Mulai 2026 saya punya resolusi mingguan: setiap minggu menamatkan satu buku, lalu bikin rangkumannya supaya saya bisa look back—minggu ini belajar apa, dan apa yang benar-benar saya bawa ke hidup saya.
Buku pertama yang saya tamatkan di 2026: Feel Good Productivity karya Ali Abdaal.
Yang bikin buku ini terasa “kena” adalah angle-nya: produktivitas bukan dimulai dari “lebih keras” atau “lebih disiplin”, tapi dari sesuatu yang lebih manusiawi: gimana caranya kita merasa cukup baik (feel good) untuk tetap jalan. Bukan produktif yang dipaksa, tapi produktif yang tumbuh dari energi, keterhubungan, dan sistem yang waras.
Di buku ini, struktur besarnya rapi: 3 bagian, dan tiap bagian punya 3 fondasi.
Bagian 1 — Menaikkan Energi
Kalau mau produktif, fondasi paling awal bukan jadwal. Energi. Kalau energi drop, strategi secanggih apa pun jadi teori.
1) Spirit bermain: petualangan, kesenangan, turunkan ekspektasi
Energi naik saat kita kembali punya rasa “main”:
- hidup terasa seperti petualangan, bukan hukuman,
- kita menemukan kesenangan dalam proses,
- dan kita berani menurunkan ekspektasi agar bisa mulai.
Saya suka konsep ini karena banyak hal gagal bukan karena sulit, tapi karena kita menuntut “hasil sempurna” sejak langkah pertama. Padahal kadang yang kita butuhkan cuma: mulai dulu, jelek dulu, jalan dulu.
2) Otonomi: rasa memegang kendali
Energi juga lahir dari sense of control. Ini saya tangkap lewat tiga hal:
- percaya diri (saya bisa),
- keterampilan (saya ngerti caranya),
- dan mengganti cara saat kita tidak bisa melepas hal yang harus dilakukan.
Intinya: kalau kita merasa jadi korban keadaan, energi habis. Kalau kita merasa punya pilihan (meski kecil), energi naik.
3) Hubungan: merasa bagian dari sesuatu
Produktivitas bukan kerja sendirian. Energi bisa naik kalau:
- kita merasa bagian dari tim,
- kita membantu orang lain dan juga mau minta bantuan,
- kita melakukan sesuatu yang membuat orang lain senang.
Ini bagian yang terasa “hangat”: produktif itu bukan selalu soal menang sendiri, tapi soal jadi bagian dari komunitas yang saling menguatkan.
Bagian 2 — Menyingkirkan Hambatan
Setelah energi ada, masalah berikutnya biasanya bukan niat—tapi hambatan. Hambatan yang membuat kita menunda, takut, macet, atau nggak jalan.
Di sini, buku membahas hambatan emosional, dan cara menghadapinya.
1) Ketidakpastian
Kalau kita merasa semuanya nggak jelas, otak cenderung menahan diri.
Tiga cara melawan ketidakpastian:
- tahu mengapa kita melakukan ini,
- tahu apa yang harus dilakukan,
- tahu kapan melakukannya.
Saya suka poin “kapan”, karena banyak rencana gagal bukan karena ide buruk, tapi karena nggak ada pemicu yang jelas. Jadinya menunggu “mood”.
Kamu juga menulis pendekatan tujuan yang kamu catat: NICE (near-term, input-based, controllable, energizing). Saya tangkap maksudnya begini:
- bikin target yang dekat (bukan 1 tahun doang),
- berbasis input (yang bisa kita lakukan),
- terkendali (bergantung pada kita),
- dan menguatkan energi (bukan bikin benci).
Ini nyambung banget sama tema blog harian kita: bukan “jadi penulis hebat”, tapi “nulis 10–20 menit tiap hari”.
2) Ketakutan
Banyak penundaan itu sebenarnya takut: takut jelek, takut salah, takut dinilai.
