Ben Robani Blog

Hari 84: Tiga Tipe Orang di Hari Pertama Kerja Setelah Lebaran

Hari ini hari pertama masuk kerja bagi banyak orang. Secara aturan, cuti bersama selesai hari ini. Tapi perusahaan saya masih libur sampai akhir pekan. Saya bersyukur, karena saya percaya bertemu keluarga itu salah satu cara untuk recharge energi.

Tapi itu membuat saya kepikiran: apa yang ada di kepala orang-orang yang masuk kerja di hari pertama setelah libur Lebaran? Bahkan ada juga yang bekerja di hari Lebaran, atau masuk siang ketika hari raya.

Saya coba menerawang, dan saya menemukan tiga tipe (tidak untuk menghakimi—lebih untuk memahami).

1) Tubuhnya masuk, tapi jiwanya masih di kampung

Ada orang yang masuk kerja dengan rasa agak terpaksa. Mungkin Lebarannya belum selesai “di dalam”: mudiknya belum tuntas, urusan keluarga belum beres, atau hatinya belum puas.

Secara SOP dia harus senyum, harus profesional. Tapi mata dan gesturnya kadang bercerita hal lain: ada ketidaktenangan, ada rasa kehilangan momen, bahkan ada kecemburuan ketika melihat orang lain masih bisa libur dan kumpul keluarga.

Kelompok ini bukan selalu “manja”. Bisa jadi pekerjaannya memang tidak memungkinkan, atau sistemnya belum memberi ruang. Tapi yang jelas, mereka bekerja dengan beban mental yang belum pulang.

2) Netral: tidak banyak ikatan emosional dengan momen Lebaran

Kelompok kedua lebih “biasa saja”. Bisa jadi karena tidak mudik jauh, sudah terbiasa merantau, atau memang tidak punya ikatan emosional yang kuat dengan keluarga.

Bagi mereka, bekerja di hari pertama setelah Lebaran tidak terasa berat secara mental. Lebaran hanyalah penanda kalender: ada salam-salaman, ada ucapan, lalu kembali kerja seperti biasa.

Mereka tampak baik-baik saja. Namun kadang, di balik itu, ada sisi lain: bukan berarti tidak butuh istirahat, hanya saja “motivasi recharge” mereka bukan dari momen keluarga. Mereka punya sumber energi yang berbeda.

3) Opportunity: Lebaran justru momen untuk gas kerja

Kelompok ketiga ini yang paling menarik: orang yang melihat Lebaran sebagai peluang. Saat orang lain libur, mereka membuka toko, menaikkan intensitas jualan, mengejar customer, bahkan menaikkan harga karena demand tinggi.

Bagi kelompok ini, value hidupnya mungkin bukan “pulang kampung”, melainkan “momentum tidak datang tiap hari”. Jadi Lebaran justru dipakai untuk bekerja lebih keras.

Mereka tidak sekadar netral seperti kelompok kedua—mereka antusias. Tidak peduli komentar orang, karena fokusnya opportunity. Dan bagi saya, ini menunjukkan: cara orang memaknai Lebaran memang sangat dipengaruhi oleh value hidupnya.

Penutup

Melihat tiga tipe ini membuat saya semakin sadar: libur yang sama bisa berarti hal yang berbeda untuk tiap orang. Ada yang belum selesai di hatinya, ada yang biasa saja, ada yang justru menjadikannya peluang.

Saya bersyukur perusahaan saya bisa memberi libur lebih panjang. Bukan untuk bermalas-malasan, tapi untuk mengisi daya—supaya ketika kembali, kita tidak hanya kembali secara fisik, tapi juga kembali secara utuh.

Exit mobile version