Hari 121: Stay atau Lompat?

Karena saya sempat skip 17 hari, saya mulai lupa momentum-momentum apa saja yang terjadi setiap hari.

Jadi untuk hari ini, saya coba ambil pertanyaan yang saya dapatkan dari sesi one on one sebagai bahan refleksi. Harapannya, jawaban saya ke satu orang bisa juga jadi pembelajaran untuk orang lain.

Pertanyaannya sederhana, tapi cukup sering muncul di kepala banyak orang:

Berapa lama sih idealnya kita bekerja di satu kantor?

Apakah kalau terlalu sering lompat-lompat itu jelek? Atau justru kalau terlalu lama stay di satu tempat juga bisa jadi masalah?

Jawaban saya sebenarnya: tergantung.

Memang terdengar seperti jawaban paling aman sedunia. Tapi untuk urusan karier, saya rasa tidak semua hal bisa dipukul rata. Ada orang yang butuh eksplorasi. Ada orang yang butuh stabilitas. Ada juga yang butuh waktu lebih lama untuk memahami dirinya sendiri.

Jadi mungkin yang lebih penting bukan langsung menentukan harus stay atau lompat, tapi memahami dulu pertimbangannya.

1. Cari Tahu Nyamannya

Menurut saya, hal pertama yang perlu dicari adalah: apa yang membuat kita nyaman dalam bekerja?

Bagi orang yang baru pertama kali bekerja, hal ini mungkin belum terlalu terasa. Karena saat awal karier, sering kali kita masih mengejar sesuatu yang kita sendiri belum benar-benar pahami.

Mau gaji besar, tapi belum tahu lingkungan seperti apa yang cocok. Mau tantangan besar, tapi belum tahu jenis tekanan apa yang masih bisa ditanggung. Mau berkembang cepat, tapi belum tahu ritme kerja seperti apa yang tidak membuat kita habis di tengah jalan.

Makanya penting untuk mulai mengenali: saya nyaman dengan apa?

Apakah dengan gajinya? Lingkungannya? Tantangannya? Atasannya? Timnya? Fleksibilitasnya? Jenis tugasnya?

Kalau sudah ketemu yang membuat nyaman, dan tempat itu masih memberi ruang tumbuh, ya stay saja.

Kadang kita terlalu sibuk bertanya kapan harus pergi, padahal belum tentu tempatnya yang salah. Bisa jadi kita hanya belum jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita cari.

2. Awal Karier Boleh Eksplorasi

Menurut saya, tidak ada parameter pasti soal harus bekerja berapa lama di satu tempat.

Tidak ada aturan mutlak bahwa satu tahun pasti terlalu sebentar, dua tahun pasti ideal, atau tiga tahun baru terlihat serius.

Apalagi kalau masih di awal karier. Justru fase itu menurut saya wajar digunakan untuk eksplorasi diri.

Kalau bisa, sebelum lulus pun magang sebanyak-banyaknya. Coba banyak lingkungan. Coba banyak tipe pekerjaan. Coba banyak gaya atasan. Coba banyak kultur kantor.

Bukan untuk terlihat sibuk, tapi supaya punya referensi.

Karena tanpa referensi, kita sering menilai sesuatu hanya dari satu pengalaman. Satu kantor buruk, lalu mengira semua kantor begitu. Satu atasan tidak cocok, lalu mengira dunia kerja memang menyebalkan. Satu pekerjaan terasa berat, lalu mengira kita tidak punya kemampuan.

Padahal mungkin kita hanya belum menemukan tempat, peran, atau ritme yang cocok.

Jadi kalau masih awal karier, menurut saya tidak apa-apa mengeksplorasi. Tapi setelah beberapa tahun, idealnya kita mulai punya pola. Mulai tahu apa yang dicari. Mulai bisa membaca mana yang hanya tidak nyaman sementara, dan mana yang memang tidak cocok secara prinsip.

Eksplorasi boleh, tapi jangan sampai lompat hanya karena setiap tempat baru terasa lebih menarik dari kejauhan.

3. Stay Lama Juga Tidak Salah

Di sisi lain, kalau sejak awal karier kita sudah menemukan tempat yang nyaman, lalu stay lama di satu tempat, itu juga tidak salah.

Tidak semua orang harus punya perjalanan karier yang penuh pindah kantor, pindah industri, pindah kota, pindah peran, lalu ditutup dengan caption LinkedIn yang sangat inspiratif.

Ada orang yang memang lebih cocok tumbuh dalam stabilitas. Ada orang yang tidak terlalu suka mengulang adaptasi dari nol. Ada orang yang tahu dirinya tidak terlalu kuat menghadapi proses mulai lagi.

Dan itu tidak apa-apa.

Kalau kita sudah mengenali bahwa diri kita lemah dalam memulai lagi, lalu tempat sekarang masih baik, masih memberi ruang, masih sesuai prinsip, kenapa harus dilepas hanya demi mencari sesuatu yang belum tentu lebih cocok?

Kadang kita merasa harus pindah karena melihat orang lain pindah. Padahal ukuran hidup orang lain tidak selalu cocok dipakai sebagai ukuran hidup kita.

Yang penting bukan apakah kita stay atau lompat. Yang penting adalah apakah keputusan itu sadar, bukan sekadar ikut arus.

Kenali Diri Dulu

Jadi, berapa lama idealnya bekerja di satu kantor?

Jawaban saya tetap: tergantung.

Tergantung kita sedang berada di fase apa. Tergantung apa yang kita cari. Tergantung apa yang masih bisa ditoleransi. Tergantung prinsip apa yang tidak boleh dilanggar.

Makanya sebelum buru-buru memutuskan stay atau lompat, coba kenali diri dulu.

Apa yang membuat kita nyaman? Apa yang membuat kita tidak oke? Apa yang bisa dinegosiasikan? Apa yang tidak bisa ditawar? Apakah kita butuh eksplorasi, atau sebenarnya kita butuh mendalami?

Perbanyak referensi. Dengarkan cerita kiri-kanan. Bandingkan pengalaman. Tapi pada akhirnya, tetap kembali ke diri sendiri.

Karier bukan lomba siapa paling sering pindah. Bukan juga lomba siapa paling lama bertahan.

Karier adalah proses mengenali diri, lalu membuat keputusan yang paling masuk akal untuk hidup kita sendiri.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *