Liburan saya hari ini sebenarnya lebih banyak diisi istirahat dan tidur. Tapi di ujung malam, saya sempat mendengarkan reaction atas sebuah interview yang berisi tanya jawab dengan pemimpin kita semua.
Saya tidak menonton versi penuhnya. Saya hanya melihat potongan-potongannya, yang justru dibagikan ulang oleh konten kreator yang saya ikuti. Buat saya, versi begitu malah sering lebih enak karena sudah diringkas dan diambil poin-poin intinya.
Dari situ, saya jadi kepikiran satu hal: menjawab pertanyaan sebagai pemimpin ternyata memang bukan perkara sederhana.
Kadang dari luar kita merasa, kenapa jawabannya muter? Kenapa tidak langsung saja? Kenapa terdengar normatif? Kenapa terasa aman sekali?
Tapi makin dipikir, justru di situlah rumitnya posisi seorang pemimpin. Karena tidak semua pertanyaan bisa dijawab secepat itu, setelanjang itu, dan sepolos itu.
1. Jawaban pemimpin memang sering politis
Salah satu hal yang saya ingat dari mentor saya dulu adalah ini: jawaban pemimpin itu hampir selalu politis.
Bukan berarti selalu bohong. Bukan juga berarti selalu manipulatif. Tapi memang ada posisi yang membuat seseorang tidak bisa menjawab semua hal secara terlalu direct. Akhirnya yang keluar sering terdengar normatif, ideal, dan aman.
Orang yang suka akan menganggap itu jawaban yang bijak. Orang yang tidak suka akan merasa itu muter dan mencari celahnya.
Jadi kadang pilihan yang tersedia memang bukan antara jawaban jujur dan tidak jujur. Tapi antara jawaban yang aman, jawaban yang berisiko, dan jawaban yang dampaknya bisa melebar ke mana-mana.
2. Pertanyaan dan jawaban tetap perlu disiapkan
Pelajaran kedua, jangan pernah meremehkan persiapan.
Kadang kita melihat sesi tanya jawab dan berpikir semuanya spontan. Padahal sering kali pertanyaan yang akan muncul sudah dipetakan, sudah diperkirakan, atau setidaknya sudah dibaca arahnya. Kalau tidak disiapkan, orang bisa kaget dan akhirnya hanya memberi jawaban seadanya.
Masalahnya, jawaban seadanya dari seorang pemimpin sering tidak berhenti jadi jawaban pribadi. Ia bisa dianggap mewakili sikap, arah, bahkan keputusan yang lebih besar.
Karena itu, persiapan bukan berarti pencitraan. Persiapan justru bentuk tanggung jawab. Supaya jawaban yang keluar tidak asal bunyi, tapi punya dasar, konteks, dan pertimbangan.
3. Tidak semua jawaban cocok untuk semua ruang
Hal ketiga yang saya pelajari adalah bahwa tidak semua jawaban bisa disampaikan utuh ke semua orang di semua ruang.
Kadang ada jawaban yang sebenarnya masuk akal kalau didengar oleh orang yang paham konteksnya. Tapi ketika dibawa ke audiens yang lebih luas, konteks itu hilang dan maknanya bisa berubah.
Kadang juga ada hal yang memang terlalu sensitif, terlalu kompleks, atau terlalu mentah untuk diucapkan di ruang tertentu.
Jadi sebagai pemimpin, menjawab itu bukan cuma soal benar atau salah. Tapi juga soal siapa yang mendengar, dalam suasana apa, dengan tingkat pemahaman seperti apa, dan risiko salah tangkapnya sejauh apa.
Bukan berarti pemimpin harus selalu menutupi sesuatu. Tapi memang ada kenyataan bahwa setiap ruang punya kapasitas terimanya sendiri.
Dari situ saya jadi merasa, kalau suatu hari kita ada di posisi memimpin, dalam level apa pun, pelajaran ini relevan sekali.
Menjadi pemimpin bukan hanya soal punya jawaban. Tapi juga soal tahu bagaimana menjawab, kapan harus menjawab, seberapa jauh harus menjawab, dan di ruang mana jawaban itu layak disampaikan.
Karena kadang masalahnya bukan pemimpin tidak mau bicara. Masalahnya adalah satu jawaban yang sama bisa diterima sangat berbeda oleh orang yang berbeda.
Jadi mungkin benar, pemimpin tidak bisa asal jawab.