Ben Robani Blog

Hari 77: Memori Itu Selektif

Hari ini hari terakhir masuk kerja sebelum libur Lebaran. Saya pakai untuk memastikan semua pekerjaan aman, karena akan ditinggal libur cukup panjang. Di sisi lain, saya juga bertemu teman-teman dan ngobrol soal kenangan. Dan saya kaget: ternyata saya banyak lupa, sementara mereka ingat detail yang menurut saya “wah iya ya”.

Itu mengingatkan saya bahwa kemampuan kita terbatas. Ada memori yang melekat banget, ada juga yang hilang begitu saja. Dari momen hari ini, saya mencatat tiga hal tentang memori.

1) Kita paling mudah mengingat yang ekstrim

Kita cenderung ingat momen yang ekstrim: ekstrim capeknya, ekstrim tegangnya, ekstrim lucunya, ekstrim beratnya. Sementara hal-hal yang biasa—yang justru mengisi mayoritas hari—sering menguap.

Makanya dari satu tahun perjalanan, yang tersisa di kepala kadang hanya beberapa momen. Bukan karena momen lain tidak penting, tapi karena otak menandai “yang ekstrem” sebagai highlight.

Lucunya, bahkan kejadian yang tidak nyaman pun bisa jadi sangat berkesan. Konflik yang panjang, tegang yang lama—sering lebih mudah diingat daripada hari-hari yang lancar.

2) Flashback itu penting bukan untuk nostalgia, tapi untuk belajar

Mengulang memori lama itu bukan sekadar “biar ingat lagi”, tapi karena kita bisa belajar dari sejarah yang pernah kita alami. Kadang dulu kita tidak punya cukup waktu dan jarak untuk memahami kenapa sesuatu terjadi.

Sekarang, ketika konteks berubah, kita bisa melihat kasus lama seperti studi kasus:

Kalau kita tidak pernah flashback, kita berisiko mengulang hal yang sama, lalu heran kenapa hasilnya sama.

3) Memori perlu diisi dan diisi ulang

Karena memori selektif, kita perlu bantuan untuk menyimpannya: lewat cerita, catatan, dokumentasi, dan mengajak orang lain mengingat bersama.

Saya jadi merasa penting untuk “mengisi ulang” memori: bukan supaya hidup jadi romantis, tapi supaya saya tidak kehilangan jejak perjalanan saya sendiri. Kita tidak pernah tahu kapan sebuah cerita punya arti.

Itulah kenapa saya senang menulis blog harian ini. Ini cara saya membangun memori—meski tidak selalu menulis momen secara utuh, saya menangkap pembelajarannya. Harapannya, suatu hari nanti saya bisa membuka kembali tulisan ini dan mengingat: “oh, saya pernah belajar itu di hari itu.”

Penutup

Hari ini saya pulang dengan satu kalimat: memori itu selektif, tapi pembelajaran bisa disimpan. Dan mungkin itu salah satu fungsi refleksi: membantu otak yang pelupa ini tetap punya jejak.

Selamat menyambut libur, semoga kita pulang dengan lebih banyak cerita—dan lebih banyak pelajaran yang sempat disimpan.

Exit mobile version