Ben Robani Blog

Hari 89: Minta Maaf Ternyata Tidak Sesulit Itu

Hari ini Senin, hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran. Saya mencoba satu inisiatif di perusahaan saya: halal bihalal dengan format yang sedikit berbeda. Setiap karyawan diminta saling meminta maaf, tapi lewat platform (tidak langsung), supaya:

Bahkan ada “gamification” kecil: kalau jumlah minta maaf melewati angka tertentu, semua dapat hadiah/angpao sebagai bentuk perayaan.

Dari eksperimen ini, saya menangkap tiga pelajaran tentang minta maaf.

1) Yang saya kira berat, ternyata meledak cepat kalau momentumnya tepat

Saya sempat mengira tema “minta maaf” akan berat. Mirip apresiasi atau feedback: ada rasa tidak nyaman karena kita mengakui kekurangan diri.

Tapi kenyataannya mengejutkan. Dalam hitungan menit, permintaan maaf masuk bertubi-tubi. Saya melihatnya dari akses admin: dalam setengah jam terkumpul hampir 500 permintaan maaf dari 45 karyawan.

Saya jadi sadar: kadang bukan karena orang tidak mau minta maaf, tapi karena tidak ada momentum, tidak ada ruang, dan tidak ada format yang memudahkan. Begitu diberi panggung yang aman, orang ternyata bisa melakukannya.

2) Minta maaf yang pakai konteks ternyata bisa sangat manusiawi

Saya juga mengira “minta maaf dengan konteks” akan sulit. Karena konteks menuntut ingatan, keberanian, dan kejujuran: mengakui momen spesifik yang mungkin bikin orang lain tidak nyaman.

Ternyata banyak yang menulis sangat kontekstual dan rapi:

Buat saya ini penting sekali: permintaan maaf yang jelas konteksnya membuat orang merasa benar-benar didengar. Bukan maaf generik, tapi maaf yang “mengerti apa yang dirasakan”.

Dan itu membuat minta maaf bukan sekadar formalitas Lebaran, tapi jadi alat memperbaiki hubungan kerja.

3) Kesempatan membuat orang “membuka yang lama”

Saya sempat menghitung jumlah permintaan maaf dan “diminta maaf”-nya, dan terlihat pola menarik. Banyak permintaan maaf memang mengarah ke rekan yang sering kerja bareng (satu divisi atau lintas divisi), tapi ada juga yang menyebar ke banyak orang.

Saya menduga, karena ini momen pertama setelah bertahun-tahun kerja, sebagian orang menjadikannya kesempatan untuk merapikan hal-hal yang selama ini mengganjal. Ada yang minta maaf lebih banyak dari “kejadian minggu ini”—seolah berkata: “selama ini saya merasa ada minus, dan sekarang saya ingin membereskannya.”

Ini menguatkan satu hal: minta maaf itu kadang bukan karena kejadian besar, tapi karena akumulasi kecil yang tidak pernah diselesaikan.

Penutup

Pelajaran saya sederhana: minta maaf ternyata tidak sesulit itu. Yang sulit sering kali hanyalah memulai. Begitu kita punya ruang dan format, orang ternyata bisa jujur dan dewasa.

Dan pengingat untuk diri saya sendiri: jangan tunggu momentum Lebaran untuk minta maaf. Kalau salah hari ini, minta maaf hari ini. Tidak harus menunggu sampai masalahnya besar, karena seringnya masalah besar adalah kumpulan hal kecil yang dibiarkan.

Exit mobile version