3. Apa beda tulisan ini dengan sumber lainnya?

Pada prinsipnya saya akan menulis hal yang memang saya ingin baca. Artinya selama ini saya memang belum ketemu secara sadar ketika membaca sesuatu yang sampai bergumam ‘ini dia’. Tapi kalau memang mau kita bandingkan, fitur berikut ini yang coba ditawarkan dalam setiap penulisan pada post-post selanjutnya yang coba saya eksplorasi terus menerus.

  1. Sudut pandang orang ngobrol
    Bayangkan tulisan ini ada bunyinya. Suara saya. Anggap ada mas-mas yang sedang ngomong tentang sesuatu. Bayangkan emosinya. Rasakan ke-soktau-annya. Tentu sulit bagi yang memang belum pernah berinteraksi dengan saya secara langsung. Namun dari ketikannya bisa sangat dibaca kalau ini memang diketik sambil digumamkan. Mengeja sambil menekan keyboard. Bayangkan tulisan lain dengan tutur informatif ala-ala kopas dari mesin atau berita yang isinya kumpulan fakta tanpa tutur.
  2. Lestari
    Saya mencoba hadirkan tulisan yang tak lekang oleh waktu, selalu punya konteks pada saat yang berbeda. Jadi bukan fokus pada peristiwa yang memang terlupa seiring jaman tapi pembelajaran yang diperoleh dari sana. Ketika cerita disampaikan detilnya mungkin hilang, sudut pandang dapat disesuaikan, tapi konteksnya lah yang akan dapat ditarik kesimpulan yang sama. Ambil contoh ketika saya tulis tentang di SD saya pejabat upacara dengan jobdesk pembukaan Undang Undang Dasar, tentu bukan itu substansinya. Melainkan saya sudah membaca dan dilihat orang semenjak dini.
  3. Penuh permisalan
    Dalam dunia obrolan dunia nyata, saya selalu menagih contoh dari lawan bicara saya. Kadang omongan yang ketinggian, konsep yang masih awang, sangat mudah dipahami ketika diberikan contoh yang lebih relevan. Tapi tidak berhenti disana. Contoh yang dipakai memang saya alami, saya dengar, saya baca. Lalu saya tempatkan dalam rentetan peristiwa yang tepat. Sering kita dapati bukan, banyak yang sering bermisal tapi tidak nyambung. Atau kita sampai tertegun dan berbisik ‘terus apa hubungannya’
  4. Bukan kronologis
    Kadang kemalasan kita adalah seakan ada bayangan di benak bahwa setiap buku harus dibaca dari depan sampai belakang. Sampul, daftar isi, prakata, pendahuluan sampai daftar pustaka. Padahal. Kita bisa pilih mana yang disuka, mana yang sedang dibutuhkan para pembaca. Fokus kesana. Jadi dulunya saya ingin bukukan semcam diary. Day to day. Jilid 1 tentang saya di SD, Jilid 2 saat SMP. Tentu akan membosankan, karena sangat mungkin ada yang kita lakukan di SD punya benang merah pada apa yang kita lakukan di SMP.
  5. Bukan kutipan utuh
    Saya tidak bisa menjanjikan dapat menyebut sumber secara baik dan benar. Kadang saya lupa, lebih lagi kadang saya tertarik membawa maknanya timbang kopipaste-nya. Karena tentu saja kalo dari apa yang saya baca kemudian saya tulis, utuh, namanya bukan lagi karya tapi saduran. Ada proses di otak dalam penggabungan quote favorit dengan kejadian, peristiwa, yang akhirnya jadi personal dan unik di antara pembaca buku yang sama, pendengar konten yang sama.
  6. Konsep sampai teknis
    Tak semua yang dicari ada, tak semua orang melihat dari hal yang sama. Pun, ada yang lebih ingin tahu konsep, pikiran di balik sesuatu. Tapi di sisi lainnya lagi, kebutuhannya adalah dilihatkan langkah-langkah. Maka mari tawarkan titikk temu yang bisa kita padupadankan. Saya akan membahas dari teori atau gagasan, sampai ke teknis bagaimana pemikiran itu diwujudkan. Tentu saja itu adalah tulisan yang ingin saya baca.

Jabungan, 18 Januari
Tabik,
Ben
3/350


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *