Ben Robani Blog

Hari 80: Lebaran, Urusan Manusia, dan Kesempatan yang Tidak Selalu Ada

Ada satu hal yang saya ingat hari ini: saya sempat punya anggapan bahwa apa yang saya sampaikan itu “unik sekali”. Bukan karena ingin terlihat berbeda, tapi karena saya jarang mendapat kesempatan menyampaikannya di tempat yang sama, kepada orang-orang yang itu-itu saja.

Sudah sekitar lima sampai tujuh tahun, saya tidak benar-benar “berbagi” di tempat saya tinggal saat Idul Fitri. Seringnya saya sedang di luar, seringnya salat di masjid lain, seringnya baru sampai rumah belakangan. Akibatnya, momen untuk berbagi di kampung sendiri terasa seperti tidak pernah dapat giliran.

Maka ketika kesempatan itu datang lagi, saya sadar: saya ingin melakukan yang terbaik. Mungkin belum maksimal, mungkin masih ada yang perlu saya perbaiki dalam cara menyampaikan, tapi setidaknya saya tidak ingin menyia-nyiakan momen yang jarang.

Dari momen itu, ada tiga poin yang saya pegang dan ingin saya simpan sebagai catatan.

1) Kesempatan tidak datang setiap tahun, jadi jangan disepelekan

Kita sering menganggap Lebaran sebagai sesuatu yang “pasti ada lagi tahun depan”. Padahal tidak selalu begitu—bukan hanya karena jadwal kita yang bisa berubah, tapi karena hidup sendiri tidak selalu memberi pengulangan yang lengkap.

Bagi saya, bisa kembali berbagi di tempat sendiri setelah bertahun-tahun adalah pengingat: kesempatan itu perlu disambut, bukan ditunda. Karena sekali lewat, tidak selalu ada tombol “ulang”.

2) Puasa bukan akhir, justru modal—dan urusan manusia itu sering jadi penghambat

Saya belajar memandang puasa bukan sebagai garis finish, melainkan modal. Ramadan menjadi momen kita memperbaiki hubungan dengan Tuhan, memohon ampunan, merapikan diri.

Namun ada satu hal yang sering mengganjal: urusan manusia.
Banyak orang merasa urusan akhiratnya tersangkut bukan karena kurang ibadah, tapi karena relasinya dengan manusia: ada dendam, ada diam-diaman, ada yang disimpan dalam hati, ada yang tidak selesai.

Maka Lebaran menurut saya adalah kesempatan besar: bertemu sebanyak-banyaknya orang untuk saling memaafkan. Bukan karena formalitas, tapi karena kita ingin bersih—dan ingin urusan yang menggantung itu tidak ikut kita bawa.

Yang sering lucu: kita bisa pergi jauh untuk silaturahmi, tapi kita menunda memaafkan orang yang paling kita benci atau paling kita diamkan. Padahal mungkin di situlah kunci yang paling berat dan paling penting.

3) Ada yang tahun lalu ada, tahun ini tidak—itu pengingat yang paling nyata

Poin terakhir yang menampar halus adalah kesadaran ini: saya melihat kanan-kiri, dan menyadari ada orang yang Lebaran tahun lalu masih ada, sekarang sudah tidak ada.

Ini bukan untuk membuat suasana jadi sedih, tapi untuk membuat saya sadar: sampai di hari ini saja sudah karunia. Maka kalau hari ini ada kesempatan memperbaiki hubungan, memaafkan, berbagi, dan merapikan hati—sebaiknya dilakukan.

Karena kita tidak pernah tahu Lebaran mana yang akan menjadi yang terakhir.

Penutup

Hari ini saya pulang dengan rasa syukur dan rasa sadar. Syukur karena masih diberi kesempatan. Sadar bahwa banyak hal yang kita anggap sepele sebenarnya adalah pintu besar untuk merapikan hidup.

Semoga Lebaran ini bukan hanya selesai di salam-salaman, tapi juga selesai di dalam: urusan manusia yang diringankan, dan hati yang lebih lapang untuk berjalan lagi.

Exit mobile version