5. Mengapa kita tidak bisa menerima orang lain berselera beda?

Sebenarnya pertanyaan di atas adalah jawaban. Ya, jawabannya ada pada kata ‘selera’. Ini menjelaskan pertanyaan yang lebih umum “Kok masih ada ya yang mau pilih X?”. Pertanyaan ini serupa kalo diganti dengan pertanyaan lain, misal:

  1. Kenapa ada orang yang ga suka makan pedas ya.
  2. Kenapa sekarang sudah murah, ga pada pake IPhone ya.
  3. Kenapa merek itu sih, kan itu bla bla bla.
  4. Ternyata hari gini masih ada ya, yang nabung ga ke bank.

Tentu daftarnya bisa ditambah. Jawabannya adalah ‘selera’. Sekalipun kita bisa menjelaskan bagaimana lezatnya makanan pedas, sensasi di mulut dan perut. Kubu seberang juga punya jawaban ‘belum ngerasain sampai operasi aja lu’. Walaupun sederet fitur dan keunggulan satu brand dijelasin sampe ke cara bayar yang bisa dicicil jadi kecil, kubu seberang bisa cukup menjawab tapi kan logonya beda ga sih. Sekalipun ada logisisaasi atas kenapa pilihan seleranya seperti itu, akan bermuara pada hal yang rapuh dan rawan kalah jika berdebat.

Karena ujungnya memang selera. Ya, semua pria atau wanita punya selera. Seseorang ketika memilih tindakan, perkataan, perbuatan selalu akan memilih yang membuatnya merasa berselera. Pilihan makanan, pilihan baju, pilihan hiburan, yang memang membahagiakan, menyelerakan. Dengan alasan yang kadang tak logis, konsekuensi harga yang lebih mahal, kenyamanan yang terasa kurang. Semua demi selera.

Kalau semua orang berhak punya selera, lalu kenapa kita tidak bisa menerimanya?. Balik ke judul kita hari ini. Jawabannya adalah kita belum mengenali diri kita saja. Pertama jarang orang yang sudah berselera terhadap sesuatu dan cocok lalu mau mencobai selera lawannya. Dua, sekalipun sudah mencoba dua macam selera yang berbeda, ada keberpihakan pada salah satu dan anggapan bahwa tidak mungkin ada yang menyelerainya.

Ulangi jawaban di atas: kalau kita mengenali diri bahwa barangkali kita belum pernah mencicip atau anggapan kosong karena bukan selera itu kita pegang. Ternyata kita orang yang sama dengan seberang. Sama-sama tak saling icip atau sama-sama merendahkan selera orang. Saat kita anggap kok ada yang suka ini, mereka juga sama berfikir atas kita, kok ada juga yang gitu. Oleh demikian, marilah kita sadari diri kita, bahwa semua ini hanyalah soal selera, bukan benar salah, bukan tinggi rendah.

Jabungan, 20 Januari
Tabik,
Ben
5/350


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *