Ben Robani Blog

Hari 41: Kenapa Saya Masih Suka Sharing Sama Anak Magang

So, 41. Hari ini saya buka lagi sesi sharing sama anak-anak magang.

Ceritanya, sejak pandemi 2020, sudah lima tahun kita punya program magang. Waktu itu awalnya ya karena kita butuh bantuan, tapi niatnya juga pengen bantu masyarakat—pengen ada spot yang bisa saling isi.

Saya masih ingat ada momen waktu pandemi: ada anak magang yang senang banget ikut program ini. Waktu itu situasinya serba susah, banyak yang nggak punya tempat “untuk tumbuh”, jadi kesempatan kecil kayak gini terasa besar. Dari situ saya makin yakin: kalau bisa, kita berbagi manfaat.

Tapi pertanyaan yang sering muncul (dan kadang muncul juga di kepala saya sendiri): kenapa saya masih rutin sharing sampai sekarang? Padahal kerjaan CEO ya macam-macam.

Saya punya sesi seminggu sekali, biasanya tiap Selasa, sekitar setengah jam: ngobrol, diskusi, jawab pertanyaan. Tentang kuliah, karir, tanggung jawab orang dewasa, hal-hal yang sering bikin mereka bingung.

Ada tiga alasan kenapa saya masih melakukan ini setelah bertahun-tahun.


1) Saya ingin “menebus” masa lalu saya

Waktu saya mahasiswa atau fresh graduate, saya nggak punya abang-abangan yang bisa ditanya.

Saya bingung kuliah gimana, kerja gimana. Akhirnya lari S2 juga waktu itu, dan jujur: banyak simpang siur. Saya jalan, tapi nggak selalu ngerti “kenapa saya pilih ini”.

Nah, sekarang ada kesempatan baik: ada orang-orang muda yang datang untuk belajar, datang untuk cari pengalaman. Ya saya ajarin aja sebisanya.

Saya mungkin nggak bisa mengubah masa lalu saya. Tapi saya bisa ngasih insight buat masa depan mereka—biar mereka nggak terlalu banyak muter tanpa kompas.


2) Saya senang kalau waktu saya jadi manfaat

Part yang paling penting bagi hidup saya adalah berbagi manfaat.

Kadang bentuknya cuma jawaban pertanyaan. Kadang cuma sharing cerita. Tapi nyatanya, banyak hal yang dulu saya cari jawabannya sendirian, sekarang bisa saya jawabkan dari pengalaman saya sendiri.

Dan anehnya, itu balik lagi ke saya: saya merasa hidup saya lebih “berarti” ketika ada nilai manfaatnya untuk orang lain.

Kalau saya pulang kerja dengan perasaan capek tapi bermanfaat, itu capek yang enak.


3) Saya pengen mereka punya pengalaman magang yang bisa diingat

Saya pengen anak magang punya kesan baik.

Saya pernah dengar cerita magang yang isinya bikin kopi, fotokopi, atau ngerjain hal-hal yang bikin orang merasa “saya numpang lewat doang”.

Saya nggak mau itu kejadian di tempat kami.

Kalau mereka nanti sukses di mana pun, minimal mereka ingat: “saya pernah magang di sini, saya pernah dibantu tumbuh.” Itu bisa jadi relasi yang long lasting.

Dan jujur aja, ini juga ada manfaat strategisnya:

Apalagi anak magang biasanya pertanyaannya banyak, dan justru itu yang bikin sesi sharing jadi seru. Kalau sama karyawan, kadang mereka segan nanya hal-hal tertentu karena ketemu tiap hari. Tapi anak magang? pertanyaannya bisa random, bisa tajam, bisa bikin saya mikir ulang.

Dan saya merasa penting juga: generasi mereka hidup di dunia yang beda. Cara pikir mereka beda. Kalau saya mau tetap relevan, saya harus sering dengar cara mereka memandang hidup.


Penutup

Jadi ya, walaupun saya CEO, ngobrol sama anak magang itu buat saya menyenangkan.

Ada sisi “menebus masa lalu”, ada sisi “berbagi manfaat”, dan ada sisi “membangun pengalaman magang yang bermakna”—yang ujungnya juga bikin perusahaan punya relasi dan talent pool yang lebih kuat.

So, itu catatan hari ini.

Sampai jumpa besok.

Exit mobile version