Hari ini hari ke-73. Saya sempat tiga hari tidak menulis, karena kemarin-kemarin ada agenda di luar kota. Jadi hari ini saya kejar dulu—dan ceritanya tetap cerita yang terjadi hari itu.
Sabtu kemarin saya diminta jadi mentor: tugasnya mengomentari presentasi teman-teman startup. Dari pengalaman itu, saya merangkum satu formula yang menurut saya sangat sederhana, tapi sering menyelamatkan presentasi: rumus 3 waktu.
Bukan rumus desain slide. Bukan rumus gaya bicara. Tapi rumus urutan berpikir, supaya orang yang mendengar tidak tersesat.
1) Masa lalu: apa yang terjadi sebelum Anda hadir?
Mulai dari hal yang sudah terjadi. Ini bagian dengan validasi paling tinggi.
Yang diceritakan:
- historical-nya apa,
- problem apa yang nyata terjadi,
- data apa yang tersedia,
- dunia seperti apa sebelum solusi Anda ada.
Kalau masa lalu tidak jelas, audiens tidak punya konteks. Mereka akan bertanya: “sebenarnya masalahnya apa sih?” Dan kalau masalahnya tidak terasa, solusinya juga tidak akan dianggap penting.
2) Masa kini: apa yang sudah Anda lakukan sampai hari ini?
Setelah itu, masuk ke hari ini: Anda menawarkan apa, dan buktinya apa.
Yang diceritakan:
- produknya sudah sampai tahap apa (prototype/MVP/ready),
- sudah dipakai siapa,
- traction-nya bagaimana (customer, revenue, growth),
- proses validasinya sudah sejauh apa,
- go-to-market-nya sudah mulai dari mana.
Kalau masih fase awal, tetap bisa jelas: “kami sudah melakukan X, dan sekarang sedang di tahap Y.” Masa kini ini membuktikan bahwa Anda tidak hanya punya ide, tapi sudah bergerak.
3) Masa depan: Anda ingin apa dari audiens, dan apa timbal baliknya?
Bagian terakhir adalah future—harapan dan transaksi yang ingin terjadi setelah presentasi.
Karena presentasi hampir selalu punya tujuan:
- ingin investasi,
- ingin hibah/grant,
- ingin audiens jadi customer,
- ingin audiens jadi partner.
Di sini harus jelas:
- Anda minta apa,
- audiens dapat apa,
- timeline-nya bagaimana,
- bentuk kerja samanya seperti apa,
- value yang ditawarkan apa.
Masa depan memang belum terjadi, tapi harus disampaikan agar audiens bisa mengambil keputusan: “setelah saya dengar ini, saya harus ngapain?”
Kenapa formula ini sering gagal dipakai?
Yang paling sering saya lihat: presentasi lompat-lompat. Tidak nyambung antara masalahnya, progresnya, dan permintaannya. Kadang masa depannya tidak jelas, kadang masa kini tidak update, kadang masa lalunya terlalu kabur.
Padahal formula ini bisa dipakai bukan hanya untuk pitching startup, tapi juga untuk:
- mengusulkan ide,
- memaparkan program,
- menyampaikan strategi,
- bahkan menjelaskan perubahan sistem.
Urutannya tetap sama: dulu apa → sekarang apa → habis ini mau apa.
Penutup
Saya suka formula ini karena sederhana, tapi membuat presentasi terasa “berpijak”. Orang paham konteksnya, percaya Anda bergerak, dan mengerti apa yang Anda harapkan setelahnya.
Kalau harus saya ringkas:
masa lalu memberi alasan, masa kini memberi bukti, masa depan memberi arah.