Hari 106: Balik ke Dasar Dulu

Hari ini saya sempat ada kegiatan untuk e-learning yang lain. Dari situ saya belajar lagi bahwa e-learning itu ternyata sesuatu yang berbeda kalau dilihat dari perspektif yang tepat.

Awalnya saya kira ini kurang lebih seperti kuliah online zaman dulu. Duduk, dengar materi, selesai. Tapi ternyata setelah dijalani, saya merasa ada sudut pandang yang berbeda.

Justru kekuatan dari model seperti ini bukan di kesan canggihnya, tapi di kemampuannya mengajak kita balik ke hal-hal yang mendasar.

Ada tiga hal yang paling saya rasakan.

1. Basic sering justru yang kita butuhkan

Kadang kita merasa sudah ke sana-sini, sudah menghadapi banyak hal, sudah pernah pegang banyak masalah. Tapi ketika diminta menjelaskan dasarnya, istilahnya, atau fondasinya, ternyata kita belum terlalu kokoh.

Menurut saya, ini yang menarik dari e-learning.

Beberapa materi terasa sangat basic, tapi justru basic itu yang sering dibutuhkan. Karena kalau kita langsung belajar dari masalah yang sedang kita hadapi, biasanya yang kita cari hanya solusi jangka pendek. Kita ingin masalah cepat selesai, titik.

Padahal kalau kita tahu dasarnya, tahu istilahnya, tahu fondasinya, kita bisa melihat masalah dari akarnya. Bukan hanya memperbaiki gejala yang muncul di permukaan.

Dan buat saya, itu jauh lebih kuat.

2. Kurikulum membuat kita tidak lompat-lompat

Hal kedua yang menurut saya sangat kuat dari e-learning adalah kurikulum dan strukturnya.

Kalau belajar sendiri, kita sering ingin langsung ke yang teknis. Langsung ke yang kelihatan rumit. Langsung ke yang terlihat paling dibutuhkan sekarang. Akibatnya kita lompat-lompat dan tidak benar-benar tahu hubungan antar topiknya.

Padahal kalau kita belum paham kenapa sesuatu dimulai dari awal, nanti akan sulit saat masuk ke bagian yang lebih kompleks.

Kurikulum membantu kita belajar satu demi satu. Ada urutannya. Ada struktur berpikirnya. Ada tangga yang membuat kita tidak perlu menebak-nebak harus mulai dari mana.

Menurut saya, itu penting. Karena saat satu bidang terasa rumit, minimal kita tahu peta besarnya. Dari sepuluh bab atau sepuluh topik, kita tahu ini letaknya di mana, dasar ini dipakai untuk apa, dan yang belum kita kuasai ada di bagian mana.

Jadi belajar terasa lebih utuh.

3. Fungsinya bukan menjawab semua pertanyaan

Hal ketiga yang saya sadari adalah bahwa e-learning seperti ini sebenarnya bukan alat untuk memberi solusi instan atas semua pertanyaan kita.

Karena formatnya satu arah. Walaupun ada pre-test dan post-test, tetap tidak sama dengan ruang diskusi yang bisa langsung kita interrupt, bertanya, dan dikejar sampai tuntas sesuai konteks kita.

Tapi justru di situlah fungsinya.

E-learning bukan terutama untuk menjawab semua pertanyaan spesifik. Fungsinya adalah memperkaya pengetahuan dasar kita, supaya pertanyaan yang nanti kita ajukan jadi lebih relevan, lebih terarah, dan tidak terlalu mentah.

Dengan dasar yang lebih kuat, kita jadi tidak asal bertanya. Kita juga tidak terlalu cepat mencari shortcut untuk sesuatu yang sebenarnya masih bisa dipahami kalau fondasinya lebih rapi.

Jadi buat saya, ini bukan tempat mencari jawaban instan. Ini tempat membangun dasar supaya jawaban-jawaban lain nanti lebih masuk akal.

Sistematis itu ada gunanya

Sebagai orang yang terbiasa membaca buku dari depan sampai belakang, saya merasa e-learning punya daya tarik yang mirip: sistematika.

Ada alur. Ada fondasi. Ada susunan yang membantu kita belajar dengan lebih tenang.

Mungkin memang tidak selalu menjawab kebutuhan yang paling mendesak hari ini. Mungkin juga tidak terasa secepat itu hasilnya. Tapi justru karena ia mengajari basic, fundamental, dan kerangka berpikir, manfaatnya bisa lebih panjang.

Karena kalau dasar kita ada, biasanya bagian atasnya lebih mudah dibangun.

Dan saat nanti ketemu masalah yang lebih sulit, kita tidak mulai dari nol. Kita sudah punya tempat untuk berpijak.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *