Hari ini saya ngisi acara bareng anak-anak magang, seperti biasa dalam format podcast kecil. Pembahasannya menarik karena menyentuh tema yang sering banget bikin orang bingung: sebenarnya karier itu harus ngikutin passion, atau passion yang ngikutin karier?
Menurut saya, pertanyaan itu menarik justru karena sering dibayangkan terlalu hitam-putih. Seolah-olah kita harus memilih salah satu, padahal realitanya tidak sesederhana itu.
Di sesi tadi, ada tiga insight yang saya sampaikan.
1. Bukan ngikutin passion, tapi bawa passion ke mana pun
In my humble opinion, saya tetap merasa kita harus bergerak bersama passion. Tapi bukan berarti hidup harus kaku mengikuti satu bentuk pekerjaan tertentu.
Buat saya, yang lebih penting adalah: passion kita itu dibawa ke mana pun kita pergi.
Karena kalau kita membayangkan passion harus selalu hadir dalam bentuk paling ideal, kita bisa cepat bentur realita. Tidak semua pekerjaan menyediakan ruang sempurna. Tidak semua situasi langsung cocok. Tapi kalau kita sudah tahu inti passion kita apa, kita bisa tetap membawanya ke ruang yang berbeda-beda.
Jadi bukan semata “saya harus kerja persis sesuai passion”, tapi “passion saya ini bisa hidup di ruang mana saja?”
Menurut saya, itu jauh lebih realistis.
2. Passion sering tertukar dengan job title
Kadang orang bingung mencari passion karena dari awal sudah menyamakannya dengan jabatan.
Padahal menurut saya, passion itu harusnya sesuatu yang lebih umum, lebih mendasar, dan lebih fleksibel. Sesuatu yang bikin kita hidup, senang, dan merasa punya tenaga. Lalu setelah itu baru kita bicara: medianya apa? bentuk kerjanya apa? jalurnya lewat mana?
Misalnya, passion seseorang adalah membuat karya yang bikin orang lain senang. Nah, itu bisa muncul di banyak bentuk. Bisa lewat film, desain, musik, menulis, content creation, editing, bahkan lewat peran-peran yang secara jabatan terlihat berbeda.
Kalau dari awal kita mengira passion itu harus sama dengan job title, kita jadi sempit. Seolah-olah kalau tidak dapat jabatan itu, berarti kita jauh dari passion. Padahal belum tentu.
Menurut saya, yang lebih penting adalah tahu inti yang membuat kita bahagia dulu. Setelah itu baru dicari medianya.
3. Passion bukan sekadar semangat sesaat
Hal ketiga yang saya sampaikan adalah soal definisi passion itu sendiri.
Buat saya, passion adalah sesuatu yang membuat kita bahagia dan tetap ingin kita jalani, bahkan saat tidak selalu ada imbalan langsung di depan mata. Ada unsur menikmati, ada unsur hidup, ada unsur rela memberi energi ke sana.
Karena kalau kita hanya semangat saat ada faktor eksternal, bisa jadi yang kita kejar sebenarnya bukan passion itu sendiri. Bisa jadi yang kita kejar adalah uangnya, validasinya, pengakuannya, atau statusnya.
Itu bukan salah. Tapi perlu dibedakan.
Karena kadang orang merasa sudah menemukan passion, padahal yang membuat dia bersemangat adalah hal-hal di luar pekerjaannya. Misalnya tepuk tangan orang lain, pujian, angka, atau rasa dianggap penting.
Maka penting sekali untuk jujur ke diri sendiri: saya ini sebenarnya menikmati prosesnya, atau menikmati hal-hal yang menempel di sekitarnya?
Kenali diri, lalu jalan sambil mencari
Menurut saya, urusan passion dan karier ini tidak harus diputuskan secara kaku sejak awal.
Bisa saja dijalani paralel dulu. Kita bekerja, mencoba, berinteraksi, gagal, belajar, lalu dari situ pelan-pelan makin kenal diri. Bahkan bukan tidak mungkin justru dari pekerjaan pertama, kedua, atau ketiga, kita menemukan passion baru yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Jadi menurut saya, tidak apa-apa kalau hari ini belum benar-benar tahu jawabannya.
Yang penting tetap bergerak sambil mengenali diri.
Karena semakin banyak mencoba, semakin banyak bertemu realita, dan semakin banyak berproses, biasanya kita makin paham mana yang benar-benar worth it untuk dikejar, dan mana yang ternyata hanya terdengar menarik di kepala.
Pada akhirnya, sebelum bicara terlalu jauh soal passion atau job, yang paling penting memang mengenali diri sendiri.
Leave a Reply