Ini adalah tulisan setelah absen 15 hari. Setelah dimulai tanggal 15 Januari. Lalu karena tunda menunda sampailah sebulan kemudian, niat itu kembali. Kali ini kita menyoal hal yang memang saya sadar sekali menjadi penyakit. Kebiasaan buruk atau bakat dalam kepercayaan buku saya. Karena pendefinisian bakat sebagai perualangan perilaku.
Ya, menunda sepertinya memang saya telah ulang, ulang dan ulang semenjak dahulu kala. Saya ingat di banyak momen dalam hidup, saya merupakan deadliner. Selalu nunggu sampai momen terakhir baru bergerak. Lalu coba kita urai benang kusut ini.
- Periode Honeymoon
Saat mulai challenge 350Project ini, saya membayangkan saya dapat konsisten melakukan serangkaian list selama satu tahun ke depan. Ternyata patah di minggu ke dua. Awalnya memang karena faktor tak sengaja karena alasan yang memang dapat dibenarkan. Ada bisikan nanti lah, diganti besok aja. Semangat membara pada awal-awal bukankah hal normal bagi kita. Karena lagi seneng-senengnya aja. Ketika sudah tak ada tantangan, pujian atau apa yang diharapkan di awal, biasanya sirna aja tu kebiasaan. Padahal ada rasa bersalah juga. - Meyakini Masi Ada Esok
Hari Saya pernah bertemu dengan seseorang yang saya sangat yakin beliau adalah orang sholih. Padahal baru pertama kali berinteraksi. Tiba-tiba dengan mudahnya saya minta untuk menelpon sejenak, saya minta nasihat. Saya minta jawaban sederhana kenapa kita harus rajin ibadah sekarang. Jawaban orang tersebut singkat namun cukup. Emang yang jamin besok kita masih hidup siapa. Begitu doang. Nampol. Tapi kalau dipikir kembali jawaban ini tentu tepat. Namun dalam urusan dunia keyakinan masih ada esok hari memuluskan alasan untuk menunda. - Tidak Ada Deadline
Berbeda dengan pekerjaan saya untuk orang lain, Project yang saya kerjakan untuk diri saya cenderung lebih gampang diskip. Karena deadline nya juga dari diri sendiri. Kalau untuk urusan yang ditungguin orang, tentu saja saya tidak berleha-leha. Karena sadar pasti ditungguin. Apa saya harus punya sekumpulan orang yang nungguin karya ini ya, agar merasa punya tanggung jawab. Tapi bukankah kalo dorongannya dari luar jadinya demanding dan ga mandiri ya. Susah emang kalo deadliner. - Ketidakpastian Reward dan Punishment
Jika dalam pekerjaan yang memiliki timeframe yang jelas, target yang jelas, reward dan punishment yang jelas, tentu saja pekerjaan itu akan dan harus terdeliver dengan baik juga. Karena sudah ada yang menunggu di belakang. Sedang berkarya untuk diri sendiri kadang bias. Kepuasan itu bisa didapat dari menulis dan selesai. Atau sebaliknya kepuasan bisa bermakna kita ga nulis karena ada urusan lain. Sebaliknya hukuman kadang karena kita kepikiran. Tetapi saat yang sama bukankah punya pikiran berarti ada ide untuk berkarya lagi. Jadi ga jelas.
Kurang lebih itu identifikasi awal saya kenapa saya menunda. Bahkan dua minggu lamanya. Kapankapan dibahas apa penangkalnya. Tapi minimal kenali musababnya.
Jabungan, 15 Februari
Tabik
Ben
16/350
Leave a Reply