Sehari ke-40. Hari ini saya bantuin ngecek pekerjaan dokumen bisdek.
Dan ya, ini tipe kerjaan yang biasanya selalu memunculkan komentar yang sama: “Mas Ben perfeksionis ya?” atau “Ini ngurusin hal-hal sepele ya?”
Padahal buat saya sederhana: sesuatu yang nggak tepat ya tetap nggak tepat—walaupun buat sebagian orang “nggak kelihatan”.
Dari ngecek dokumen anak-anak hari ini, ada tiga pembelajaran yang saya catat.
1) Typing dan typo itu kelihatan banget (walaupun orang bilang nggak kelihatan)
Yang pertama sesimpel typing dan typo.
Salah huruf kapital, salah huruf kecil, salah titik-koma, salah nulis kata, kalimat tanpa subjek-predikat-objek (isinya keterangan-keterangan-keterangan), atau bahkan memulai kalimat tanpa huruf kapital.
Ini basic. Tapi begitu dibaca, rasanya langsung: “kok nggak rapi ya?”
Apalagi yang visual: misalnya satu bagian harusnya deskripsi, tapi ada yang tiga baris penuh, ada yang cuma sebaris nanggung. Isinya mungkin benar, tapi tampilan bikin pesan jadi terasa nggak serius.
Dan saya selalu ingat: manusia itu wajar salah. Ini kerjaan manusia, bukan kerjaan mesin yang selalu mulus.
Justru karena manusia wajar salah, dokumen harus punya proses rapi: dicek sebelum dikirim.
2) Istilah yang berubah-ubah bikin pembaca capek (dan bisa salah paham)
Yang kedua: tidak konsisten memakai kata dan istilah.
Ini yang paling sering saya temui. Kadang kerasa banget kayak dokumen ini ditulis tiga-empat orang, lalu digabung jadi satu tanpa diseragamkan.
Contohnya:
- menyebut “kita” kadang “kami”, kadang “LindungiHutan”, kadang “perusahaan”,
- menyebut pembaca kadang “Anda”, kadang “Bapak/Ibu”, kadang “partner”,
- menyebut produk, program, atau model bisnis pakai istilah yang ganti-ganti.
Padahal menuju satu hal yang sama.
Ini bikin nggak nyaman, dan yang lebih bahaya: bikin orang salah tangkap. Karena pembaca ketemu tiga istilah berbeda, lalu mikir itu tiga hal berbeda juga.
Sementara yang kita maksud satu.
3) Gaya bahasa itu harus dipilih: kita lagi menjelaskan, menjual, atau menyampaikan informasi?
Yang ketiga menurut saya levelnya lebih “dalam”: gaya bahasa.
Kadang typo sudah beres, istilah sudah konsisten, tapi dokumen masih terasa “nggak nendang” karena kita belum jelas: ini dokumen tujuannya apa?
Apakah kita:
- sedang perkenalan,
- sedang menjelaskan,
- sedang menyampaikan informasi,
- atau sedang menawarkan / menjual?
Karena beda tujuan, beda gaya tulisannya.
Kalau kita mau jualan, fokusnya value, fitur utama, manfaat, dan alasan orang harus memilih kita.
Kalau kita mau menjelaskan, fokusnya definisi, konteks, dan struktur logika.
Kalau kita mau informatif, fokusnya ringkas, jelas, dan tidak terlalu “marketing”.
Jadi dokumen itu bukan cuma “bener secara isi”, tapi juga harus tepat cara menyampaikannya.
Penutup
Hari ini saya juga keinget: zaman sekarang kita sudah dimudahkan dengan teknologi. Ada ChatGPT, ada AI, yang bisa bantu merapikan:
- ngecek typo,
- merapikan kalimat,
- menyamakan istilah,
- bahkan bantu menyesuaikan gaya bahasa.
Tapi tetap, AI itu alat. Kalau prompt-nya beda-beda dan dikerjakan masing-masing, output-nya juga bisa beda-beda. Ujungnya tetap perlu satu proses akhir: uji konsistensi.
Karena manusia pasti ada salah, lupa, skip.
Teknologi harusnya membantu merapikan itu—bukan menggantikan tanggung jawab kita untuk ngecek.
So, itu catatan hari ini.
Sampai jumpa besok.