Ben Robani Blog

Hari 46: Remote Itu Bukan Gaya, Tapi Cara Kerja

Hari ini hari Minggu, dan saya menamatkan satu buku lagi. Buku ke-6 dalam ritme “satu buku seminggu” ini adalah Remote dari Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (founder Basecamp).

Buku ini menarik karena formatnya ringan: judul-judulnya pendek, ilustrasinya bagus, satu halaman sering dibagi dengan visual. Jadi walaupun tebalnya sekitar 200-an halaman, bacanya terasa cepat—kayak dikasih jeda napas tiap beberapa halaman.

Dan temanya jelas: kerja remote.

Mungkin waktu buku ini ditulis konteksnya masih “kampanye”—kerja dari mana aja itu belum seumum sekarang. Tapi setelah pandemi 2020, kok jadi makin relate. Banyak hal yang dulu diperdebatkan, sekarang jadi praktik sehari-hari.

Saya ambil tiga hal yang paling nempel dari buku ini.


1) Kantor itu distraksinya tinggi (dan itu bukan salah orangnya)

Buku ini cukup “berani” menyebut: di kantor itu ada banyak hal yang bikin kerjaan kita jadi pecah.

Bukan karena orang jahat. Tapi karena mekanismenya begitu:

Akhirnya kita sering nggak punya cukup waktu buat nyelesain kerjaan kita sendiri dengan tenang.

Dan poin lain yang saya suka: kalau kita mewajibkan orang “harus ngantor di tempat tertentu”, kita jadi membatasi diri untuk ketemu talenta terbaik. Padahal talenta itu ada di mana-mana. Kalau kerja bisa dikerjakan di mana saja, kenapa harus dipersempit oleh lokasi?


2) Remote memaksa kita menilai orang dari karya, bukan dari kelihatan sibuk

Takeaway kedua saya: remote itu bikin penilaian kerja jadi lebih “bersih”.

Karena kita nggak bisa menilai orang dari:

Remote mendorong kita menilai dari apa yang dihasilkan.

Dan saya setuju banget: yang jadi ukuran utama adalah performa, output, hasil. Bukan politik kantor. Bukan “kelihatan kerja”.

Memang tetap perlu cara: beda zona waktu, komunikasi asynchronous, koordinasi yang rapi. Tapi idenya jelas: fokusnya balik ke karya.


3) Remote butuh batasan—karena rumah nggak punya “pulang kantor”

Yang ketiga ini justru yang sering jadi jebakan: kalau kerja di kantor, kita pulang—selesai.

Kalau kerja remote, batasnya bisa kabur.
Kadang pengen terus menyelesaikan, menyelesaikan, menyelesaikan… sampai lupa kalau tubuh juga butuh berhenti.

Jadi remote itu bukan berarti “lebih santai”. Kadang malah kebalik: kalau nggak punya batasan yang jelas, kerjaannya jadi nempel terus.

Makanya tetap butuh pembagian waktu yang rapi: kapan mulai, kapan berhenti, kapan benar-benar offline. Karena kalau nggak, rumah berubah jadi kantor 24 jam—dan itu capeknya jenis baru.


Penutup

Buku ini bikin saya mikir ulang: apakah semua masalah selesai kalau kita offline?

Belum tentu.

Offline memang memudahkan banyak hal. Tapi online pun sebenarnya bisa diatur:

Remote itu bukan “solusi ajaib”. Tapi bisa jadi cara kerja yang sehat kalau sistemnya rapi.

Itu dulu catatan saya untuk buku Remote. Buat yang penasaran, saya rekomendasikan untuk dibaca.

Sampai jumpa besok.

Exit mobile version