Ben Robani Blog

Hari 8: Cara Minta Feedback Biar Nggak Buang Waktu

Hari ini saya menjalani peran sebagai pemberi feedback.

Ada beberapa project dan program yang mau jalan, dan tim butuh masukan. Sore ini saya bikin semacam “klinik”—orang boleh datang untuk nanya, minta saran, atau minta dibantu mikirin jalan keluar.

Dari sesi hari ini, saya jadi kepikiran satu hal:
feedback itu bukan cuma soal siapa yang memberi, tapi juga soal siapa yang meminta.
Kadang orang yang minta feedback datang tanpa persiapan, akhirnya sesi jadi melebar, jawabannya jadi general, dan pulangnya malah bingung mau eksekusi apa.

Supaya feedback lebih mudah diterima dan lebih gampang dieksekusi, saya rasa ada tiga hal yang bisa dilakukan dari sisi orang yang meminta feedback.

1) Jangan tanya yang general. Bikin kontekstual.

Saya sering dapat pertanyaan model begini:

Masalahnya: kalau pertanyaannya general, ya jawabannya pasti general.

Padahal begitu saya diberi konteks—momen, latar belakang, kendala, tujuan, batasan—jawaban saya bisa jauh lebih akurat. Feedback itu sebenarnya kerja “diagnosa”. Kalau gejalanya nggak dijelasin, ya obatnya cuma bisa obat generik.

Jadi daripada buang waktu, lebih baik jelaskan:

Bukan cuma satu kalimat. Tapi cukup untuk bikin saya “masuk ke ruangannya”.

2) Jangan datang dengan tangan kosong. Bawa wujudnya.

Hal kedua: bawa sesuatu. Minimal draft.

Nggak harus sempurna. Justru karena belum sempurna, itu alasan minta feedback. Tapi harus ada bentuk yang bisa dilihat:

Karena kalau masih kosong, yang terjadi biasanya “adu bayangan”.
Saya kebayang A, kamu kebayang B. Kita diskusi 20 menit, ternyata yang dimaksud beda.

Kalau ada wujudnya, feedback jadi konkret:
“ini kurang di sini, ini tambahin ini, ini buang, ini perjelas.”
Lebih cepat, lebih jelas, lebih bisa dikerjain.

3) Konfirmasi sebelum pulang (biar nggak jadi catatan doang)

Yang ketiga ini menurut saya paling penting: konfirmasi.

Saya tipe yang kalau kasih feedback bisa berapi-api. Banyak hal kelempar. Kadang orang mencatat banyak, tapi pulangnya bingung: “jadi yang mana dulu?”, “yang dimaksud tadi A atau B?”, “ini prioritas atau opsional?”

Makanya sebelum selesai, konfirmasi itu menyelamatkan:

Konfirmasi bikin feedback berubah dari obrolan menjadi langkah kerja.

Karena feedback yang cuma “nyerang ide” tapi nggak bisa dipraktekin itu cuma bikin capek dua pihak.


Jadi kalau mau minta feedback dan pengen pulang dengan sesuatu yang bisa dieksekusi:

  1. Bikin pertanyaan kontekstual (jangan general)
  2. Bawa draft / wujudnya (biar konkret)
  3. Konfirmasi action items (biar jelas eksekusinya)

Sisanya tinggal satu hal yang paling menentukan:
habis dapat feedback, dikerjain.
Bukan cuma dicatat.

Besok lanjut lagi.

Exit mobile version