Ben Robani Blog

Hari 4: Tiga Pelajaran dari Nonton MasterChef

Weekend begini, liburan saya sering saya isi dengan satu hobi yang konsisten dari dulu: nonton kompetisi. Entah kompetisi apa pun, saya suka aja ngeliat orang diuji, ditekan waktu, dikasih tantangan aneh-aneh, lalu kita lihat siapa yang tetap tenang dan siapa yang berantakan.

Hari ini saya nonton MasterChef Indonesia (season terbaru). Dan anehnya, di antara hiburan, saya malah nemu tiga pelajaran yang rasanya bisa dipakai buat hidup sehari-hari—termasuk buat kerja dan kebiasaan kecil kayak nulis tiap hari ini.

1) Jangan Datang ke “Master”, Kalau Cuma Jago Satu Hal

Yang bikin saya heran: banyak peserta bilang pengen jadi pemenang, bilang seneng masak, tapi cara mereka ngomong sering kayak gini:

Padahal… namanya MasterChef. Kalau pesertanya 25 orang, artinya kamu bakal diuji berkali-kali. Kalau kamu ngikutin season-season sebelumnya, kita semua tahu tantangannya nggak mungkin cuma “zona nyaman” peserta.

Jadi logikanya sederhana:
Kalau kamu tahu kamu masuk lomba yang spektrumnya luas, minimal persiapkan diri untuk spektrum itu.

Bukan berarti harus jadi ahli di semua hal sejak hari pertama. Tapi setidaknya paham “medannya” dan nggak datang dengan mental: pokoknya saya jago yang ini, sisanya nanti aja.

Pelajaran hidupnya:
Kadang kita pengen jadi “pemenang” di sesuatu, tapi persiapannya cuma untuk bagian yang kita suka. Padahal tantangannya menguji paket lengkap.

2) Di Team Challenge: Jangan Numpang Menang, Jangan Lempar Kalah

Pelajaran kedua muncul setiap kali ada challenge tim.

Ada pola yang sering kejadian: beberapa orang langsung “ngecil” duluan. Merasa nggak jago. Lalu pasrah. Akhirnya bergantung pada satu-dua orang yang dianggap paling bisa.

Masalahnya begini:

Padahal… dia juga bagian dari timnya.

Menurut saya, ini mental yang harusnya dibongkar:
Dalam tim, tanggung jawabnya bukan cuma “yang jago”. Tanggung jawabnya semua orang: ambil peran, sekecil apa pun. Kalau belum bisa, cari cara kontribusi. Kalau belum paham, tanya. Kalau skill kurang, pegang bagian yang bisa diselamatkan.

Karena prinsip tim itu simpel:
Kalau berhasil = pencapaian bersama. Kalau gagal = evaluasi bersama.
Bukan saling menyalahkan.

3) “Pakai Logika” dan “Kuatkan Dasar”

Pelajaran ketiga datang dari sosok juri baru (kalau nggak salah saya dengar namanya Seth Norman—pokoknya juri baru di season ini). Awalnya saya kira tipenya bakal lebih kalem, tapi ternyata sering “naik” juga karena banyak peserta datang ke meja juri dengan masakan yang terasa… seadanya. Kayak belum dicoba, belum dipikir, atau belum benar-benar paham apa yang sedang mereka kerjakan.

Saya nangkep satu benang merah dari komentar beliau:

Dan ini menurut saya penting banget.

Kita bisa aja menghadapi masalah baru, tantangan baru, situasi yang belum pernah kita pelajari. Itu wajar. Hidup memang begitu—selalu ada hal pertama.

Tapi ketika belum pernah nyoba, belum pernah tahu, belum pernah punya pengalaman… minimal:

  1. pakai logika, dan
  2. jangan tinggalkan dasar.

Karena basic itu bukan cuma teori. Basic itu pegangan saat kita panik.

Di dunia kerja juga sama: tools bisa berubah, tren bisa berubah, strategi bisa berubah. Tapi kalau dasar berpikirnya rapuh, setiap challenge baru akan bikin kita “ngarang”.


Hari ini liburan di rumah, tapi saya pulang dengan tiga catatan:

  1. Kalau mau menang di permainan besar, jangan cuma siap di satu menu.
  2. Dalam tim, jangan numpang menang dan lempar kalah.
  3. Saat menghadapi hal baru, logika + basic itu penyelamat.

Besok lanjut lagi.

Yow. Bismillah.

Exit mobile version