Ben Robani Blog

Hari 52: Belanja Banyak Itu Nggak Selalu Lebih Murah

Hari ke-52. Hari ini saya lagi pengen segera checkout belanjaan untuk kantor—utamanya seragam untuk karyawan. Jadi saya nyemplung ke dunia belanja online dalam jumlah banyak: cari referensi, cari tawaran, cari toko yang bisa supply banyak, dan nyari yang paling masuk akal buat dibeli.

Setelah kemarin-kemarin ke mall, hari ini saya review pengalaman belanja online versi “beli banyak”.

Ada tiga pembelajaran yang saya catat.

1) Kata kunci penting, tapi yang paling “ultimate” itu live

Kalau di e-commerce, kita masukin kata kunci, produk muncul. Beres.

Tapi sekarang saya makin sadar: foto produk itu makin sulit dipercaya. Bukan karena penjualnya jahat semua—tapi karena zaman sekarang foto bisa terlalu “sempurna”. Ada yang kelihatan kebagusan untuk harga segitu. Ada yang modelnya terlalu rapi. Dan pas scroll review ke bawah, komplainnya banyak: ternyata barangnya nggak sebagus foto.

Di situ saya merasa fitur yang paling membantu itu live. Karena live bikin kita bisa lihat barangnya bergerak, jatuh kainnya gimana, warna realnya gimana, dan kadang bisa langsung ditanya. Minimal kita punya “rasa” sebelum checkout.

Walaupun ya… nonton live itu kadang bikin kita tiba-tiba nambah barang yang awalnya nggak ada di rencana 😄

2) Live itu ada dua dunia: yang rame dan yang sepi

Yang kedua, masih soal live.

Saya lihat ada live yang rame banget—viewers banyak, chat lari, host sudah kayak “mesin” karena saking seringnya. Itu biasanya enak buat lihat barang sekilas dan ikut arus rekomendasi.

Tapi ada live yang sepi. Dan yang sepi ini justru kadang lebih berharga kalau kita belanja untuk kebutuhan spesifik. Karena kita bisa interaksi dua arah: tanya ukuran, tanya bahan, tanya perbandingan, minta saran opsi yang mirip, dan host-nya biasanya lebih “niat” bantu supaya barangnya laku.

Ada juga yang live-nya kayak “muter terus” tanpa interaksi—mereka kuat juga ya, berjam-jam. Tapi kalau kita jadi pembeli yang beneran mau memastikan barangnya, live yang sepi kadang terasa lebih manusiawi.

3) Ini yang aneh: beli banyak kok malah nggak makin murah?

Yang ketiga ini pengalaman yang paling bikin saya garuk-garuk kepala.

Secara logika, kalau kita beli lebih banyak harusnya bisa lebih murah. Karena komitmennya lebih tinggi, penjual senang, harusnya ada potongan.

Tapi di platform yang sudah didesain sistem promo-voucher itu, ternyata polanya nggak selalu begitu.

Ada barang yang kalau beli sedikit dapat promo lumayan (misal minus belasan persen). Tapi begitu saya naikkan kuantitas, total diskonnya malah “berasa hilang”. Jadi jatuhnya mendekati harga normal. Selisihnya bisa sampai 15–20% dibanding kalau checkout-nya dipecah.

Dan yang bikin makin lucu: solusi praktisnya malah jadi harus checkout berkali-kali (atau pakai cara lain yang intinya “memecah pembelian”), supaya promo tetap masuk.

Saya sempat konfirmasi juga ke live, jawabannya: itu dari sistem platform, bukan dari mereka. Dari toko, harga dasar sudah diturunkan dari awal. Yang bikin beda adalah voucher/promo yang cara kerjanya ternyata nggak ramah pembelian besar.

Jadi catatan saya hari ini: belanja online untuk kantor itu bukan cuma soal “harga produk”, tapi soal algoritma promo yang kadang lebih suka pembelian “wajar-wajar saja”.


Penutup

So, itu pengalaman belanja online untuk kantor hari ini.

Ternyata buat beli banyak, kita butuh pendekatan yang lebih teliti:

Semoga jadi catatan. Sampai jumpa besok.

Exit mobile version