Ben Robani Blog

Hari 7: Menjalankan Proyek Besar: Detail, Tracking, Evaluasi

Hari ini saya ngecek update salah satu proyek besar yang lagi kami jalanin.

Skalanya lumayan “serius”: durasinya setahun, budgetnya nggak kecil, hampir seluruh tim terlibat, dan ekspektasinya pun tinggi. Proyek semacam ini bukan tipe yang bisa diselesaikan dengan “ayo semangat” dan “nanti juga beres”.

Yang bikin saya ketawa kecil (tapi juga agak nyesek) adalah: waktu pertama kali proyek ini muncul sebagai ide, semuanya terasa sederhana.

Di kepala saya, alurnya jelas. Eksekusinya kelihatan gampang. Rasanya kayak tinggal jalan. Karena ya… namanya ide: di kepala kita, semua orang paham, semua hal sinkron, semua hambatan sudah otomatis teratasi.

Sampai ide itu benar-benar dicoba dijalankan.

Dan dari proses ngecek hari ini, saya dapat tiga pembelajaran yang menurut saya wajib dipegang kalau kita mau menjalankan proyek besar—yang melibatkan banyak orang, banyak timeline, dan banyak konsekuensi.

1) Tulis sedetail mungkin (biar ide ketemu kenyataan)

Pelajaran pertama sederhana tapi sering disepelekan: tulis secara detail.

Selama ide masih di kepala, semuanya tampak:

Tapi begitu ditulis, ditulis, ditulis… lalu dibreakdown… baru kelihatan:

Bukan karena tulisan itu menyulitkan. Justru sebaliknya: tulisan itu membongkar ilusi “kayaknya gampang”.

Saya makin percaya:
proyek besar itu bukan diuji saat dipresentasikan, tapi saat dibreakdown.

2) Punya sistem tracking (biar yang banyak nggak jadi kabur)

Setelah ditulis, pelajaran kedua: tracking.

Ketika proyek melibatkan banyak orang, banyak timeline, dan banyak detail, kita nggak bisa cuma berpegang pada “tujuannya apa”. Karena tujuan itu terlalu jauh.

Yang dibutuhkan adalah:

Kalau nggak ada tracking yang jelas, proyek besar gampang berubah jadi kabut: kelihatan berjalan, tapi sebenarnya banyak yang ngambang. Lalu tiba-tiba waktu habis, baru kita panik.

Tracking itu bukan micromanage. Tracking itu pagar.

Karena kalau yang jalan banyak orang, tanpa pagar… ya masing-masing akan jalan pakai arah yang mereka kira benar.

3) Punya sistem evaluasi berkala (biar nggak kecewa di ujung)

Pelajaran ketiga: evaluasi berkala.

Tracking saja tidak cukup. Karena “sudah dikerjakan” belum tentu “sudah benar”. Dan “sudah benar” belum tentu “dampaknya sesuai harapan”.

Jadi perlu checkpoint yang rutin:

Tanpa evaluasi berkala, kita rawan menjalankan rencana besar dengan autopilot… dan baru sadar melenceng ketika sudah jauh. Di ujungnya tinggal dua opsi: kecewa atau menyalahkan keadaan.

Padahal kalau ada evaluasi rutin, kita bisa koreksi lebih cepat, lebih murah, dan lebih tenang.


Hari ini saya diingatkan lagi:

Kalau proyeknya besar, durasinya panjang, budgetnya serius, dan orangnya banyak… maka cara menjalankannya pun harus naik kelas.

Minimal pegang tiga hal ini:

  1. Detailkan di tulisan (biar ide ketemu realita)
  2. Tracking yang jelas (biar kerjaan nggak kabur)
  3. Evaluasi berkala (biar nggak kecewa di ujung)

Karena proyek besar itu bukan soal siapa yang punya ide paling keren.
Tapi siapa yang punya sistem paling tahan banting.

Besok lanjut lagi.

Exit mobile version