Hari 120: Balik ke Jalur

Setelah 17 hari hiatus, akhirnya saya kembali lagi.

Hiatusnya bukan karena sengaja mau menghilang. Tapi ya, begitulah hidup. Ada banyak urusan yang terasa lebih penting, lebih mendesak, dan lebih tidak bisa ditunda.

Padahal sebelumnya saya punya target pribadi: membuat konten setiap hari, merefleksikan diri, dan membaca buku setiap minggu. Target yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata butuh komitmen yang tidak sederhana.

Jadi hari ini saya mau balik lagi ke jalur juara kita, teman-teman.

Biar tidak hilang begitu saja, saya mau jujur dulu. Ini tiga alasan kenapa saya bisa hiatus 17 hari.

1. Menunda Itu Licin

Awalnya cuma skip satu hari.

Saya ingat, waktu itu hari Kamis. Dalam kepala saya, “Nanti saja direkap Sabtu atau Minggu.”

Masalahnya, menunda itu jarang berhenti di satu titik. Sekali ditunda, besoknya terasa lebih mudah untuk ditunda lagi. Lalu besoknya lagi. Lalu tiba-tiba sudah lewat 17 hari.

Kadang masalahnya bukan karena kita tidak mau melakukan. Tapi karena kita terlalu percaya diri bahwa nanti masih sempat.

Padahal “nanti” itu sering punya agenda sendiri. Dan biasanya, agendanya bukan membantu kita.

2. Keluarga Tetap Prioritas

Alasan kedua, ada urusan keluarga.

Bagi saya, konten ya tetap konten. Penting, tapi bukan yang paling penting.

Keluarga tidak selalu bisa dijadikan konten. Bahkan sering kali, justru yang paling penting dalam hidup memang tidak perlu dikontenin.

Jadi saat ada hal yang lebih urgent, saya memilih untuk mengurus itu dulu. Bukan karena target konten tidak penting, tapi karena ada prioritas yang harus didahulukan.

Di titik ini saya juga belajar, konsisten bukan berarti memaksa semua hal tetap berjalan dalam kondisi apa pun. Kadang konsisten juga berarti tahu kapan harus berhenti sebentar, lalu kembali lagi dengan sadar.

3. Deadline Mengambil Slot

Alasan ketiga, ada pekerjaan yang hanya bisa saya kerjakan di luar jam kerja.

Ini yang cukup sulit.

Karena konten harian ini juga saya kerjakan di luar jam kerja. Sementara pekerjaan itu punya deadline, sifatnya mendesak, dan tidak bisa ditunda terlalu lama.

Akhirnya, ketika dua hal rebutan slot waktu yang sama, salah satunya harus kalah. Dan kali ini, konten yang kalah.

Saya tidak mau terlalu membenarkan diri. Karena tetap saja, faktanya saya miss 17 hari.

Tapi dari situ saya jadi sadar, kalau sesuatu ingin dijaga konsistensinya, tidak cukup hanya mengandalkan niat. Harus ada sistem, slot waktu, dan cara kerja yang lebih realistis.

Yang Perlu Diingat

Ini pengakuan salah saya: saya miss ngonten 17 hari.

Bukan sesuatu yang membanggakan, tapi juga bukan alasan untuk berhenti total.

Kadang yang penting bukan hanya tidak pernah jatuh. Tapi mau mengakui jatuhnya, tahu penyebabnya, lalu mulai lagi.

Semoga dari pengakuan ini muncul tanggung jawab baru. Bukan tanggung jawab yang berat dan penuh rasa bersalah, tapi tanggung jawab untuk mengusahakan lagi.

Pelan-pelan, satu konten sehari.

Kita mulai kembali bergerilya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *