Kemarin saya menulis tentang membumikan culture manusiawi di kantor. Hari ini saya lanjut dengan pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana budaya bisa tetap hidup lintas generasi? Karena orang berganti, tim bertambah, anak baru masuk—dan mereka tidak otomatis tahu budaya itu seperti apa.
Halnya bukan cuma culture; banyak hal di perusahaan juga sama: kalau tidak diturunkan dengan sengaja, ia akan pudar dengan sendirinya.
Saya merangkum tiga cara sederhana (tapi harus konsisten) agar budaya bisa dijaga lintas orang dan lintas waktu.
1) Ceritakan berkali-kali (ulang cerita yang sama, dengan sengaja)
Kalau sesuatu tidak pernah diangkat, orang tidak akan pernah tahu. Maka budaya perlu diceritakan berkala: bukan sekali saat onboarding lalu hilang.
Cerita masa lalu perlu diputar lagi:
- supaya anak baru punya konteks,
- supaya yang lama tidak lupa,
- dan supaya semua orang punya bahasa yang sama saat menyebut “ini budaya kita”.
Budaya itu dibangun lewat repetisi. Kalau jarang diulang, ia kalah oleh kebiasaan harian yang lebih dominan.
2) Contohkan dalam konteks terkini (culture yang sama, wujudnya bisa berubah)
Selain diceritakan, budaya harus ditunjukkan lewat contoh dan praktik. Yang sering terjadi adalah budaya hanya jadi kisah heroik masa lalu, tapi tidak ada bentuk nyatanya di konteks hari ini.
Maka penting untuk memberi konteks terkini:
- “kalau manusiawi dulu bentuknya begini, hari ini wujudnya apa?”
- “kalau 5 tahun lalu caranya begini, sekarang cara yang setara apa?”
Dengan begitu, budaya terasa hidup—bukan museum. Dan orang bisa melihat: ini bukan cuma kata-kata, tapi benar-benar dipraktikkan.
3) Tegurkan (budaya perlu pagar, bukan hanya panggung)
Budaya tidak akan kuat kalau tidak ada batasnya. Maka perlu ada peneguran ketika ada perilaku yang bertentangan dengan budaya.
Peneguran itu bukan untuk mempermalukan, tapi untuk mengingatkan:
- “bukan begitu caranya,”
- “itu tidak sesuai dengan budaya kita,”
- “kita serius menjaga ini.”
Kalau tidak ada konsekuensi sosial dan koreksi, budaya jadi opsional. Dan kalau budaya jadi opsional, lama-lama ia hilang.
Penutup
Buat saya, budaya lintas generasi tidak lahir dari satu acara atau satu poster. Ia lahir dari tiga hal yang diulang terus:
diceritakan, dicontohkan, dan ditegurkan.
Kalau kita ingin anak baru dan orang lama tetap memegang budaya yang sama, kita perlu menjaganya dengan sengaja—bukan berharap budaya itu “menular” dengan sendirinya.