saya biasanya saya sesuaikan dengan orangnya.
Kalau ada hal yang ingin saya tanyakan, saya tanyakan. Kalau orangnya butuh cerita, saya dengarkan. Kalau butuh sudut pandang, saya coba beri perspektif. Kalau butuh validasi, saya bantu baca situasinya.
Saya sering memosisikan diri sebagai “abang-abangan” yang bisa memberi point of view.
Bukan berarti selalu paling tahu. Tapi mungkin karena posisi dan pengalaman saya, ada beberapa hal yang bisa saya bantu lihat dari sudut yang berbeda.
Bagi saya, yang penting bukan formatnya harus seragam. Yang penting kedua belah pihak sama-sama mendapat manfaat dari sesi itu.
Manfaatkan Waktu Kecil
Kalau kita terlalu fokus pada durasi dan frekuensi, one on one bisa terlihat tidak penting.
Kok cuma 30 menit?
Kok cuma satu kuartal sekali?
Kok sebentar sekali?
Tapi cara melihatnya bisa dibalik.
Justru karena waktunya hanya 30 menit, bagaimana kita membuat 30 menit itu berarti? Justru karena ketemunya hanya satu kuartal sekali, bagaimana sesi itu bisa menjadi titik pengingat yang penting?
Bagi saya, one on one bisa menjadi semacam milestone kecil.
Titik untuk berhenti sebentar. Mengecek kabar. Mendengar cerita. Memberi perspektif. Mengingatkan lagi bahwa di balik struktur kerja, masih ada manusia yang sedang bertumbuh bersama.
Mungkin tidak semua masalah selesai dalam satu sesi. Mungkin tidak semua pertanyaan terjawab sempurna.
Tapi kalau setelah one on one seseorang merasa lebih didengar, lebih dekat, atau lebih yakin bahwa ia bekerja di lingkungan yang peduli, menurut saya itu sudah sangat berarti.
Karena kadang, setengah jam yang dipakai dengan benar bisa meninggalkan rasa yang lebih panjang dari sekadar satu kuartal.
Leave a Reply