Hari ini jadwal saya penuh meeting soal pengembangan produk baru.
Yang menarik, topiknya beda-beda, sumber idenya beda-beda, cara ngerjainnya juga beda-beda. Dan dari situ saya kepikiran satu pertanyaan yang sebenarnya cukup mendasar:
Dari mana sih pengembangan produk itu biasanya dimulai?
Kalau disederhanakan, saya melihat ada tiga jalur besar yang sering jadi sumber lahirnya produk. Masing-masing punya pro dan cons. Dan menurut saya, yang paling penting bukan “mana yang paling benar”, tapi kita sadar konsekuensi dari jalur yang kita pilih.
1) ATM (Amati – Tiru – Modifikasi): ngikut kompetitor
Ini jalur yang paling sering dipakai, dan jujur, paling “nyaman”.
Kita lihat apa yang sudah ada di market. Kompetitor lagi ngelakuin apa. Produk apa yang lagi dipakai banyak orang. Lalu kita tiru—dan kita modifikasi sedikit sesuai gaya kita.
Pros-nya:
- Riset lebih hemat, karena sesuatu yang kita tiru biasanya sudah “terbukti ada yang pakai”.
- Pattern-nya lebih jelas: flow, fitur, bahkan pricing kadang bisa dipelajari.
- Cocok buat eksekusi cepat ketika kita butuh mengejar ketertinggalan atau menyamai standar industri.
Cons-nya:
- Kalau fondasinya cuma ikut-ikutan, kita sering kehilangan “kenapa”-nya.
- Nilai beda (differentiation) sering tipis, karena modifikasinya biasanya kecil.
- Ketika produk tidak kemakan market, kita baru bingung: salahnya di mana? Karena dari awal bukan berangkat dari problem kita sendiri.
ATM bisa efektif, tapi kalau terus-terusan di sini, kita berisiko jadi “versi kedua” dari produk orang lain.
2) Market Pull: ngikut permintaan market (customer request)
Jalur kedua lebih “natural”: produk berkembang karena market minta, bukan karena kompetitor bikin.
Kita sudah punya produk A-B-C. Lalu ada customer yang request:
“Bisa nggak A-nya begini, B-nya begini, C-nya begini?”
Kalau permintaannya jelas, mau bayar, dan masuk akal, itu bisa kita jadikan titik awal pengembangan. Awalnya mungkin bentuknya “proyek”, tapi lama-lama bisa dipaketkan jadi produk baru.
Pros-nya:
- Validasi lebih cepat, karena ada yang benar-benar mau pakai dan mau bayar.
- Kita develop sesuatu yang punya demand nyata, bukan spekulasi.
- Potensinya scalable: kalau satu customer butuh, biasanya ada customer lain yang mirip.
Cons-nya:
- Risiko “produk jadi tambal sulam”: terlalu banyak variasi sesuai request.
- Bisa kebawa jadi roadmap yang dikendalikan customer paling vokal (bukan customer paling strategis).
- Kalau nggak hati-hati, tim jadi sibuk memenuhi custom request sampai lupa membangun core product yang kuat.
Market pull itu enak karena nyata. Tapi tetap butuh disiplin: mana yang jadi fitur produk, mana yang cukup jadi layanan/proyek.
3) Vision Push: bikin karena visi (ingin menerobos)
Jalur ketiga ini yang paling ekstrem—dan kadang paling mengubah permainan.
Kita bikin produk bukan karena kompetitor sudah bikin. Bukan juga karena market sudah request persis begitu. Tapi karena kita punya keyakinan: “harusnya ada solusi seperti ini”, “ini masalah yang perlu dipecahkan”, atau “di industri lain ada, tapi di bidang ini belum ada.”
Ini jalur “terobosan”.
Contoh yang sering orang sebut: ketika pasar lagi cinta keyboard (BlackBerry era), lalu ada yang berani datang dengan iPhone tanpa keyboard fisik. Itu bukan sekadar mengikuti tren, tapi mendorong arah baru.
Pros-nya:
- Potensi diferensiasi paling kuat.
- Kalau benar, efeknya bisa breakthrough dan bikin kita jadi rujukan.
- Ini jalur yang sering bikin brand/product jadi “pemimpin”, bukan pengikut.
Cons-nya:
- Risiko market tidak siap atau tidak paham.
- Proses development bisa lama karena “inspirasi pembanding” minim—kita meraba-raba definisi suksesnya.
- Bisa jadi mahal secara waktu, energi, dan biaya sebelum ada bukti.
Vision push itu mulia, tapi menuntut stamina dan ketegasan arah.
Jadi, mana yang terbaik?
Buat saya, bukan soal mana yang paling keren. Tapi soal kita memilih dengan sadar:
- Kalau pengen hemat riset dan cepat setara standar: ATM bisa dipakai.
- Kalau pengen validasi cepat dan dekat dengan revenue: Market Pull sangat kuat.
- Kalau pengen beda total dan siap menanggung risiko: Vision Push adalah jalannya.
Yang penting: jangan kebetulan. Jangan “kelempar” ke salah satu jalur tanpa sadar.
Karena di balik setiap produk baru, selalu ada biaya: waktu, fokus, tim, dan kesempatan yang dikorbankan.
Hari ini saya belajar: sebelum ngomongin fitur, kita perlu tanya dulu:
produk ini lahir dari jalur yang mana—dan apakah kita siap dengan konsekuensinya?
Besok lanjut lagi.