Ben Robani Blog

Hari 6: Tiga Cara Develop Produk: Ikut, Dipesan, atau Menerobos

Hari ini jadwal saya penuh meeting soal pengembangan produk baru.

Yang menarik, topiknya beda-beda, sumber idenya beda-beda, cara ngerjainnya juga beda-beda. Dan dari situ saya kepikiran satu pertanyaan yang sebenarnya cukup mendasar:

Dari mana sih pengembangan produk itu biasanya dimulai?

Kalau disederhanakan, saya melihat ada tiga jalur besar yang sering jadi sumber lahirnya produk. Masing-masing punya pro dan cons. Dan menurut saya, yang paling penting bukan “mana yang paling benar”, tapi kita sadar konsekuensi dari jalur yang kita pilih.

1) ATM (Amati – Tiru – Modifikasi): ngikut kompetitor

Ini jalur yang paling sering dipakai, dan jujur, paling “nyaman”.

Kita lihat apa yang sudah ada di market. Kompetitor lagi ngelakuin apa. Produk apa yang lagi dipakai banyak orang. Lalu kita tiru—dan kita modifikasi sedikit sesuai gaya kita.

Pros-nya:

Cons-nya:

ATM bisa efektif, tapi kalau terus-terusan di sini, kita berisiko jadi “versi kedua” dari produk orang lain.

2) Market Pull: ngikut permintaan market (customer request)

Jalur kedua lebih “natural”: produk berkembang karena market minta, bukan karena kompetitor bikin.

Kita sudah punya produk A-B-C. Lalu ada customer yang request:
“Bisa nggak A-nya begini, B-nya begini, C-nya begini?”

Kalau permintaannya jelas, mau bayar, dan masuk akal, itu bisa kita jadikan titik awal pengembangan. Awalnya mungkin bentuknya “proyek”, tapi lama-lama bisa dipaketkan jadi produk baru.

Pros-nya:

Cons-nya:

Market pull itu enak karena nyata. Tapi tetap butuh disiplin: mana yang jadi fitur produk, mana yang cukup jadi layanan/proyek.

3) Vision Push: bikin karena visi (ingin menerobos)

Jalur ketiga ini yang paling ekstrem—dan kadang paling mengubah permainan.

Kita bikin produk bukan karena kompetitor sudah bikin. Bukan juga karena market sudah request persis begitu. Tapi karena kita punya keyakinan: “harusnya ada solusi seperti ini”, “ini masalah yang perlu dipecahkan”, atau “di industri lain ada, tapi di bidang ini belum ada.”

Ini jalur “terobosan”.

Contoh yang sering orang sebut: ketika pasar lagi cinta keyboard (BlackBerry era), lalu ada yang berani datang dengan iPhone tanpa keyboard fisik. Itu bukan sekadar mengikuti tren, tapi mendorong arah baru.

Pros-nya:

Cons-nya:

Vision push itu mulia, tapi menuntut stamina dan ketegasan arah.


Jadi, mana yang terbaik?

Buat saya, bukan soal mana yang paling keren. Tapi soal kita memilih dengan sadar:

Yang penting: jangan kebetulan. Jangan “kelempar” ke salah satu jalur tanpa sadar.

Karena di balik setiap produk baru, selalu ada biaya: waktu, fokus, tim, dan kesempatan yang dikorbankan.

Hari ini saya belajar: sebelum ngomongin fitur, kita perlu tanya dulu:
produk ini lahir dari jalur yang mana—dan apakah kita siap dengan konsekuensinya?

Besok lanjut lagi.

Exit mobile version