Ben Robani Blog

Hari 47: Bersyukur Itu Bukan Menyangkal Realita

Hari ini saya sudah ke-47.

Hari ini saya kepikiran soal rasa syukur. Bukan karena hari ini semuanya baik-baik saja. Justru karena kerja itu ya begitu: ada yang enak, ada yang bikin stres, ada yang mudah, ada yang bikin pusing, target datang dari mana-mana.

Dan di tengah kondisi kayak gitu, saya makin paham satu hal: rasa syukur itu bukan berarti kita menutup mata dari hal yang kurang. Tapi syukur itu cara kita memilih kacamata, biar hidup nggak cuma isinya keluhan.

Saya punya tiga alasan kenapa penting bekerja di tempat yang kita syukuri.


1) Kerja pasti campur: senang–susah. Syukur bikin kita tetap bisa melihat sisi baiknya

Bekerja itu pasti ada senang, ada susah.

Kalau kita kerja di tempat yang tidak kita syukuri, anehnya semua hal bisa terasa buruk:

Karena di pikiran kita sudah keburu menilai: “nggak ada yang relevan sama yang saya lakukan.”

Akhirnya apa pun terasa salah.

Syukur itu seperti memberi ruang untuk menilai dengan lebih positif. Bukan berarti kita jadi naif, tapi kita jadi tidak otomatis memusuhi semua hal.

Dan biasanya, ketika kita memberi energi positif, kita dapat respon yang lebih positif juga. Minimal, kita jadi lebih waras menghadapi harinya.


2) Syukur bikin kita nggak merasa terjebak oleh pilihan kita sendiri

Kadang kita lupa: kita ini punya pilihan.

Kita sudah melewati interview, proses seleksi, bahkan probation. Harusnya kita punya kesempatan untuk menilai: “ini saya senangin atau nggak?”

Kalau kita tidak bersyukur, kita gampang menyalahkan hal lain terus:

Padahal kadang masalahnya bukan semata situasi, tapi perasaan “saya terjebak”—padahal sebenarnya kita memilih untuk tetap tinggal.

Saya bukan bilang semua orang bisa resign kapan pun. Ada kebutuhan, ada tanggungan, ada realita.

Tapi justru di situ syukur membantu: kalau memang harus bertahan sekarang, kita bertahan dengan kepala dewasa, bukan dengan mental korban.

Syukur bikin kita tetap merasa merdeka: “oke saya di sini dulu. saya tetap bisa memilih cara saya memandangnya.”


3) Syukur itu bikin hal baik bertambah (dan bikin kita nggak terjebak di pencarian tanpa ujung)

Ini yang paling saya rasakan: tanpa syukur, kita gampang merasa kurang.

Dan kalau hidupnya merasa kurang terus, pola yang terjadi biasanya begini:
pindah → dapat lebih → merasa kurang lagi → pindah lagi → merasa kurang lagi.

Karena selalu ada kekurangan kalau dicari. Nggak ada tempat sempurna.

Tapi orang yang bersyukur biasanya merasa “lebih”.
Bukan berarti paling kaya, paling sukses, paling enak—tapi merasa cukup untuk berdiri.

Dan ketika kita merasa lebih (atau cukup), langkah naiknya jadi lebih ringan. Kita punya pijakan. Kita bisa melihat apa yang bisa ditambah, bukan cuma apa yang salah.

Kalau kita fokus ke “lebihnya”, kita bisa bikin “lebih lagi”.
Kalau fokus ke “kurangnya”, kita akan menemukan kurang yang nggak ada habisnya.

Capek kalau hidupnya isinya pencarian yang nggak selesai-selesai.


Penutup

Jadi hari ini saya “marah-marah” soal syukur.

Karena saya lihat: dua orang bisa ada di situasi yang sama.
Yang satu bersyukur, yang satu berontak.

Hasil kerjanya mungkin sama, tantangannya sama, capeknya sama.

Tapi cara menjalani hidupnya beda jauh.

Dan buat saya, itu pilihan yang perlu dilatih—terutama ketika lagi merintis karir.

Sampai jumpa besok.

Exit mobile version