Hari ini Sabtu. Saya tidak melakukan banyak hal, tapi saya mengikuti beberapa pemberitaan tentang mudik dan kemacetan yang sampai puluhan kilometer. Perjalanan yang seharusnya 5–7 jam bisa jadi 14–15 jam—dua kali lipat.
Saya tidak mengalaminya langsung, tapi justru itu membuat saya bisa melihatnya sebagai fenomena: ini momentum tahunan. Artinya, secara teori, bisa diprediksi dan dipersiapkan. Maka refleksi saya hari ini bukan soal mengeluh, tapi soal pelajaran dari sistem yang menghadapi lonjakan besar.
Ada tiga hal yang saya tangkap dari “mudik yang macet”.
1) Data: apakah benar kita tidak bisa menghitung ini?
Pertanyaan pertama saya sangat teknis: apakah kita tidak bisa memperkirakan jumlah kendaraan yang lewat?
Dengan data tahun-tahun sebelumnya, data kendaraan, kapasitas jalan tol, jumlah pintu tol, kapasitas rest area, mestinya kita bisa membuat proyeksi.
Karena kalau hitungannya ada, strategi bisa dirancang.
Kalau hitungannya tidak ada, kita sebenarnya sedang mengelola sesuatu yang besar dengan asumsi.
Buat saya, pelajaran utamanya jelas: data itu bukan pajangan. Data adalah fondasi untuk keputusan dan strategi—apalagi untuk momentum yang berulang tiap tahun.
2) Mitigasi: kalau titik rawannya sudah tahu, tindakan harus lebih keras
Anggap data dan prediksi sudah ada. Pertanyaan berikutnya: mitigasinya sekuat apa?
Misalnya:
- kemacetan di pintu tol karena saldo habis atau proses lambat: apakah bisa ada pengecekan dan bantuan top-up sebelum titik kritis?
- rest area penuh: apakah ada rest area darurat, pengalihan arus, atau informasi real-time yang membuat orang tidak menumpuk di titik yang sama?
- kelelahan pengemudi: apakah ada pengaturan yang meminimalkan risiko berhenti sembarang tempat?
Pelajaran keduanya: tahu masalah tidak sama dengan menutup risiko. Kalau titik rawan sudah ketahuan, aksi mitigasinya harus terasa “mendahului”, bukan “menunggu kejadian”.
3) Koordinasi: momentum butuh orkestrasi, bukan reaksi
Mudik melibatkan banyak pihak: operator tol, kepolisian, dinas terkait, pengelola rest area, layanan darurat, sampai pengguna jalan. Dan karena ini momentum tahunan, seharusnya orkestrasinya bisa lebih rapi.
Contraflow, one-way, pengaturan jam, komunikasi publik, signage, rambu digital—ini semua instrumen. Pertanyaannya: apakah instrumen ini dimainkan dengan satu komando yang jelas, dan apakah pengguna mendapat pengarahan yang konsisten?
Macet puluhan kilometer dan waktu tempuh dua kali lipat biasanya tanda ada “miss”: bukan karena satu faktor, tapi karena koordinasi yang tidak cukup rapat di level sistem.
Pelajaran ketiganya: power dan resource bisa banyak, tapi tanpa koordinasi, hasilnya tetap bocor.
Penutup
Ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Ini soal mengingatkan diri sendiri tentang prinsip besar: momentum tahunan itu bukan kejutan. Ia pola.
Akan selalu ada anomali, lonjakan, dan variabel yang tidak sempurna. Tapi kalau persiapan kita terasa seperti hari biasa, orang akan menangkapnya sebagai “tidak belajar”.
Dan pelajaran yang paling bisa saya bawa ke pekerjaan juga sama: untuk hal yang datang berulang, kualitas kita diukur dari seberapa siap kita menyambutnya—bukan seberapa pintar kita menjelaskan setelahnya.