Tiga langkah yang kamu catat:
- pahami takutnya: sebenarnya takut apa?
- kurangi takutnya dengan pertanyaan “10 menit lagi, 10 minggu lagi, 10 tahun lagi” kalau ini dibiarkan,
- dan sadari: seringkali kita merasa semua orang melihat kita, padahal… nggak ada yang peduli sedetail itu.
Kalimat terakhir ini pedih tapi melegakan. Kita sering jadi pusat perhatian di kepala kita sendiri.
3) Kelambanan (inertia)
Kadang kita tahu harus ngapain, tapi tetap lamban. Di sini kamu menangkap:
- cari friksi yang bikin lambat (terlalu ribet, terlalu banyak langkah),
- coba mulai dengan langkah kecil,
- dan bikin sistem dukungan jangka panjang.
Intinya: jangan melawan lamban dengan marah-marah ke diri sendiri. Lawan dengan desain: kurangi friksi, tambah dorongan.
Bagian 3 — Menjaga Produktivitas Tetap Panjang
Musuh produktivitas jangka panjang bukan malas. Tapi burnout.
Kamu membagi burnout jadi tiga sumber, dan masing-masing ada “tiga obat”.
1) Beban kerja berlebihan
Cara melawannya:
- tahan diri dari komitmen berlebihan (belajar bilang tidak),
- kurangi distraksi (bahkan sampai akses medsos dibikin “lebih susah”),
- bikin ruang istirahat (jangan penuh kerja seharian).
2) Kurang istirahat yang benar
Energi habis kalau istirahatnya nggak bener.
Solusinya yang kamu catat:
- ciptakan ketenangan lewat proyek yang memberi rasa: calm, competence, autonomy, liberty, mellow,
- habiskan waktu dengan alam (atau minimal “bawa alam” lewat hal-hal sederhana seperti wallpaper/visual),
- dan kadang: istirahat ya istirahat — nggak perlu produktif juga saat istirahat.
Ini saya suka: istirahat tidak perlu dibuktikan.
3) Ketidakselarasan (tanpa tujuan)
Burnout juga datang saat kita bekerja tanpa “kenapa”.
Cara mengatasinya:
- perspektif jangka panjang (akhirnya mau ke mana),
- jangka menengah (12 bulan lagi apa yang bisa dirayakan kalau dilakukan tiap hari),
- jangka pendek (hari ini mulai apa untuk arah itu).
Ini seperti mengikat hari ini ke masa depan, supaya kerja harian nggak terasa hampa.
Yang paling saya suka: buku ini ngajak eksperimen, bukan nyuruh patuh
Kesan besar saya: buku ini bukan cuma “teori produktivitas”. Ada pola yang kamu tangkap: tiap bab ada poin, lalu ada eksperimen—cara mencoba, mengecek manfaat, lalu mengevaluasi.
Kalau works, lanjut. Kalau nggak, ganti.
Ini penting, karena produktivitas itu bukan agama. Ini metode. Harus fleksibel.
Esensi Feel Good Productivity versi saya
Kalau saya ringkas dengan bahasa saya sendiri:
Produktivitas terbaik bukan yang paling keras, tapi yang paling bisa kita jalani dengan hati yang nggak memberontak.
Bukan “disiplin dulu baru bahagia”. Tapi seringnya kebalik:
ketika kita merasa lebih baik—lebih jelas, lebih punya energi, lebih punya dukungan—kita jadi lebih mudah produktif.
Dan buat proyek blog harian ini, saya mau bawa ini sebagai kompas:
- jangan bikin menulis jadi siksaan,
- bikin prosesnya ringan dan bisa dinikmati,
- kecil dulu, konsisten dulu,
- dan evaluasi dengan eksperimen, bukan dengan self-judgement.
Minggu pertama selesai. Buku pertama selesai.
Bismillah, lanjut buku kedua.
Leave a Reply