Hari ini, di hari libur Jumat tanggal merah, saya mencoba mengikuti satu kasus yang cukup mengganggu pikiran saya. Kasusnya tentang tuntutan korupsi yang menyeret seorang videografer freelance di Kabupaten Karo.
Setelah melihat beberapa konten tentang itu, saya jadi kepikiran satu hal: jangan-jangan ada masalah di level target.
Ini menarik, karena kadang masalah besar tidak selalu dimulai dari niat jahat yang besar. Kadang masalahnya justru dimulai dari target yang salah dirancang, lalu diturunkan ke bawah, lalu dikejar tanpa cukup dimaknai.
Kalau targetnya salah, eksekusinya sering ikut salah arah.
Angka memang terlihat tegas. Angka mudah diukur. Angka mudah dilaporkan. Tapi justru karena itulah, angka sering terasa aman padahal maknanya bisa melenceng ke mana-mana.
Hari ini saya jadi belajar beberapa hal tentang target.
1) Target yang salah bisa menggeser makna
Saat target hanya dipahami sebagai angka yang harus dicapai, orang bisa lupa untuk bertanya: sebenarnya angka ini mewakili apa?
Kalau yang dikejar cuma jumlah, maka kualitas bisa hilang di tengah jalan. Sesuatu yang sebenarnya baik tidak lagi dilihat dari apakah ada perbaikan terus-menerus, apakah dampaknya terasa, atau apakah tujuannya tercapai dengan benar. Yang dilihat cuma: angkanya sampai atau tidak.
Di titik itu, target berhenti jadi alat bantu. Dia berubah jadi jebakan.
Karena orang tidak lagi bekerja untuk makna, tapi bekerja untuk memastikan angka di dashboard terlihat aman.
2) Tekanan target bisa membuat cara yang salah terasa wajar
Masalah jadi lebih parah ketika target itu didorong keras dari atas ke bawah, lalu ada sanksi jika tidak tercapai, atau ada reward besar jika berhasil mencapai angka tersebut.
Kalau tekanannya terlalu besar, orang bisa tergoda untuk menghalalkan banyak cara. Bukan karena semuanya berniat buruk dari awal, tapi karena sistemnya memberi sinyal bahwa hasil angka lebih penting daripada proses dan konteks.
Ini berbahaya.
Karena sesuatu yang salah bisa terasa “masuk akal” kalau terus-menerus diberi insentif. Dan sesuatu yang benar bisa terasa tidak menarik kalau tidak membantu pencapaian angka.
Saat organisasi mulai memberi benefit berkepanjangan pada perilaku yang salah, kerusakannya tidak lagi ada di satu keputusan. Kerusakannya sudah masuk ke budaya.
3) Target harus diberi makna yang lebih luas
Buat saya, target tidak boleh berdiri sendirian.
Target harus disertai makna yang lebih luas, supaya orang paham kenapa ini dikerjakan dan untuk siapa. Jangan cuma bilang, misalnya, harus ada lima kasus korupsi yang diungkap setiap bulan.
Kenapa tidak digeser jadi target yang lebih sehat?
Misalnya: setiap laporan masyarakat tentang dugaan penyimpangan harus direspons 100%. Setiap aduan harus ditelaah dengan serius. Setiap indikasi harus diusut dengan proses yang benar.
Dengan begitu, yang dikejar bukan sekadar banyaknya kasus, tapi kualitas respon terhadap keresahan publik.
Karena kalau yang dikejar cuma jumlah kasus, sistem bisa tergoda untuk terus mencari angka. Tapi kalau yang dikejar adalah kepercayaan dan kepuasan masyarakat, maka orientasinya jadi berbeda. Yang dicari bukan banyak-banyakan tangkapan, tapi kualitas pelayanan terhadap kepentingan publik.
Menurut saya, itu punya makna yang lebih tinggi.
Hari ini saya jadi diingatkan lagi bahwa target itu bukan hal kecil. Salah mendesain target bisa membuat satu organisasi kelihatan produktif, padahal sedang salah arah.
Karena pada akhirnya, target yang baik bukan cuma membuat orang bergerak. Target yang baik juga menjaga supaya orang bergerak ke arah yang benar.