Hari ini hari ke-86. Saya sempat tiga hari tidak ngonten, tapi tidak apa-apa. Rasanya saya lagi ingin punya “suara” sendiri setelah liburan, sebelum ritme kerja kembali penuh. Jadi saya banyak istirahat, rehat, dan mencari hal-hal yang biasanya hilang saat sudah full kerja.
Hari Jumat ini Timnas Indonesia kembali bermain. Saya menonton dan kepikiran satu tema yang sering muncul di sepak bola: memainkan pemain pada posisinya. Pelatih sering dipertanyakan ketika menaruh orang “di tempat aneh”, apalagi saat pertandingan sudah masuk fase yang butuh hasil.
Dan pelajaran ini sebenarnya tidak cuma soal bola.
Ada tiga hal yang saya tangkap dari prinsip “orang di posisi terbaiknya”.
1) Ada fase coba-coba, ada fase harus menang
Di sepak bola, ada fase eksperimen: uji taktik, uji kombinasi, uji pemain. Tapi ada fase lain yang tidak memberi ruang banyak untuk eksperimen: fase harus menang, harus dapat poin.
Di fase harus menang, menaruh orang di posisi yang tidak pas itu berisiko besar. Bukan karena orangnya buruk, tapi karena kondisi pertandingan menuntut perform terbaik dari setiap peran. Maka yang harus dipikirkan adalah:
- siapa yang paling bagus bertahan,
- siapa yang paling bagus berlari dan menutup ruang,
- siapa yang paling bagus membaca permainan,
- siapa yang paling bagus menyelesaikan peluang.
Pelajarannya: kalau fasenya sudah “harus hasil”, jangan FOMO eksperimen. Cari yang paling pas, paling siap, dan paling terbukti.
2) Penempatan yang tepat membuat evaluasi lebih akurat
Ketika seseorang tidak tampil bagus, ia selalu bisa bilang: “saya bukan di posisi saya.” Dan itu valid.
Tapi kalau dia dimainkan di posisi yang memang sesuai kompetensinya—posisi yang selama ini jadi perannya, bahkan direkrut untuk itu—maka evaluasi jadi lebih adil dan lebih jelas:
- perform-nya memang kurang, atau
- ada faktor lain yang mengganggu,
- atau ada pemain lain yang lebih layak.
Dengan orang di posisi yang tepat, perbandingan juga jadi nyata: A vs B di posisi yang sama. Evaluasi tidak lagi kabur karena alasan “bukan tempatnya”.
3) Penempatan yang konsisten membuat tracking performa lebih mudah
Kalau orang terus dipindah-pindah, tracking jadi sulit. Tidak ada baseline. Tidak ada standar historis.
Tapi kalau orang dimainkan di posisi yang sama, kita punya:
- track record,
- pola performa,
- dan patokan perbaikan.
Kita bisa bilang: “sebelumnya di posisi ini kamu bagus, sekarang kenapa turun?” atau “kamu konsisten di sini, kita tahu kapasitasmu.” Konsistensi memberi data untuk menilai—dan data membuat keputusan lebih tenang.
Penutup
Ini bukan cuma soal pemain bola. Ini tentang semua sistem kerja.
Kalau kita berekspektasi hasil yang baik, masuk akal kalau kita menaruh orang di posisi terbaiknya. Kalau kita gonta-ganti peran terus-menerus, kita bukan hanya menyulitkan orangnya—kita juga menyulitkan diri sendiri untuk menilai kualitasnya.
Dan seperti di bola: saat ingin menang, yang dibutuhkan bukan eksperimen random. Yang dibutuhkan adalah penempatan yang tepat.