21. Mengapa orang berkumpul lalu berpisah?

Saya pernah berada di pertemanan yang belum sadar bahwa semua hubungan itu akan berakhir. Ini teori yang saya percaya bahwa pertemanan punya jangka waktu. Ketika SD kita dekat karena sekolah bersama, namun ketik berganti SMP, kita pisah. Ada jangka waktunya. Bahkan rekan bekerja juga akan berakhir ketika kita atau mereka resign. Berjangka.

Selain pertemanan, perkumpulan bisa berbentuk komunitas, kelompok, gang, bahkan grup whatsapp. Karena ada tujuan bersama atau karena kesukaan yang sama. Dari panitia reuni sampai grup alumni. Dari grup yang dibuat untuk ngasih kado ke kawinan temen dengan pengantin ga diajak lalu bikin baru sampai komunitas hobi.

Kebebasan berserikat berkumpul dan menyampaikan pendapat tentu dijamin Undang Undang. Tetapi hari berganti, tak lagi seperti saat dirintis. Kelompok membesar. Tapi engagement berkurang. Serupa dengan akun sosmed. Ketika follower 10, lalu 5 yang like, artinya 50% engage. Namun ketika jumlah follower 20 juta bahkan like sejuta aja baru 5%. Sama dengan berkomunitas makin riuh makin sepi. Hanya punggawa yang konsisten bersuara, yang lain datang saat lega saja.

Tentu tiba masa berpisah. Satu per satu tak lagi muncul. Mungkin karena selesai tujuannya. Atau yang lain memang kegemaran yang berubah. Kalau ini berbentuk offline nampak dari makin sepi event yang didatangi. Kalau online mungkin terlihat dari CTA yang ga kemakan oleh peserta. Apakah ini normal, tentu saja. Berjangka.

Namun jika nilai yang sama memang fakta dan dampak berkumpul terasa adanya. Harusnya tinggal percikan sedikit api lalu kobaran itu akan muncul lagi. Munculnya asap karena ada yang menyulut.

Jabungan, 20 Februari
Tabik
Ben
21/350


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *