Hari ke-108 ini sempat tertunda empat hari dari jadwal semula.
Dari satu obrolan dan tontonan, saya jadi kepikiran soal sesuatu yang sebenarnya sering terjadi di banyak konteks: ketika satu orang pergi, satu posisi kosong, atau satu peran hilang, bagaimana cara kita mencari penggantinya?
Kadang kita merasa yang penting posisinya terisi dulu. Yang penting ada orangnya dulu. Yang penting jangan kosong terlalu lama.
Padahal tidak sesederhana itu.
Karena kalau sebuah strategi sebelumnya berhasil karena orang tertentu berada di posisi tertentu, maka ketika orang itu hilang, kita tidak bisa asal mengganti. Skemanya mungkin sama, strateginya mungkin sama, tapi orang yang mengisinya berbeda. Dan perbedaan orang bisa mengubah hasilnya jauh sekali.
Ada tiga catatan yang saya pikirkan.
1. Cari pengganti yang sesuai posisi
Hal pertama, kalau ingin strategi yang lama tetap berjalan, maka penggantinya harus dicari sesuai dengan posisi yang ditinggalkan.
Jangan hanya karena lebih murah. Jangan hanya karena lebih cepat tersedia. Jangan hanya karena “yang penting ada dulu”. Yang perlu dicari adalah profil yang paling mendekati kebutuhan posisi itu.
Karena kalau posisi tertentu punya karakter tertentu, maka penggantinya juga harus punya kualitas yang relevan. Bukan harus sama persis, tapi minimal cukup sepadan untuk membuat strategi yang lama tetap masuk akal dijalankan.
Kalau tidak, kita sebenarnya bukan sedang mengganti orang. Kita sedang mengubah sistem tanpa sadar.
Dan itu bisa berbahaya, karena kita tetap berharap hasil lama muncul dari komposisi baru yang sebenarnya sudah berbeda.
2. Memaksa orang di posisi salah akan membuat masalah baru
Hal kedua, memaksa seseorang berada di posisi yang bukan tempat terbaiknya biasanya akan membawa masalah baru.
Bisa muncul waktu adaptasi yang lebih panjang. Performa yang tidak sesuai harapan. Ekspektasi yang tidak tercapai. Bahkan bisa membuat orangnya terlihat buruk, padahal mungkin dia hanya tidak ditempatkan di ruang yang tepat.
Ini yang sering membuat proses pengganti menjadi melelahkan.
Kita berharap orang baru bisa langsung mengisi lubang lama. Tapi ternyata lubangnya punya bentuk tertentu, sementara orang yang masuk punya bentuk yang berbeda. Akhirnya yang terjadi bukan saling menguatkan, tapi saling memaksakan.
Di titik itu, kita harus banyak bersabar. Tapi juga harus jujur membaca situasi: apakah orang ini benar-benar bisa mengisi posisi itu, atau kita hanya sedang berharap terlalu keras?
3. Kalau orangnya tidak ada, ubah strateginya
Hal ketiga, kalau kita tidak punya orang yang sesuai untuk mengisi posisi tertentu, mungkin pilihan paling rasional bukan memaksa orang yang ada.
Mungkin pilihan yang lebih masuk akal adalah mengubah strateginya.
Ini memang tidak mudah. Apalagi kalau strategi lama sudah terasa nyaman, sudah jadi pakem, dan sudah lama dipakai. Mengubah strategi berarti mengakui bahwa kondisi sekarang tidak sama lagi dengan kondisi sebelumnya.
Tapi kadang itu perlu.
Daripada memaksakan orang yang tidak cocok masuk ke posisi yang tidak pas, lebih baik strategi yang disesuaikan dengan kekuatan orang yang tersedia. Karena strategi yang bagus di atas kertas tetap akan kesulitan kalau tidak ada orang yang tepat untuk menjalankannya.
Jangan cuma mengisi kekosongan
Catatan ini mungkin muncul dari konteks yang spesifik, tapi menurut saya berlaku di banyak hal.
Kalau kita kehilangan sesuatu, jangan buru-buru mencari pengganti hanya supaya terlihat tidak kosong. Cari yang sepadan. Cari yang sesuai. Cari yang memang bisa menjaga fungsi dari posisi itu.
Kalau tidak ada, jangan memaksa.
Lebih baik ubah pendekatan, ubah skema, atau ubah strategi, daripada memaksakan orang yang tidak pas lalu semua pihak jadi pusing sendiri.
Karena kadang masalah bukan terjadi saat posisi kosong.
Masalah justru dimulai ketika posisi itu diisi oleh orang yang tidak tepat, tapi kita tetap berharap hasilnya sama.
Leave a Reply