Selah hari ini 36, saya sudah kembali kerja setelah cuti.
Hari ini dipenuhi meeting-meeting. Ada meeting buat nge-review kerjaan, ada diskusi soal progres, dan ada obrolan yang kelihatannya sederhana tapi ternyata penting: jenis-jenis pekerjaan.
Karena ketika kita kerja kolektif—banyak orang, banyak tim—kerjaan itu memang bertipe macam-macam. Dan sering kali problem bukan “nggak ada kerjaan”, tapi kita nggak sadar kita sedang ada di tipe yang mana, lalu respons kita jadi salah.
Dari diskusi hari ini, saya kepikiran ada tiga tipe kerjaan yang umum banget.
1) Kerjaan lintas tim: harus jelas siapa kliennya, tujuannya, dan resource-nya
Ini tipe kerjaan yang melibatkan multi-divisi atau multi-tim.
Datangnya bisa karena:
- ada request,
- diajakin kolaborasi,
- atau ada kebutuhan yang nggak bisa jalan tanpa diakomodir tim lain.
Yang bikin tipe ini sering drama itu bukan karena orangnya nggak mau bantu. Tapi karena dari awal sering nggak jelas:
- ini sebenarnya “kliennya” siapa,
- tujuannya apa,
- siapa ngasih apa,
- resource yang di-sharing apa,
- dan siapa yang pegang keputusan terakhir.
Karena kalau tujuan mau dicapai bareng-bareng, ya tidak bisa tidak: harus ada penyamaan persepsi. Kalau nggak, yang terjadi adalah saling tunggu.
2) Kerjaan BAU: tetap bisa maju meski tidak ada request
Kalau ternyata kepentingan kita belum bisa diakomodir, masih ada tipe kerja kedua yang harusnya menyelamatkan: kerjaan yang tidak menunggu tim lain.
Ini yang saya sebut BAU (daily work) — hal-hal yang bisa terus dikerjakan karena memang itu tanggung jawab role kita:
- analisis,
- bikin draft,
- bikin planning,
- bikin efisiensi,
- rapihin data,
- bikin dokumentasi,
- dan lain sebagainya.
Intinya: kita ini di-hire bukan untuk nunggu request doang. Harus selalu ada hal yang bisa kita kerjakan untuk bikin sistemnya lebih rapi atau hasilnya lebih siap.
BAU itu kelihatannya kecil, tapi kalau dikumpulin, dia yang bikin tim nggak gampang panik ketika pekerjaan lintas tim lagi macet.
3) Kalau lintas tim mentok + BAU mentok: saatnya eskalasi
Nah ini tipe ketiga—yang paling sering dihindari orang karena “nggak enak”.
Kalau:
- kerja bareng tim lain nggak dapat,
- kerjaan rutin sendiri juga mentok,
tapi kita tetap on payroll… ya kita nganggur di dalam ekosistem itu.
Dan ini bahaya, karena ujungnya jadi makan gaji buta. Padahal kita nggak mau jadi orang yang “sekadar nunggu”. Kita bukan waiters.
Di titik ini, cara sehatnya adalah menghadap atasan / orang yang punya tanggung jawab lebih, bukan untuk ngadu, tapi untuk re-check:
- sebenarnya peran kita di struktur itu apa,
- deliverable kita apa,
- dan apa yang harus disesuaikan supaya kita bisa tetap punya kontribusi yang jelas.
Kadang masalahnya bukan orangnya nggak mau kerja. Kadang masalahnya sistemnya belum jelas ngasih kerjaan yang tepat untuk role itu.
Penutup
Hari ini saya belajar lagi: kerjaan itu ada tipenya. Dan ketika kita tahu tipenya, kita jadi tahu langkahnya:
- kalau lintas tim: rapihin tujuan, klien, dan resource,
- kalau BAU: tetap jalan tanpa nunggu orang,
- kalau mentok semua: eskalasi, cek struktur, cek peran.
Biar kita tetap punya kontribusi. Biar kita nggak kebanyakan nunggu.
Sampai jumpa besok.