8. Mengapa kata-kata seperti ini berguna sedang yang lain tidak?

Saya sedang mengingat kembali momen-momen ketika saya mulai mempelajari urusan diet. Dulu waktu masih kurus dan kurang makan, saya sudah membaca tulisan tentang OCD, yang intinya kurangi sarapan dan puasa dalam waktu tertentu. Lalu ketika jaman konten, saya juga sering mendengar dan melihat bagaimana agar kurus.

Lalu ketika berat badan bertambah, saya kunjungi kembali hal-hal lama itu. Ternyata tidak sedikit pun saya beranjak berbuat. Namun ketika sore-sore saya lari dan di earphone saya mendengarkan idola saya cerita bagaimana ia menurunkan berat badan sampe disangka kanker. Saya mengangguk. Saya merasa ada dorongan untuk lebih giat berolahraga.

Ambil contoh yang lain. Tim saya pernah berujar bahwa saya perlu meyimak sebuah karya dari seniman yang sedang naik daun. Saya tidak mencobanya. Sampai suatu waktu, mentor saya bercerita di panggung bahwa strategi si seniman patut dicontoh karena mengenalkan satu per satu karya sebelum dijual bebas. Lalu saya coba menengok karyanya. Memang keren.

Jadi mengapa informasi yang sama tapi datang dari orang berbeda bisa beda juga respon dari kita?. Salah satu alasannya adalah ada faktor percaya pada siapa. Pepatah ‘lihat apa yang dibicarakan bukan siapa yang bicara’ agaknya sulit diimplementasikan dalam dunia nyata. Karena faktor siapa jadi lebih penting ketimbang konten yang dibicarakan.

Itu mengapa kalo sudah ada yang kita benci, omongannya ga masuk telinga kita. Sebaliknya orang yang sudah kita percayai, bahkan tanpa data sekalipun dapat dengan mudah kita patuhi. Maka carilah orang di sekeliling kita adalah orang yang bisa kita percaya. Dalam kerjaan, rumah tangga, pertemanan. Bayangkan satu trust issue membuat waktu dipepnuhi curiga.

Terakhir, salah satu tim saya bertanya tentang siapa dan adakah mentor saya. Jawabannya sebenarnya bukan seterkenal apa dia, sepintar apa dia. Tetapi sepercaya apa kita dengan dia. Karena sia-sia saja kalo yang kita mentorkan adalah yang kita bantah bahkan muncul rasa abai di kepala kita saat dia bicara.

Jabungan, 23 Januari
Tabik,
Ben
8/350


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *